Dark/Light Mode

Perpusnas Gelar Webinar Hari Literasi Internasional, Kupas Tantangan di Era AI

Senin, 8 September 2025 13:21 WIB
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menggelar Webinar Hari Literasi Internasional, Senin (8/9/2025). Dalam webinar ini, dikupas bahwa perbincangan literasi sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari gerak hidup manusia.

Seiring peradaban zaman, topik literasi selalu ramai dari waktu ke waktu. Di Indonesia, kondisi pembangunan literasi, menurut berbagai kajian, justru belum menggembirakan. 

“Kondisi ini harus disadari dan diterima tapi jangan sampai patah arang. Justru jadi tantangan,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, saat menjadi pembicara kunci pada Webinar itu.

Di era digital, tuntutan literasi otomatis berubah. Saat ini, dunia sudah mengenal kecerdasan buatan atau akal imitasi (Artificial Intelligence/AI). Kehadiran akal imitasi adalah bukti bahwa perkembangan teknologi sudah cepat terjadi. Sebagian masyarakat percaya dengan yang disuguhkan oleh mesin pengolah data tersebut.

“Tentu ada manfaat yang bisa diperoleh dari adanya AI. Namun, perlu diingat kuncinya ada di kecakapan individu. Artinya, manusia tidak cukup hanya menerima tapi harus kritis,” tambah Amin.

Di dunia perpustakaan pun, mau tidak mau harus menghadirkan dirinya dalam perubahan yang cepat. Institusi perpustakaan tidak lagi sebagai ruang tumpukan buku yang ditunggui pustakawan. Perpustakaan tidak mungkin melayani pemustaka dengan cara-cara yang lama. Era digital ini adalah peluang sekaligus tantangan.

Dalam pemantik diskusi, pegiat literasi Maman Suherman (Kang Maman) memaparkan fakta bahwa kecanggihan AI telah banyak disalahgunakan untuk kepentingan buruk. Seperti penyebarluasan media palsu (deep fake), kejahatan, hingga pornografi.

Kabar hoaks menyebar enam kali lebih cepat dibanding informasi yang benar karena sifatnya yang provokatif dan emosional. Di tengah tsunami informasi di era digital, semestinya bukan lagi kecepatan yang didewakan tapi ketepatan. 

Baca juga : Kilang Pertamina Internasional Lampaui Target Operasional Semester I-2025

“Bahkan, ada penelitian yang menyebut pendengung (buzzer) sebagai profesi baru,” ungkap Kang Maman. 

Jejak digital itu abadi jika ada yang meng-capture dan menyebarkan. Maka, penguatan kecakapan literasi dibutuhkan sebagai jalan agar siapa pun tidak serampangan menyebarkan fitnah atau adu domba. 

Dari sudut pandang lain, Derry Tanti Wijaya dari Associate Professor of Data Science Monash University, Indonesia, mengatakan kecerdasan buatan sebenarnya bukan hal baru. 

“Kecerdasan buatan sudah seperti asisten pribadi. AI hanya melihat pola data. Tidak punya pengertian mendalam (deep understanding). Tidak punya pemahaman mendalam tentang ilmu,” terang Derry. 

Keberadaan AI memang membantu tapi tidak lantas anak menjadi independen karena yang dibutuhkan dalam ekosistem informasi adalah manusia. Tapi, di Indonesia masalahnya tidak semua penduduknya memiliki komputer dan kemampuan digital literasi. 

“AI bisa mati tanpa informasi dari manusia,” terang Derry. 

Jadi, kalau tidak diberi informasi tambahan, AI tidak bisa tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Semua kemampuan AI muncul karena ia “belajar” dari teks, gambar, audio, atau kode yang sudah ada dan dibuat manusia. Tanpa data baru, AI hanya bisa mengulang atau mengkombinasikan pola lama.

