Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Polemik Mengenai BPA Banyak yang Keliru, Begini Penjelasan Dokter
Senin, 14 Oktober 2024 23:23 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Polemik mengenai Bisphenol-A (BPA) masih terus berlanjut. Salah satu isu yang berkembang yakni kaitan zat tersebut terhadap infertilitas. BPA disebut dapat menimbulkan infertilitas atau gangguan kesuburan pada perempuan, hingga menyebabkan mikropenis pada laki-laki.
Dokter spesialis kandungan dan kebidanan dari Tzu Chi Hospital, dr. Ervan Surya, menyatakan bahwa berdasarkan studi meta-analisis, tidak ada korelasi antara BPA dengan gangguan kesuburan. Sebuah studi meta-analisis yang dilakukan sepanjang 2013-2022 meneliti kaitan antara BPA dan fertilitas perempuan dengan melihat tiga parameter: kebutuhan akan IVF (in-vitro fertilization) atau bayi tabung, PCOS (polycystic ovarian syndrome), dan endometriosis.
“Ternyata tidak ditemukan hubungan antara BPA dengan endometriosis, IVF, dan PCOS,” kata dr. Ervan, dalam diskusi dengan tema "Meluruskan Misinformasi tentang Dampak BPA terhadap Infertilitas dan Persalinan Prematur", di Jakarta, Senin (14/10/2024)
Isu lain menyebutkan bahwa BPA bisa menyebabkan persalinan prematur. Menurutnya, hal ini juga tidak terbukti melalui studi meta-analisis terhadap 7 penelitian dengan total 3.004 partisipan.
“Ternyata kesimpulannya, tidak ada kaitan antara paparan BPA dengan usia kehamilan, panjang bayi, berat badan bayi, dan lingkar kepala bayi,” papar dr. Ervan, pada
Baca juga : Transformasi Stasiun Senen: Layani Kelas Ekonomi, Tapi Pelayanan Eksekutif
Dia menerangkan. penyebab persalinan prematur cukup beragam. Yang paling sering antara lain infeksi saluran kemih (ISK) dan infeksi vagina.
Mengenai kaitan BPA dengan infertilitas pada laki-laki, dr. Ervan menerangkan, secara in vivo (penelitian pada hewan lab) memang berkaitan. Tapi, pada manusia, tidak ditemukan keterkaitannya. Kata dia, mungkin dibutuhkan penelitian lebih lanjut.
“Hubungan antara BPA dengan mikropenis pun belum saya temukan. Mikropenis itu penyebabnya banyak. Bisa kongenital, atau gangguan perkembangan organ seksual pada janin. Jangan jadikan satu hal sebagai kambing hitamnya, kita harus lihat berbagai kemungkinan,” papar dr. Ervan.
Infertilitas bisa dialami perempuan maupun laki-laki. “Pada perempuan, masalahnya bisa terletak pada organ genitalia, dan bisa juga secara sistemik misalnya kondisi hormon yang tidak seimbang,” jelas dr. Ervan.
Infertilitas diartikan sebagai tidak terjadinya kehamilan setelah satu tahun menikah, dengan hubungan seksual rutin 2-3 kali seminggu, dan tanpa kontrasepsi. “Pada perempuan, penyebab infertilitas 40 persen gangguan pada tuba fallopi dan panggul, 40 persen lagi disfungsi ovulasi, dan 10 persen yang tidak biasa misalnya autoimun,” papar dr. Ervan.
Baca juga : Jokowi: Jangan Sampai Ada Riak Yang Ganggu Keamanan Negara
Pada laki-laki, lanjutnya, infertilitas berhubungan dengan gangguan sperma. Kualitas dan kuantitas sperma bisa terganggu karena pelebaran pembuluh darah atau varises pada testis (varikokel). “Bisa pula karena ada gangguan pada pabrik sperma, dan disfungsi seksual,” papar dr. Ervan.
Ia menegaskan, yang telah terbukti bisa memicu infertilitas adalah rokok dan alkohol. “Kausalitas antara rokok dan infertilitas sudah jelas, tapi banyak yang tetap merokok. Sedangkan pada BPA yang belum pasti, kita malah ketakutan,” imbuhnya.
Cermat Sikapi Isu
Arus informasi yang begitu deras tak jarang membuat masyarakat tenggelam dalam misinformasi. Penelitian yang dilakukan MIT menemukan, konten negatif lebih cepat menyebar dibandingkan konten positif, walaupun produksi konten positif lebih banyak.
“Konten negatif membangunkan kewaspadaan dalam diri kita, apalagi bila menyentuh emosi. Orang ingin menjadi ‘pahlawan’ dengan membagikan konten tersebut ke orang-orang terdekat agar mereka tahu. Niatnya tidak jahat,” tutur pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati.
Devie menuturkan, penyebaran misinformasi terkadang tanpa disadari dan disebabkan oleh 5P yaitu pahlawan, pengetahuan dan pengalaman lemah, pergaulan terdekat, personalitas, dan platform. “Bila kita punya pengetahuan dan pengalaman, misinformasi tidak gampang merasuk. Sebaliknya bila tidak ada, kita akan mudah terpeleset informasi yang tidak jelas,” ungkap Devie.
Baca juga : Eks Menkeu Bambang Brodjonegoro Dukung Penguatan BPKH
Ia menekankan bahayanya dampak dari misinformasi. “Bisa terjadi kebingungan, kegagalan, kebodohan, sampai konflik sosial,” tegasnya.
Lantas, bagaimana mencegah penyebaran misinformasi? Kata dia, perlu kolaborasi antara penulis, konten kreator, pesohor, platform, dan pembaca. “Ada banyak cara untuk melakukan cek fakta, ini bisa dimanfaatkan. Ruang digital bisa menjadi hal yang positif bila dimanfaatkan dengan baik,” tutup Devie.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya