Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Penggagas organisasi Pertahanan Rakyat Bersatu (Prabu) Arvindo Noviar menilai program makan bergizi gratis yang mulai dijalankan Januari 2025 menandai titik baru cara negara hadir dalam pembangunan manusia Indonesia.
Catatannya, dalam 9 bulan pertama lebih dari 20 juta anak menerima manfaatnya, sekitar 1,1 miliar porsi telah tersaji, mengubah ritme waktu di sekolah, memadatkan jaringan dapur, dan memindahkan ukuran keberhasilan kebijakan dari visi ke meja makan anak.
“Program ini lahir dari kesadaran bahwa gizi anak adalah hak yang harus dipenuhi negara, sebab masa depan bangsa hanya bisa dibangun melalui tubuh dan nalar rakyat yang sehat,” kata Arvindo kepada RM.id, Selasa (30/9/2025).
Baca juga : Rapat Dengan Komisi V DPR, Menteri PU Bahas Regulasi dan Pengawasan Jalan Tol
Diamininya, pemenuhan gizi anak merupakan pondasi pendidikan yang adil, sebab energi dan nutrisi yang cukup membuat anak sanggup mengikuti pelajaran dengan mutu yang setara. Namun, katanya, program dengan ide besar ini memiliki tantangan dalam penerapannya.
Ritme operasional yang menghasilkan jutaan porsi per hari menuntut disiplin organisasi pada setiap mata rantai. Dari perencanaan menu, pengadaan bahan, kesiapan dapur, jadwal memasak, penyimpanan, pengiriman ke sekolah hingga pembagian di kelas.
“Keberhasilan menyajikan lebih dari 1 miliar porsi dalam 9 bulan menunjukkan kapasitas koordinasi yang besar, namun skala sebesar ini juga menguji ketahanan standar karena keselamatan dan mutu harus terjaga sampai titik akhir distribusi,” ungkapnya.
Baca juga : Mahfud Ajak Gen Z Terus Awasi Jalannya Pemerintahan
Nah, di sinilah tantangan terjadi. Tragedi kesehatan yang menimpa sebagian anak menjadi momentum koreksi mendesak bagi sistem. Laporan Pemerintah dan lembaga menunjukkan rentang sekitar 5.000–5.320 kasus, sementara pemantauan jaringan masyarakat sipil mencatat 5.360 anak terdampak.
Catatannya, dengan total penyajian sekitar 1,1 miliar porsi, proporsinya sekitar 0,000487 persen atau kurang dari 5 kejadian per 1 juta porsi. Rasio ini menunjukkan skala tanggung jawab yang besar dan menuntut kewaspadaan berkelanjutan.
“Satu anak yang sakit sudah cukup sebagai alasan untuk bertindak serius dan memulihkan kepercayaan keluarga yang mempercayakan anaknya pada program negara,” tegasnya.
Baca juga : Denny JA Kenalkan Generasi Rentan Dan Solusinya
Menurutnya, akuntabilitas kebijakan mulai menunjukkan bentuk tegas ketika otoritas gizi nasional mengakui adanya kekurangan pengawasan dan memutuskan langkah korektif yang terukur.
Misalnya, pelarangan pangan olahan pada dapur yang belum bersertifikat, penutupan sementara 40 dapur untuk evaluasi, percepatan sertifikasi higiene, serta pelibatan Badan Pengawas Obat dan Makanan, Kepolisian, dan dinas kesehatan. “Ini menjadi titik awal,” semangatnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya