Dark/Light Mode

Belajar dari Mantan Napiter

Mewaspadai Propaganda Kelompok Garis Keras di Tengah Konflik Global

Rabu, 18 Juni 2025 17:10 WIB
Mantan napiter Arif Budi Setyawan (Foto: Istimewa)
Mantan napiter Arif Budi Setyawan (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Konflik global di Timur Tengah yang terjadi antara Iran dan Israel, Palestina dan Israel, India dan Pakistan, serta konflik Suriah menyita perhatian publik. Beragam narasi muncul ke permukaan guna saling mencari simpati. Kondisi ini kerap dimanfaatkan kelompok garis keras untuk menyebarkan ideologi, propaganda, perekrutan, hingga pengumpulan donasi. 

Mantan narapidana terorisme (napiter), Arif Budi Setyawan, mengungkapkan kesalahannya pada masa lalu membuatnya lebih bijak dalam menanggapi isu seperti ini. Arif pun mengajak masyarakat berpikir kritis dalam menanggapi isu-isu global. Menurutnya, konflik di Timur Tengah bukan semata karena agama. Melainkan ada kepentingan lain seperti ideologi, ekonomi, dan politik. 

“Perang itu pasti punya motif politik dan ekonomi. Perang itu butuh energi, butuh pasukan, dan butuh motivasi yang kuat. Dan motivasi agama memang sering digunakan untuk menggerakkan orang untuk berperang,” ujar Arif, Rabu (18/6/2025).

Baca juga : Sinarmas Sekuritas Perkuat Literasi Pasar Modal Ke Generasi Muda

Sosok yang pernah menjadi pembicara terkait penanggulangan ekstremisme dan teroisme dalam acara South-East Asia Nations-Civil Society Organization (SEAN-CSO) In The Post Covid-19 Environment Workshop, di Manila, Filipina tahun 2022 ini mengatakan, masyarakat perlu mencermati narasi dan tujuan yang dibangun kelompok garis keras.

Arif melihat, masih ada narasi ekstrem di media sosial yang berpotensi memecah belah masyarakat. Misalnya menghardik, memusuhi, mengkafirkan orang lain yang tidak sependapat. Tentu ini akan berpotensi terjadinya polarisasi di masyarakat yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita amati narasi itu ke mana arahnya? Tidak serta merta langsung mengiyakan, menyetujui, tapi berpikir kritis dengan mempertanyakan apa akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?” ujarnya.

Baca juga : OSO Dorong Kerja Keras Kepala Daerah & Ulama

Mantan simpatisan Jamaah Islamiyah ini mengemukakan pola narasi yang kerap dimainkan kelompok garis keras. Narasi yang dibangun sering kali menyederhanakan konflik menjadi pertarungan hitam-putih, sehingga menutup ruang untuk analisis yang jernih dan dialog yang konstruktif.

Misalnya, Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan kelompok pendukungnya akan membawa narasi konflik global ke arah penegakan syariat atau pendirian negara Islam. Kemudian, kelompok mantan Jamaah Islamiyah akan membawa narasi konflik ini sebagai peluang untuk membangun jihad global.  

“Misalnya ISIS, meskipun menggunakan narasi agama, tujuannya tidak murni untuk membela Islam, tetapi lebih kepada penguasaan wilayah dan kekuasaan global. Ini adalah bagian dari permainan politik internasional,” kata Arif yang kini aktif menulis untuk pencegahan ekstremisme dan terorisme.

Baca juga : Menag Minta Jemaah Haji Doakan Kebaikan Bangsa Saat Wukuf di Arafah

Oleh karena itu, penulis buku Internetistan Jihad Zaman Now ini menekankan kewaspadaan dalam bertindak ditengah masifnya informasi di media sosial. Arif menyatakan, masyarakat boleh untuk memiliki sikap dan pandangan terhadap suatu isu, menaruh simpati dan memberikan donasi. Namun, masyarakat perlu juga menyelaraskan pandangan politik resmi negara dan melakukan donasi kepada lembaga yang terverifikasi. 

“Karena konflik antarnegara jika disikapi secara individu, kemudian mengirimkan kader (berhijrah), bisa jadi nanti terjebak seperti fenomena ISIS,” tandas Arif.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.