Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Waspada, Upaya Segregasi Masyarakat Lewat Narasi Perang Akhir Zaman
Kamis, 15 Mei 2025 13:34 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perang India-Pakistan turut ramai dibahas di dalam negeri. Bahkan, ada yang menjadikan peristiwa tersebut seolah “nubuat” bahwa umat Islam Pakistan akan berperang dengan orang-orang Hindu India di akhir zaman.
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Prof Didin Nurul Rosidin menilai, dalam konteks konflik India-Pakistan, narasi “perang akhir zaman” tidak hanya keliru secara historis, tetapi juga berbahaya secara sosial dan politik. Apocalyptic framing seperti ini memberi gambaran seolah-olah pertikaian berskala lokal antara kedua adalah bagian dari skenario eskatologis global. Padahal, akar konflik itu jauh lebih kompleks dan spesifik secara sejarah dan geopolitik.
“Narasi semacam ini cenderung menimbulkan polarisasi tajam, memicu radikalisasi, dan menggerus upaya perdamaian serta diplomasi yang sejatinya sangat diperlukan untuk menghindari eskalasi militer, bahkan nuklir, di kawasan Asia Selatan,” ulas Prof Didin.
Baca juga : Perayaan Waisak, Prabowo Ajak Masyarakat Rawat Kebhinekaan & Kedamaian
Dia menyimpulkan, penggunaan retorika akhir zaman hanya akan memperkuat false moral clarity atau keyakinan bahwa kekerasan adalah satu-satunya jalan benar, yang sering dieksploitasi oleh kelompok ekstremis untuk merekrut anggota baru. Dalam konteks India-Pakistan, apocalyptic framing juga meningkatkan risiko tindakan kekerasan spontan (lone wolf) karena individu yang termakan narasi merasa mendapatkan “panggilan Ilahi” untuk beraksi sebelum akhir zaman tiba.
Prof Didin menyampaikan, narasi perang akhir zaman yang ditautkan pada konflik India-Pakistan jelas salah alamat dan mencederai semangat pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Faktanya, kemerdekaan Indonesia adalah buah perjuangan seluruh elemen bangsa, terlepas dari suku, ras, golongan, ataupun agamanya.
“Kalau kita bicara dari Sabang sampai Merauke, itu adalah bicara tentang keanekaragaman yang kemudian disimbolkan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Kunci Bhinneka Tunggal Ika adalah pengakuan akan realitas historis, sosiologis, plus antropologis yang ada di Indonesia. Indonesia dibangun oleh keanekaragaman, tidak hanya budaya tetapi juga keimanan,” terang Prof Didin.
Baca juga : BNN: Jual Narkoba Bukan Solusi Atasi Kemiskinan
Dia pun mengkritik pihak-pihak yang menyamakan kondisi Indonesia dengan konflik India-Pakistan. Prof Didin menegaskan, peristiwa-peristiwa historis dari masing-masing bangsa dan negara terlalu rumit dan unik jika harus dipandang sama rata.
Prof Didin lalu mencontohkan bagaimana kolaborasi antariman dalam sejarah Indonesia. Misalnya, peristiwa Sumpah Pemuda, yang dalam penyusunannya tidak hanya melibatkan satu keimanan, tetapi lintas keimanan. Para hadirin dalam peristiwa Sumpah Pemuda punya visi dan misi yang sama tentang bagaimana Indonesia lepas dari belenggu penjajahan.
“Fakta sejarah lain yang mungkin bisa kita rujuk adalah bagaimana kolaborasi lintas iman pada saat kemerdekaan dan perang revolusi,” imbuhnya.
Baca juga : Sosialisasi Empat Pilar, Irawan Ajak Masyarakat Terus Perkuat Nilai Kebangsaan
Prof Didin menambahkan, penafsiran agama sebenarnya seringkali tidak membahas soal rasionalitas semata, melainkan kemampuan orang atau kelompok mencerna teks-teks agama melalui kemampuan kognitifnya. Hal ini dijelaskan dengan kaidah addinu huwal aqlu, bahwa agama itu adalah akal. Artinya, memahami agama memang memahami secara kognitif.
“Jika kita mampu memahami secara kognitif, baru kemudian masuk tingkatan yang dibahasakan Ibn Arabi sebagai level mahabbah, artinya cinta. Kalau cinta berdasarkan agama, seharusnya juga cinta terhadap sesama manusia,” ujar Prof Didin.
Prof Didin mengajak masyarakat Indonesia untuk memahami bahwa hakikat manusia adalah sebagai hamba yang lemah di hadapan Yang Maha Kuasa. Di sisi yang lain, manifestasi dari menghamba kepada Tuhan adalah menghormati, mencintai, melestarikan, serta memelihara semua makhluk-Nya, termasuk sesama manusia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya