Dark/Light Mode

Gebyar 17-an di Sekolah Alam Tunas Mulia, Anak Pemulung Kibarkan Merah Putih

Senin, 18 Agustus 2025 17:02 WIB
Edi Permadi, Pembina Yayasan Tunas Mulia, saat menjadi pembina Upacara Penurunan Bendera Merah Putih pada HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Sekolah Alam Tunas Mulia, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Minggu (17/8/2025). (Foto: Istimewa)
Edi Permadi, Pembina Yayasan Tunas Mulia, saat menjadi pembina Upacara Penurunan Bendera Merah Putih pada HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, di Sekolah Alam Tunas Mulia, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Minggu (17/8/2025). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia berlangsung meriah di Sekolah Alam Tunas Mulia, Bantar Gebang, Bekasi.

Selain upacara bendera, siswa-siswi yang sebagian besar anak pemulung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang turut memeriahkan dengan berbagai lomba khas peringatan kemerdekaan.

Sekolah Alam Tunas Mulia berdiri sejak 13 Oktober 2006. Hingga kini, sekolah tersebut menampung 325 siswa dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan didukung 35 tenaga pengajar.

Sejak awal, sekolah ini memang ditujukan bagi anak-anak pemulung dan keluarga kurang mampu. Seluruh kegiatan belajar mengajar diberikan secara gratis.

Baca juga : Gelar Upacara HUT Ke-80 RI, Pertamina Kobarkan Energi Merah Putih Indonesia Maju

“Juga usaha dan pemberdayaan ekonomi bagi pemulung. Saat ini yang sudah berjalan adalah budidaya ikan, maggot, dan pertanian. Produksi maggot sudah mencapai 50 kilogram per hari untuk pakan ternak,” ujar Ketua Yayasan Tunas Mulia Bantar Gebang, Juwarto, Minggu (17/8/2025).

Ia menambahkan, dalam hampir dua dekade perjalanan, yayasan telah melahirkan lulusan yang melanjutkan pendidikan tinggi.

Tercatat enam orang berhasil meraih gelar sarjana, empat orang tengah menempuh kuliah, dan empat lulusan Diploma III. Jumlah lulusan terbanyak berasal dari PAUD dengan total 1.225 anak.

Pembina Yayasan Tunas Mulia, Edi Permadi, yang bertindak sebagai pembina upacara penurunan bendera, menyatakan apresiasinya atas kiprah sekolah tersebut.

Baca juga : Sekolah Rakyat, Harapan Baru Bagi Andra Farizki Yang Dibesarkan Tanpa Ayah

“Pak Juwarto, Pak Nadam, dan guru-guru di sini adalah manusia pilihan yang luar biasa. Ini sesuai dengan Asta Cita yang keempat terkait dengan pembangunan sumber daya manusia,” kata Edi, yang juga Tenaga Profesional Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI).

Edi menegaskan pendidikan adalah hak setiap warga negara, termasuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Padahal pendidikan adalah salah satu jalan untuk bisa keluar dari situasi atau kondisi kemiskinan. Tentu tugas pertama menyediakan pendidikan yang layak adalah negara,” ujarnya.

Namun, menurut Edi, tanggung jawab tersebut tidak sepenuhnya dapat dibebankan kepada negara.

Baca juga : CKG di Sekolah Mulai Digelar, Fahira Idris Sampaikan 6 Rekomendasi

“Setiap warga negara, khususnya yang mampu, juga dipanggil untuk berkontribusi membangun atau mendukung pendidikan. Masih banyak tempat di Indonesia ini pendidikannya masih mengalami keterbelakangan. Ini menjadi tugas setiap warga negara untuk membantu, baik dari sisi finansial, pemikiran, maupun sarana dan prasarana,” kata Edi.

Ia menambahkan, salah satu bentuk syukur atas kemerdekaan adalah terlibat langsung dalam membangun pendidikan, khususnya di daerah-daerah yang membutuhkan uluran tangan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.