Dark/Light Mode

Wawancara Khusus Dengan Gubernur Lemhannas Dr Ace Hasan Syadzily

Kita Beruntung Miliki Presiden Yang Sangat Internasionalis

Sabtu, 25 Januari 2025 08:10 WIB
Gubernur Lemhannas Dr Tubagus Ace Hasan Syadzily. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Gubernur Lemhannas Dr Tubagus Ace Hasan Syadzily. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Bagaimana harapan Presiden dari penyelenggaraan retreat kepala daerah ini?

Harapannya, pemerintah daerah bisa seiring sejalan dengan pemerintah pusat. Misalnya dalam program makan bergizi gratis, Pemerintah harus men­cari cara agar program ini dapat diwujudkan dengan dukungan berbagai pihak. Karena kalau hanya mengan­dalkan APBN, bisa jebol. Padahal, ini program yang baik dan produktif. Saya sempat meninjau saat kick off makan bergizi gratis pada 6 Januari lalu. Masyarakat sangat antusias.

Saat ini kita menghadapi tantangan serius. Kita ingin menjadi negara maju tetapi angka prevalensi stunting masih berada di 18 persen. Ini sangat meng­khawatirkan. Stunting tidak hanya ber­dampak pada kegagalan pertumbuhan fisik, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan kecerdasan. Anak yang mengalami stunting cenderung memi­liki daya tangkap yang rendah.

Jadi untuk menciptakan SDM yang unggul, program ini penting. Makan bergizi gratis tidak hanya ditujukan bagi anak-anak, tetapi juga ibu hamil dan menyusui. Ini adalah langkah yang sangat baik. Pemerintah sudah mengalokasikan Rp 71 triliun. Saya setuju program ini harus dikerjakan kolaborasi. Tugas semua pihak yang merasa bertanggung jawab pada keselamatan bangsa. Kita punya potensi untuk mewujudkan itu.

Baca juga : Pemerintah Berhasil Cegah Penyelundupan Barang Ilegal Rp 3,7 T

Terkait tugas Lemhannas dalam melakukan kajian geopolitik. Bagaima­na melihat situasi geopolitik saat ini?

Kita beruntung memiliki presiden yang sangat internasionalis. Pandan­gannya sangat strategis ke depan. Karena mungkin beliau rajin mem­baca dan sangat memperhatikan isu-isu internasional. Kami di Lemhannas tidak boleh ketinggalan. Misalnya dalam konteks Indonesia bergabung dalam kelompok multilateral BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Se­latan). Kita menemukan momentumnya saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan penerapan tarif tinggi. Kebijakan tersebut bisa membuat neraca perdagangan kita terganggu. Dengan kita masuk BRICS kepentingan ekonomi, bisa dialihkan ke negara Selatan-Selatan. Atau mungkin BRICS.

Kemudian saat ini Amerika memu­tuskan keluar dari Paris Agreement. Menurut kami dampaknya akan terasa sekali. Kita tidak bisa menyalahkan Amerika. Karena itu hak Amerika dalam rangka mem-protect kebijakan dalam negeri mereka. Namun, ini tentu perlu kajian mendalam, bagaimana dampaknya. Setiap kajian yang kita buat, ditujukan untuk mendukung per­tumbuhan ekonomi nasional. Target 8 persen, tentu tidak mudah.

Bagaimana agenda kerja Lemha­nas yang dikerjakan dalam waktu dekat ini? Dan mengingat isu-isu mutakhir yang terjadi di dunia, apa kah ada perubahan kurikulum dalam pengajarannya?

Baca juga : Kader Gerindra Wajib Tuntaskan Janji Prabowo

Kami melajukan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) 68. Program ini diikuti 100 peserta dari dalam negeri. Dan 10 peserta dari negara sahabat. Seperti Singapura Malaysia, Arab, Jordania. Ini bagian dari diplomasi militer juga. Program ini akan berjalan selama 7 bulan. Materinya bukan hanya berkaitan tentang kemiliteran tapi juga terkait Astagatra. Kami juga rencananya memasukkan isu-isu baru seperti pe­rubahan iklim, kecerdasan buatan (AI) dan geopolitik yang paling mutakhir.

Kami juga akan menggelar Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) 25 pada April-Mei. Pesertanya berasal dari TNI, Polri dan instansi pemerintah­an. Biasanya peserta TNI Polri yang pangkatnya sudah berbintang. Kalau ASN adalah eselon 1, atau guru besar.

Kami juga mendapat mandat untuk meningkatkan kapasitas pemimpin dae­rah. Daerah yang menghadapi banyak tantangan, akan diberikan semacam pelatihan. Terutama terkait pelayanan dasar, semisal pendidikan, kesehatan dan layanan publik. Akan kami gelar September, seminggu pendidikan di sini. Lalu diajak ke Singapura. Kita bekerja sama dengan Nasional Uni­versity of Singapore (NUS).

Kita ajak para kepala daerah ini belajar bagaimana pengelolaan layanan publik. Termasuk mengelola pelabuhan, pariwisata, dan lain-lain. Sepulang dari sana, kita akan minta mereka membuat program prioritas di daerahnya.

Baca juga : Peserta Dan Non Peserta BPJS Bisa Skrining Kesehatan Gratis

Kami ingin memanfaatkan momen­tum sebagai jembatan menuju Indo­nesia Emas 2045. Jangan sampai kita salah mengelola, karena taruhannya adalah bangsa kita, mau jadi negara maju atau negara gagal. [BCG]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.