Dark/Light Mode

Pancasila Pemersatu Bangsa Lawan Intoleransi dan Ekstremisme

Kamis, 3 Oktober 2024 23:29 WIB
Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI) dan Ketua Tanfidziyah PBNU Alissa Wahid (Foto: Istimewa)
Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI) dan Ketua Tanfidziyah PBNU Alissa Wahid (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari Kesaktian Pancasila, yang digelar pada 1 Oktober lalu, kembali mengingatkan semua akan posisinya sebagai pemersatu bangsa di tengah ancaman intoleransi dan ekstremisme. Direktur Nasional GusDurian Network Indonesia (GNI) dan Ketua Tanfidziyah PBNU Alissa Wahid menekankan pentingnya menjaga keseimbangan identitas sebagai kunci untuk menangkal fanatisme berlebihan.

Alissa menyoroti pentingnya penggunaan kerangka konstitusi dalam merespons isu-isu sensitif terkait keberagaman. Menurutnya, konstitusi menjadi ukuran yang lebih jelas dan universal dalam menyikapi keberagaman.

“Ketika kita memberikan respons atas suatu kejadian, harus ada pengukuran yang jelas dan disepakati semua pihak yang terlibat. Ruang dialog yang ada harus dioptimalkan untuk menumbuhkan toleransi dan mencegah intoleransi,” terang Alissa, di Jakarta, Rabu (2/10/2024).

Baca juga : Pertamina Patra Niaga JBB Raih Penghargaan International Asian Impact Awards 2024

Alissa mengungkapkan, seringkali masyarakat Indonesia disuguhkan dengan pemahaman beragama yang menggebu-gebu, namun kehilangan substansi sebagai sesama manusia yang ber-Tuhan. Demi meningkatkan engagement (keterlibatan) atau antusiasme para jamaahnya, beberapa tokoh agama dengan mudahnya menghembuskan narasi intoleransi, hingga ajakan kekerasan, tanpa memikirkan implikasinya terhadap bangsa dan negara.

Pemuka agama yang seperti ini, menurut Alissa, sering mengajak untuk mendahulukan semangat beragama secara berlebihan. Menurut Alissa, ajakan seperti ini sebaiknya jangan diikuti.

Ia juga mengingatkan, ada kalanya aturan negara harus diutamakan. "Kita harus cerdas dalam menempatkan diri. Jangan sampai dengan dalih menegakkan keimanan, namun sejatinya menggerus hak umat beragama di luar kelompoknya," ujar Alissa.

Baca juga : Babak Pertama, Indonesia Vs Australia Masih 0-0

Menurut Alissa, kunci untuk menghindari fanatisme berlebihan adalah dengan menjaga keseimbangan tiga identitas dalam diri setiap warga negara. Ia juga menegaskan kembali peran penting Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa yang mampu mengakomodasi keberagaman sekaligus menangkal ekstremisme. Dengan menjaga keseimbangan antara identitas agama, kewarganegaraan, dan kemanusiaan, diharapkan masyarakat Indonesia dapat terus membangun toleransi dan menghindari fanatisme berlebihan yang dapat mengancam persatuan bangsa.
Alissa kembali menegaskan, tindakan ekstremisme itu tidak terkait dengan agama tertentu. Menurutnya, kekerasan berbasis agama, jika ingin melihatnya dengan lebih komprehensif, akan sampai pada kesimpulan bahwa agama mayoritas dari suatu wilayah atau negara akan cenderung lebih banyak melakukan kekerasan mengatasnamakan agamanya.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga terjadi di negara seperti Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, ataupun India yang kebanyakan penduduknya beragama Hindu. Baik Myanmar maupun India terdapat banyak kasus kekerasan yang dilakukan kelompok agama mayoritasnya.

Alissa berharap, agar semua pihak, khususnya para pemuka agama di Indonesia, baik yang minoritas maupun mayoritas, memprioritaskan pemahaman moderasi beragama di lingkungannya masing-masing. Hal ini ditujukan agar seluruh kelompok beragama tidak gagap dalam menyikapi perbedaan agama, sehingga masyarakat Indonesia secara keseluruhan lebih resisten terhadap upaya polarisasi yang justru menguntungkan kelompok tertentu.

Baca juga : Persija Banggakan Aksi 3 Pemain Persija Di Timnas

“Kalau mengutip pesan dari Mahatma Gandhi, ‘an eye for an eye will make the world blind.’ Jika orientasi kita ketika berkonflik dengan suatu pihak atau kelompok tertentu dengan saling melukai dan membalas keburukan dengan keburukan, maka penderitaan yang dialami oleh semua pihak yang terlibat tidak akan pernah selesai,” pungkas Alissa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.