Dark/Light Mode

Sosok Istri KH. Ahmad Dahlan Kembali Diangkat

Tika Bravani Perankan Monolog Siti Walidah

Selasa, 20 Mei 2025 21:16 WIB
Konferensi pers monolog berjudul Aku Yang Tak Kehilangan Suara garapan kelompok seni Regina Art. di South Quarter, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2025). Foto: Istimewa
Konferensi pers monolog berjudul Aku Yang Tak Kehilangan Suara garapan kelompok seni Regina Art. di South Quarter, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2025). Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Aktris Tika Bravani bersyukur dipercaya memerankan Siti Walidah, istri pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan melalui pertunjukan monolog berjudul “Aku Yang Tak Kehilangan Suara” garapan kelompok seni Regina Art. Baginya, ini bukan hanya tentang sejarah.

“Saya merinding ketika membaca naskahnya. Ini bukan hanya tentang sejarah, tapi tentang suara seorang perempuan yang harus terus didengar,” ujar Tika saat konferensi pers di South Quarter, Jakarta Selatan, Selasa (20/5/2025).

Tika Bravani sebelumnya memerankan Siti Walidah dalam film “Nyai Ahmad Dahlan” (2017). Aktris cantik ini berupaya menghidupkan sosok ini di atas panggung.

Tika membawa karakter Siti Walidah menghadirkan seorang perempuan yang tegar dalam menghadapi berbagai perubahan zaman. Rencananya, monolog dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, pada Sabtu (31/5/2025).

Aktris Tika Bravani dipercaya memerankan Siti Walidah dalam pementasan yang dibagi ke dalam dua sesi, pukul 15.00 WIB dan 19.00 WIB. Tiket, bisa dipesan melalui platform pemesanan resmi dan Galeri Indonesia Kaya.

Baca juga : Polri Bangun Asrama Baru Di Samarinda, Kapolri: Demi Pelayanan Yang Lebih Optimal

Monolog ini, berupaya menggambarkan perjalanan pemikiran, perjuangan sosial, dan keteladanan seorang Siti Walidah. Bukan hanya sebagai pendamping tokoh besar, melainkan sebagai pendidik, pemimpin perempuan, dan penggerak kemajuan moral dan sosial di masanya.

Dalam naskah karya Dian Eka Wati, penonton akan menyelami sisi personal dan perjuangan pemikiran Siti Walidah. Dia bukan sekadar istri tokoh besar, melainkan sosok pemimpin yang menorehkan perubahan dalam bidang moral, pendidikan, dan emansipasi perempuan.

Sutradara Wawan Sofwan berbagi pengalaman tentang tantangan dalam menyutradarai monolog ini. Menurutnya, tantangan utama dalam pementasan ini adalah menjaga dinamika emosi agar penonton tetap terikat sepanjang pertunjukan.

"Menyutradarai monolog berarti menggali energi dari satu aktor untuk mengisi seluruh panggung. Tantangan utamanya adalah menjaga dinamika emosi agar penonton tetap terikat dari awal hingga akhir," jelas Wawan.

Selain itu, Wawan juga menekankan pentingnya menghadirkan keberanian perempuan dalam bentuk pemikiran dan suara, bukan hanya keberanian fisik.

Baca juga : Ahmad Luthfi Berhasil Kembalikan Status Bandara Ahmad Yani Jadi Internasional

"Keberanian bukan soal angkat senjata, tapi keberanian berpikir dan bersuara di ruang-ruang sunyi," ujarnya.

Wawan juga menyebut bahwa pertunjukan ini adalah bentuk penghormatan atas semangat juang perempuan dalam sejarah, dan relevan dengan perjuangan perempuan masa kini.

“Kami ingin penonton tidak hanya menyaksikan, tapi ikut mengalami perjalanan batin seorang perempuan luar biasa ini. Siti Walidah adalah simbol keberanian bersuara dalam senyap,” pungkasnya.

Joane Win, produser sekaligus pendiri Regina Art menjelaskan, proyek ini bukan hanya bentuk karya seni, tetapi juga penghormatan terhadap sejarah perempuan Indonesia yang selama ini kerap luput dari panggung besar.

“Siti Walidah bukan hanya pendamping suami, beliau adalah tokoh besar itu sendiri. Melalui pertunjukan ini, kami ingin menyampaikan bahwa suara perempuan bisa mengubah arah sejarah bangsa,” ujar Joane.

Baca juga : Bersama PNM, Rofiah Wujudkan Semangat Kartini Penggerak Ekonomi Desa

Dia menambahkan, pertunjukan ini menjadi bagian dari peringatan hari wafatnya Siti Walidah yang jatuh pada 31 Mei 1946, menjadikan monolog ini sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan warisan intelektual dan moral yang ditinggalkan beliau.

Diketahui, Regina Art dikenal sebagai kelompok seni pertunjukan yang berfokus pada isu-isu perempuan, budaya, dan sejarah. Sebelumnya, kelompok ini telah memproduksi Ruang Arum Manis yang telah dipentaskan di berbagai negara seperti Amerika Serikat, Meksiko, dan Eropa, diperankan langsung oleh Joane Win.

Dalam produksi kali ini, Joane mengambil peran sebagai produser untuk memfokuskan diri pada pengembangan karya berikutnya di tahun mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.