Sementara itu, Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO I Gusti Agung Ketut Satrya Wibawa memaparkan fakta bahwa 70 persen masyarakat dunia yang berusia 10 tahun di negara berpenghasilan rendah-menengah tidak mampu membaca dan memahami teks sederhana. Di Indonesia, angka melek aksara sudah mencapai 96,7 persen.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Pastikan BBM Aman

Peran AI dari sisi positif akan mempercepat pemulihan literasi jika digunakan dengan tata kelola yang etis dan inklusif. Dalam konteks berbeda, buta huruf menjadi kritikal untuk dikaji di Indonesia. Apakah jika masyarakat yang sanggup berbahasa daerah tapi tidak mampu berbahasa Indonesia masih disebut dengan buta huruf.  

Beberapa tahun yang lalu, kondisi pandemi memberikan dampak menurunnya pengetahuan dan pencapaian akademis siswa akibat tidak efektifnya proses pembelajaran (learning loss). Pemulihan belajar berjalan lambat dan tidak merata di di banyak negara.

“Terjadi kesenjangan kemampuan membaca. Empat dari 10 murid global belum mencapai kecakapan minimum membaca, terutama di negara berkembang,” jelas Satrya.

Masuknya teknologi digital secara massif jika digunakan secara matang dan terencana bisa membantu. Tapi, di sisi justru memperlambat. Di beberapa negara bahkan menjauhkan teknologi dalam pendidikan dasar menengah, seperti di negara Prancis. Mereka mengembalikan kebijakan membaca buku, bukan lagi menggantungkan teknologi seperti smart phone dalam proses belajar.

“Di Uni Eropa, AI harus diperlakukan secara kritikal,” tambah Satrya.

Tantangan mendasar yang mesti dihadapi negara berkembang adalah kondisi kemiskinan pembelajaran (learning poverty), yakni kondisi ketika seorang anak tidak mampu membaca dan memahami bacaan sederhana pada usia 10 tahun. Tanpa percepatan dunia, tidak akan mencapai target kecakapan literasi dasar pada 2030.

Untuk bisa mencapai itu, perlu intervensi-intervensi dan saling membantu. Literasi dan numerasi awal, remedial berbasis data, dan kesejahteraan murid menjadi prioritas utama. 

Apalagi jika melihat data PISA global yang turun dibandingkan pada 2018 akibat dampak pandemi. Indonesia mencatat skor 359, jauh di bawah rata-rata OECD senilai 476 pada asesmen 2022. Fokus kritis negara berkembang menyasar pada pemahaman teks, berpikir kritis, dan ketahanan sistem pendidikan yang menjadi penentu performa.

Baca juga : Pancasila Di Era Digital: Dari Feminisme Hingga Tantangan Generasi Muda

“Itu tantangan mendasar dalam mencapai SDG 2030,” pungkas Satrya.

Hal ini semakin menegaskan bahwa literasi bukan sekedar baca tulis melainkan kecakapan mengolah informasi yang yang dimulai dari satuan terkecil di masyarakat, yakni keluarga. Pendiri Reading Bugs Roosie Setiawan mengajak masyarakat untuk menumbuhkan kecintaan membaca. 

“Enjoy reading mengurangi ketergantungan terhadap digital,” imbuh Roosie. 

Membaca Nyaring bisa disebut sebagai aktivitas suara yang menghidupkan literasi dan menghubungkan antargenerasi. Ada tiga komponen dalam aktivitas Membaca Nyaring, yakni pembaca, pendengar, dan materi yang dibacakan.

Selama membaca nyaring, biarkan anak-anak menikmati gambar-gambarnya. Ini cara yang bagus untuk mengembangkan apresiasi mereka terhadap seni dan sastra. Yang tidak kalah penting, perhatikan jeda untuk mengajukan pertanyaan kepada anak tentang alur cerita serta jaga interaksi dengan mereka dengan tetap tanggap, berkomunikasi sebagai sarana berbagi informasi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.