Dark/Light Mode

Kecakapan Literasi Berkorelasi dengan Kemakmuran Masyarakat

Sabtu, 2 November 2024 05:20 WIB
Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca, di Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (1/11/2024). (Foto: Dok. Perpusnas)
Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca, di Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (1/11/2024). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pernyataan menarik dilontarkan Kepala Perpustakaan Universitas Siliwangi, Budi Riswandi. Kata dia, apakah bonus demografi yang dimiliki Indonesia bersifat kuantitatif atau kualitatif? Jika dinilai hanya kuantitatif, maka akan menjadi bencana. Namun, jika ingin dinilai dari kualitas maka harus melek literasi. 

"Kita masih terlalu sibuk dengan urusan jargon. Bukan esensi," ucapnya, pada Sosialisasi Pembudayaan Kegemaran Membaca, di Tasikmalaya, Jawa Barat, Jumat (1/11/2024). 

Budi mencontohkan korban-korban judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol). Kata dia, mereka bukannya tidak mampu membaca, namun tidak mampu membaca keadaannya sendiri.

Baca juga : Budi Gunawan Cerita Perkembangan Polkam Terkini Kepada Rakyat Merdeka

Literasi saat ini punyai banyak motif, tapi tetap budaya membaca yang menjadi dasarnya. Urusan soal bisa membaca, sebenarnya Indonesia sudah termasuk maju. Lain soal jika dari segi literasi, masyarakat Indonesia masih tertinggal.

Pegiat literasi Nero Taopik Abdillah menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah bahan bacaan yang kurang. Tidak banyak institusi yang concern terhadap budaya baca dan literasi. 

Deputi Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Adin Bondar, mengatakan makna kesejahteraan diangkat dalam acara ini memiliki makna multidimensional. Orang yang literat pasti berbasis ilmu pengetahuan. Kemampuan hidup yang baik harus dilandaskan pada literasi yang kuat agar mampu bersaing.

Baca juga : Kembangkan Uji Klinik di Indonesia, BPOM Bersinergi Dengan Kemenkes & BRIN

"Kualitas sumber daya manusia bisa didorong dengan perilaku membaca dan memperbanyak aksesibiltas terhadap ilmu pengetahuan. Karena kemiskinan dan stunting tidak semata-mata dinilai dari indikator ekonomi," urai Adin.

Karenanya, kata dia, dalam pembangunan ini, yang perlu dikedepankan adalah tugas perpustakaan dan taman baca masyarakat (TBM) untuk mendiseminasi pengetahuan agar dapat dijamah masyarakat, sehingga persoalan kemiskinan dan stunting dapat diantisipasi. Kecakapan literasi selalu berkorelasi dengan kemakmuran. 

"Membangun ruang-ruang baca bagi masyarakat dan memberikan pelatihan pada fasilitator daerah seperti pengelola perpustakaan dan taman bacaan adalah tugas pemerintah," tambah Adin. 

Baca juga : 14 Organisasi Islam Komit Menangkan Mas Pram-Bang Doel

Anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah, menambahkan bahwa Pemerintah wajib mengembangkan sistem nasional perpustakaan sebagai upaya mendukung sistem pendidikan nasional, menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai sumber belajar masyarakat, menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata, serta ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan, alih aksara, alih suara ke tulisan, dan alih media. 

"Apa jadinya jika kita tidak memilki perpustakaan? Dipastikan kita tidak punya masa lalu dan masa depan," tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.