Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Ini Lho 4 Penyebab Utama Banjir Jabodetabek, BRIN Sudah Siapkan Solusi Inovatif
Sabtu, 8 Maret 2025 16:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Banjir yang terus berulang di kawasan Jabodetabek bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang memperburuk kondisi.
Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yus Budiono, mengungkapkan bahwa ada empat faktor utama pemicu banjir di wilayah ini, yakni penurunan muka tanah, perubahan tata guna lahan, kenaikan muka air laut, serta fenomena cuaca ekstrem.
“Dari hasil riset kami, penyebab utama meningkatnya risiko banjir di Jabodetabek adalah penurunan muka tanah, yang berkontribusi hingga 145 persen terhadap peningkatan risiko banjir,” kata Yus dalam talkshow yang disiarkan di kanal YouTube BRIN Indonesia, Jumat (07/03).
Ia menambahkan bahwa perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali meningkatkan risiko banjir hingga 12 persen, sedangkan kenaikan muka air laut hanya berdampak sekitar 3 persen.
Menurut Yus, tren kejadian banjir di Jabodetabek dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan intensitas peristiwa ekstrem.
“Perubahan iklim global menyebabkan lebih banyak hujan ekstrem, seperti yang terjadi pada 1 Januari 2020 dan akhir Januari 2025, ketika curah hujan mencapai lebih dari 300 mm, jauh di atas normal,” jelasnya.
Baca juga : Atasi Banjir Jabodetabek-Punjur, Menteri Nusron Akan Tertibkan Tata Ruang
Ia juga membagi banjir di Jabodetabek ke dalam tiga kategori utama, yakni banjir akibat hujan lokal (torrential rain flood), banjir akibat luapan sungai (fluvial flood), dan banjir akibat pasang laut (coastal flood).
“Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu lebih dominan sebagai fluvial flood, di mana hujan terjadi lebih intens di bagian hulu dan menyebabkan luapan air di sungai-sungai besar,” terangnya.
Perubahan Tata Guna Lahan Memperburuk Banjir
Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Luki Subehi, menekankan bahwa banjir di Jabodetabek tidak hanya disebabkan oleh hujan deras, tetapi juga oleh perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali serta buruknya pengelolaan sumber daya air.
Menurutnya, pengurangan luas hutan dan daerah resapan air di wilayah hulu, khususnya di sepanjang Sungai Bekasi dan Ciliwung, menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya aliran air permukaan yang berujung pada banjir.
Ia mencontohkan, banjir yang hampir setiap tahun melanda Bekasi terjadi karena daerah hulu sungai tidak mampu menyerap air secara maksimal, sementara di hilir telah dipenuhi permukiman padat.
Baca juga : Peneliti BRIN Ungkap Faktor Penyebab Banjir Jabodetabek & Solusinya
Selain itu, sistem drainase yang tidak memadai turut memperparah kondisi. Banyak sistem drainase di Jabodetabek masih menggunakan perhitungan lama, tanpa memperhitungkan peningkatan hujan ekstrem akibat perubahan iklim.
“Pembangunan kawasan permukiman baru sering kali tidak diiringi dengan sistem drainase yang memadai, sehingga limpasan air hujan tidak dapat tertampung dengan baik,” kata Luki.
Ia menekankan perlunya pengerukan sungai dan saluran air sebelum musim hujan tiba untuk meningkatkan kapasitas aliran air. “Di beberapa negara seperti Belanda, konsep ‘Room for Water’ diterapkan dengan menyediakan kolam-kolam penampungan air di sekitar sungai. Namun, di beberapa wilayah Jabodetabek, yang ada justru ‘Room for People’, di mana banyak pemukiman dibangun di sekitar sungai,” ujarnya.
Guna mengatasi permasalahan banjir, BRIN telah melakukan berbagai riset dan inovasi, termasuk pengembangan sistem informasi danau, model peringatan dini berbasis kecerdasan buatan (AI), serta pemetaan daerah rawan banjir dengan pendekatan polder system.
“Saat ini kami sedang mengembangkan sistem informasi danau, yang meskipun masih fokus pada danau prioritas, nantinya bisa diterapkan untuk memetakan setu-setu kecil di Jakarta yang berperan sebagai tempat penampungan air sementara,” ungkap Yus Budiono.
Sistem peringatan dini juga menjadi aspek penting dalam mitigasi banjir. BRIN bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Bristol University di Inggris, untuk mengembangkan sistem prediksi berbasis AI dan data real-time. Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi prediksi banjir dan memberikan peringatan lebih cepat kepada masyarakat.
Dalam jangka panjang, Yus menekankan pentingnya penerapan sistem polder seperti yang telah diterapkan di Belanda. “Saat ini Jakarta sudah merancang 66 sistem polder dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 2030, yang diharapkan dapat mengelola banjir dengan lebih baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya penghentian eksploitasi air tanah, yang menjadi penyebab utama penurunan muka tanah dan memperparah risiko banjir.
Sebagai langkah konkret, ia mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam mitigasi banjir dengan cara sederhana, seperti menanam pohon di sekitar rumah. “Setiap pohon yang ditanam bisa membantu mengurangi limpasan air hujan dan memperlambat aliran air menuju drainase. Jika setiap rumah menanam satu pohon saja, dampaknya bisa signifikan dalam mengurangi risiko banjir,” tegasnya.
Sebagai penutup, Yus berharap adanya dukungan yang lebih kuat terhadap riset dan inovasi dalam mitigasi banjir. “Kita sudah memiliki banyak solusi berbasis sains, tetapi implementasinya masih terkendala berbagai faktor, termasuk pendanaan. Jika riset dan teknologi bisa diterapkan dengan baik, maka masalah banjir di Jabodetabek bisa dikurangi secara signifikan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya