Dark/Light Mode

Dekat Wisata Sanur, Tokoh Adat Minta Pembangunan FSRU Sidakarya Dikaji Lagi

Selasa, 20 Mei 2025 19:29 WIB
Wisata Sanur. (Foto: IG Pesona Indonesia)
Wisata Sanur. (Foto: IG Pesona Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Masyarakat adat meminta rencana pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Sidakarya Denpasar dikaji lebih matang dampak ekologis dan sosialnya.

Bendesa Adat Serangan, I Nyoman Gede Pariatha mengatakan, lokasi pembangunan FSRU Sidakarya yang hanya berjarak 500 meter dari garis pantai dinilai membawa potensi risiko besar terhadap keselamatan masyarakat, lingkungan, dan keberlanjutan pariwisata Bali. Terlebih lagi lokasi tersebut sangat dekat dengan kawasan padat penduduk, destinasi wisata Pantai Sanur, dan Pulau Serangan.

Selain itu, kata dia, lokasi yang dipilih juga hanya memiliki kedalaman berkisar 6-8 meter, sehingga diperlukan pengerukan besar-besaran hingga 15 meter untuk mencapai kedalaman ideal sekitar 23 meter seperti FSRU Lampung. Dikhawatirkan dampak dari pengerukan besar-besaran tersebut akan merusak habitat laut, meningkatkan kekeruhan, sedimentasi, serta mengganggu biota laut dan ekosistem mangrove di Taman Tahura Ngurah Rai. 

Baca juga : Anggota Dewan 4 Periode Tolak Kebijakan Satu Pintu Pimpinan DPRD Jakarta

Penempatan FSRU berdekatan dengan daratan sangat membahayakan. Banyak terdapat kawasan suci di pesisir, pun juga kawasan pariwisata sekitar seperti Sanur akan terdampak.

Karena itu, Nyoman meminta rencana proyek ini dilakukan kajian lebih lengkap terhadap dampak ekologis dan sosial di wilayah pesisir Bali Selatan, mengingat rencana proyek ini dibangun sangat dekat dengan wilayah desa adatnya.

“Dalam pertemuan di Hotel Mercure di Sanur, kita diajak membahas tentang amdalnya. Salah satu yang tidak tertuang adalah soal kajian pariwisata dimana kalau kita lihat dari aspek geografis, bahwa pembangunan LNG sangat dekat palemahan Desa Adat Serangan,” ungkapnya saat dikonfirmasi wartawan dari Jakarta, Selasa (20/5/2025).

Baca juga : Jaga Kejaksaan, TNI AD Minta Tidak Dicurigai

Nyoman menegaskan masyarakat, nelayan dan pekerja pariwisata di kawasan tersebut tentu akan terdampak jika tidak dikaji secara matang. Ia berharap hal ini perlu diperhatikan agar pengaturan wilayah laut berjalan lancar, nyaman dan tidak merugikan. “Yang menjadi usulan kami tentu harus jelas persoalan dampaknya, karena mengingat investasi besar LNG di kemudian hari bisa timbul berbagai masalah,” tegasnya.

Sebelumnya penolakan yang sama juga disuarakan oleh Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) yang menilai rencana pembangunan FSRU Sidakarya akan membawa dampak visual dan polusi cahaya yang ditimbulkan oleh keberadaan kapal FSRU berukuran raksasa (290–300 meter panjangnya) yang harus dinyalakan terang pada malam hari untuk navigasi, mengganggu pemandangan dan kenyamanan warga. 

Sebagai perbandingan, FSRU di lokasi lain seperti Lampung, Teluk Jakarta, dan OLT Toscana Italia ditempatkan jauh dari garis pantai-antara 12 hingga 22 km-untuk meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.