Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Survei Baru Cloudflare: 87 Persen Pemimpin Keamanan Siber Khawatir dengan AI
Jumat, 11 Oktober 2024 23:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Cloudflare, Inc. (NYSE: NET), perusahaan cloud konektivitas terkemuka, merilis studi baru yang berfokus pada keamanan siber di Asia Pasifik. Laporan yang berjudul “Navigating the New Security Landscape: Asia Pacific Cybersecurity Readiness Survey” ini membagikan data terbaru tentang kesiapan keamanan siber. Hasilnya, mengungkapkan bagaimana organisasi menghadapi ransomware, pelanggaran data, dan kompleksitas yang disebabkan Artificial Intelligence (AI).
Pelanggaran Data Meningkat
Survei menemukan bahwa 41 persen responden di Asia Pasifik mengatakan, organisasi mereka mengalami pelanggaran data dalam 12 bulan terakhir, dengan 47 persen mengindikasikan lebih dari 10 pelanggaran data. Dari industri tersebut, yang mengalami pelanggaran data terbanyak termasuk konstruksi dan real estate (56 persen), perjalanan dan pariwisata (51 persen), serta layanan keuangan (51 persen).
Pelaku ancaman paling sering menargetkan data pelanggan (67 persen), kredensial akses pengguna (58 persen), dan data keuangan (55 persen). Selain itu, studi ini juga mengungkapkan bahwa 87 persen responden khawatir dengan AI yang meningkatkan pelanggaran data yang kian kompleks dan parah.
AI: Ubah Lanskap Ancaman
Baca juga : Pemerintah Diminta All Out Dukung Keuangan Syariah
Walaupun AI membantu dalam meningkatkan efisiensi organisasi, tidak bisa dipungkiri bahwa masih ada kekhawatiran akan penjahat siber yang berpotensi semakin memanfaatkan teknologi ini. Sebanyak 50 persen responden memperkirakan bahwa AI akan digunakan untuk membobol kata sandi atau kode enkripsi.
Selain itu, 47 persen percaya bahwa AI akan menambah serangan phishing dan rekayasa sosial, sementara 44 persen memperkirakan bahwa AI akan memperkuat serangan DDoS. Terakhir, 40 persen melihat AI berperan dalam menciptakan deepfake dan memfasilitasi terjadinya pelanggaran privasi.
Menghadapi ancaman yang terus berkembang dan beragam ini, 70 persen responden melaporkan bahwa organisasi mereka sedang menyesuaikan cara mereka beroperasi. Bidang utama yang dipengaruhi AI termasuk tata kelola dan pemenuhan regulasi (40 persen), strategi keamanan siber (39 persen), dan keterlibatan vendor (36 persen).
Baca juga : Menteri Basuki Bidik Kerja Sama Pembiayaan Infrastruktur Dengan AIIB
Pemimpin keamanan siber bersiap untuk menghadapi risiko yang didorong oleh AI, dengan setiap respondennya berharap untuk menerapkan setidaknya satu alat atau langkah keamanan terkait AI. Prioritas utama termasuk merekrut analis AI generatif (45 persen), berinvestasi dalam sistem deteksi dan respons ancaman (40 persen), serta meningkatkan sistem SIEM (40 persen). Vendor TI tetap penting, karena 66 persen responden telah mencari solusi AI dari mereka.
Ransomware tetap menjadi kekhawatiran yang terus berkembang di seluruh kawasan. Studi Cloudflare mengungkap, ada sebanyak 62 persen organisasi yang terkena ransomware membayar tebusan, meskipun 70 persen secara publik telah berjanji untuk tidak melakukannya. Secara keseluruhan, penggunaan Remote Desktop Protocol atau server VPN (47 persen) terbukti menjadi cara masuk yang paling umum digunakan oleh pelaku ancaman.
Namun, terdapat variasi signifikan di seluruh kawasan, yaitu organisasi di India (69 persen), Hong Kong (67 persen), Malaysia (50 persen), dan Indonesia (50 persen) yang paling mungkin membayar tebusan, sementara Korea Selatan (19 persen), Jepang (19 persen), dan Selandia Baru (22 persen) adalah yang paling tidak mudah menyerah pada tuntutan ransomware.
Baca juga : Survei LKPI: Faruq-Ashim Potensial Kalahkan Petahana Di Pilwalkot Tegal
“Pemimpin keamanan siber menghadapi tekanan yang semakin meningkat dari serangan siber, regulasi yang lebih ketat, dan sumber daya yang terbatas. Untuk melindungi organisasi mereka, mereka harus terus mengasah kemampuan, anggaran, dan solusi,” ujar Chief Security Officer di Cloudflare, Grant Bourzikas, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (11/10/2024).
Habiskan Waktu dan Sumber Daya
“Regulasi” dan “perjanjian” juga hadir sebagai tema penting dalam studi tahun ini. Survei menunjukkan bahwa 43 persen responden mengatakan mereka menghabiskan lebih dari 5 persen dari anggaran TI untuk memenuhi persyaratan regulasi dan perjanjian. Selain itu, 48 persen responden melaporkan menghabiskan lebih dari 10 persen dari waktu kerja mereka untuk mengikuti perkembangan persyaratan regulasi dan sertifikasi industri.
Namun, investasi dalam menerapkan regulasi ini memberikan dampak positif bagi bisnis, seperti mengoptimalkan tingkat privasi dan/atau keamanan dasar organisasi (59 persen), meningkatkan integritas teknologi dan data organisasi (57 persen), serta membangun reputasi dan brand organisasi (53 persen).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya