Dark/Light Mode

Rawat Tradisi Grebeg Suro, PWNU Jabar Dan Ponpes Alif Bangkitkan Ekonomi Umat

Kamis, 3 Juli 2025 12:33 WIB
Kalangan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah Jawa Barat serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung terus menggerakan ekonomi umat serta kearifan lokal dalam rangkat menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Foto: Istimewa
Kalangan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah Jawa Barat serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung terus menggerakan ekonomi umat serta kearifan lokal dalam rangkat menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Kalangan Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) di wilayah Jawa Barat serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bandung terus menggerakan ekonomi umat serta kearifan lokal dalam rangkat menyambut Tahun Baru Islam 1447 Hijriah.

Ketua PCNU Kota Bandung KH. Ahmad Haedar menekankan pentingnya menjadikan momen hijrah sebagai refleksi untuk perubahan ke arah yang lebih baik, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga ekonomi umat.

“Tantangan terbesar umat Islam saat ini bukan hanya moral dan akidah, tapi juga kemandirian ekonomi. Karena itu, NU berkomitmen memperkuat ekosistem ekonomi umat berbasis pesantren, koperasi, dan usaha mikro yang dikelola oleh warga NU,” tegas Haedar di Gedung PWNU Jabar.

Baca juga : Di Depan Prabowo, PM Wong Yakin Akan Potensi Ekonomi Indonesia

Kegiatan dihadiri oleh jajaran pengurus PWNU, PCNU dan MWCNU se-Kota Bandung, Banom NU, serta tokoh masyarakat, Minggu (29/6/2025).

Sementara menurut Pengasuh Pesantren Alif Laam Miim Daal Ro Cimuncang, Sumedang, KH. Sutrisno Lamin, selain membangkitkan ekonomi umat, kalangan nahdliyin juga mesti merawat tradisi yang menjunjung tinggi kearifan lokal sepert Grebeg Suro.

“Hal ini bukan sekadar seremoni, tapi rangkaian tiga acara yang menggambarkan refleksi spiritual yang menyambungkan tiga dimensi waktu. Ziarah ke makam leluhur untuk mengingat masa lalu, hajat uar sebagai ikhtiar menolak bala di masa depan, dan makan bubur suro sebagai ungkapan syukur atas keselamatan hari ini. Sama seperti kisah Nabi Nuh yang memasak tujuh biji-bijian setelah selamat dari banjir besar,” cetusnya sambil menyaksikan ratusan warga—mulai dari anak-anak hingga para sepuh—berkumpul merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 H dalam tradisi Grebeg Suro.

Baca juga : Gelar Salat Idul Adha, Jajaran Polri Tingkatkan Kepedulian Demi Persatuan

Warga beriringan mengarak Gunungan Hasil Bumi, yang didominasi pisang dari kebun sendiri, dari ujung kampung menuju area pesantren.

Diiringi lantunan salawat dan doa bersama, gunungan tersebut didoakan, lalu diperebutkan secara simbolik oleh warga sebagai bentuk ngalap berkah. Acara ini ditutup dengan makan bersama bubur suro, sajian khas yang dibuat dari tujuh macam biji-bijian.

“Ini tradisi luar biasa. Wujud gotong royong, syukur, dan cinta warga pada budaya. Kami bangga,” ujar Kepala Desa Surian, Karto Ganda Permana.

Baca juga : Uang Rusak Disulap Jadi Listrik, PLTU Labuhan Angin Hadirkan Energi Hijau

Lebih dari itu, Gunungan Hasil Bumi yang dibawa warga ke pesantren bukan sekadar simbol panen, tapi bentuk penyerahan amanah: masyarakat menitipkan adat, budaya, dan nilai moral kepada pesantren agar dijaga dan diwariskan, tambah Pimpinan Ponpes dengan santun.

“Pesantren jadi tempat pengayom. Lembaga penjaga nilai. Gunungan itu simbol kepercayaan,” tutur Kepala Dusun, Rohim Gumilar, diamini para tokoh adat dan kasepuhan setempat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.