Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di Paris, Prof Rokhmin Serukan Revolusi Sistem Rantai Dingin Hadapi Krisis Iklim
Sabtu, 21 Juni 2025 21:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR, Prof. Rokhmin Dahuri mendesak dunia untuk segera merevolusi sistem pendingin global demi menghadapi krisis iklim dan memperkuat ketahanan pangan serta kesehatan. Seruan itu ia sampaikan dalam Konferensi Dunia World Refrigeration Day 2025 di Paris, Prancis, Rabu (18/6).
Forum internasional ini digelar oleh The International Institute of Refrigeration (IIR), lembaga global yang fokus pada teknologi pendinginan dan pompa panas.
Tema besar konferensi tahun ini adalah The Roles of Refrigeration and Heat Pumping Solutions in Advancing Human Wellbeing, Animal Welfare, and Climate Sustainability.
Baca juga : Eddy Soeparno: Akselerasi Transisi Energi Jawaban Hadapi Krisis Iklim
Sebagai pembicara utama, politisi PDI Perjuangan, membawakan pidato berjudul Developing a Sustainable, Resilient, and Equitable Cold Chain System for a Better Food Security and Healthcare in the Global Climate Change Era.
Ia menekankan urgensi membangun Cold Chain System. Yaitu sistem rantai dingin yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.
Menurut Rokhmin, sistem rantai dingin yang efisien dan terjangkau sangat penting, khususnya bagi negara berkembang. Ia mendorong setiap negara meningkatkan kapasitas sistem ini sesuai kebutuhan nasional di sektor pangan, kesehatan, dan permukiman.
Baca juga : Tambah 100 CCTV Baru, Pemprov DKI Fokus Sistem Pemantauan Berbasis Teknologi
“Bangsa-bangsa dunia, terutama negara berkembang, harus meningkatkan kapasitas dan kualitas sistem rantai dingin sesuai dengan kebutuhan nasionalnya,” tegas Rokhmin dalam pidatonya.
Ia juga menekankan pentingnya transformasi sistem pendinginan global agar lebih hemat energi. Berhenti menggunakan energi fosil, dan beralih ke energi bersih yang rendah atau tanpa emisi gas rumah kaca. Selain efisien, sistem ini juga harus minim limbah dan terjangkau bagi semua pihak.
Rokhmin juga menyerukan kerja sama internasional yang lebih inklusif. Negara maju diminta membantu negara berkembang melalui alih teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Bentuknya bisa berupa pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan bimbingan teknis secara berkelanjutan.
Baca juga : Latihan Lagi, Persib Siap Hadapi Persis Solo
Di sisi lain, Direktur Jenderal IIR, Dr. Yosr Allouce, menegaskan bahwa lembaga yang ia pimpin siap menjadi penghubung antar pemangku kepentingan global. “IIR berperan sebagai fasilitator, mediator, dan matchmaker untuk mempercepat transisi sistem rantai dingin yang bersih dan efisien,” ujarnya.
Allouce menyebut bahwa IIR tengah mendorong kolaborasi lintas negara agar solusi pendinginan ramah iklim bisa diterapkan lebih luas. Ia menekankan bahwa teknologi baru harus mendukung prinsip zero waste dan tetap bisa dijangkau secara ekonomi.
Konferensi yang berlangsung sehari penuh ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari 60 negara. Para peserta terdiri dari menteri, duta besar, ilmuwan, insinyur, serta perwakilan masyarakat sipil dari berbagai belahan dunia.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya