Dark/Light Mode

Presiden Ingatkan Para Pejabat

Nakal, Diperingatkan 3 X Nakal, Di-reshuffle

Minggu, 19 Oktober 2025 08:20 WIB
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Tim Media Presiden)
Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Tim Media Presiden)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto mengirim sinyal keras ke para pembantunya di Kabinet Merah Putih. Prabowo tak akan memberi ampun bagi menteri atau pejabat yang menyalahgunakan amanah. Nakal sekali, masih diperingkatkan. Namun, kalau sampai 3 kali masih nakal, maka akan di-reshuffle.

Peringatan tegas itu, disampaikan Prabowo saat memberikan pidato di Sidang Senat Pengukuhan Mahasiswa Baru dan Wisuda Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Trans Convention Center, Bandung, Sabtu (18/10/2025).

Di hadapan ribuan mahasiswa, Prabowo awalnya bicara soal pentingnya integritas dan ketegasan dalam memimpin. Namun, arah pidato tiba-tiba mengeras saat membahas pejabat yang “bermain-main” dengan kekuasaan.

“Kalau ada satu, dua pejabat nakal, saya peringati. Masih nakal, masih tidak mau dengar, tiga kali, apa boleh buat — reshuffle! Harus diganti,” tegas Presiden, disambut tepuk tangan meriah.

Prabowo menilai keberanian mengambil keputusan tegas adalah kunci agar program-program pemerintah berjalan efektif. 

Baca juga : Puji Respons Cepat Presiden, I Nyoman Parta Dukung Pembangunan Akademi Atlet

Presiden menegaskan akan selalu berpihak pada kepentingan rakyat, bukan pejabat. Karena itu, siapa pun yang nekat bermain-main dengan keuangan negara akan berhadapan langsung dengannya.

“Berapa pun anggarannya, kalau untuk rakyat, akan saya dukung penuh. Tapi kalau ada yang coba main-main, saya tidak akan ragu bertindak tegas,” ujarnya.

Prabowo juga mengingatkan agar para pejabat berhati-hati dalam mengelola uang negara. “Tidak boleh ada rasa kasihan. Yang kasihan adalah rakyat Indonesia. Saya tidak apa-apa dibenci, asal rakyat saya tidak dibenci,” tegasnya.

Nada suaranya meninggi ketika berbicara soal korupsi. “Kepada maling-maling, manipulator, penipu yang serakah, saya beri peringatan: hati-hati. Saya akan hadapi koruptor-koruptor itu. Saya yakin rakyat Indonesia di belakang saya!” serunya lantang.

Seperti diketahui, belum genap setahun memimpin Indonesia, Prabowo sudah 3 kali melakukan reshuffle. Bahkan, 2 reshuffle dilakukan Presiden pada September lalu.

Baca juga : Kemenkes Ingatkan Pentingnya Kesehatan Jiwa Di Segala Situasi

Reshuffle pertama terjadi pada 19 Februari 2025. Dalam reshuffle perdana itu, Kepala Negara mencopot Satryo Brodjonegoro dari kursi Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi, digantikan oleh Brian Yuliarto.

Putaran kedua pada 8 September 2025 lebih besar. Lima menteri dicopot, termasuk Menko Polkam Budi Gunawan, Menkeu Sri Mulyani, Menpora Dito Ariotedjo, Menteri Perlindungan PMI Abdul Kadir Karding, dan Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi. Dari lima kursi itu, tiga langsung terisi: Purbaya Yudhi Sadewa (Menkeu), Ferry Juliantono (Menkop), dan Mukhtarudin (Menteri Perlindungan PMI).

Sementara posisi Menko Polkam dan Menpora baru diumumkan dalam reshuffle jilid III, 17 September 2025. Dalam reshuffle ketiga ini, Prabowo mencopot Hasan Nasbi dan menunjuk Angga Raka Prabowo sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah. Perombakan juga terjadi di lembaga Kantor Staf Presiden (KSP).  A.M. Putranto dicopot, sedangkan M. Qodari naik level menjadi Kepala Staf Kepresidenan.

Sekjen Partai Golkar Sarmuji mendukung penuh ketegasan Prabowo. Menurutnya, reshuffle berbasis evaluasi dan hasil kerja adalah bentuk kepemimpinan yang berorientasi pada kinerja.

“Itu bagus. Tegas, tapi tetap memberi kesempatan untuk berbenah. Presiden sangat berorientasi pada target. Kalau target tak tercapai, wajar saja dievaluasi,” kata Sarmuji kepada Rakyat Merdeka.

Baca juga : Presiden Ingatkan Para Pejabat Jangan Malu Koreksi Diri dan Akui Kekurangan

Namun, suara lain datang dari Ketua DPP Partai NasDem Irma Suryani Chaniago. Ia menilai, jika yang dimaksud “nakal” adalah korupsi, Presiden tak perlu menunggu sampai tiga kali peringatan.

“Kalau nakalnya korupsi, ya langsung reshuffle saja, tapi kalau nakal dalam arti tak berpihak pada rakyat, ya memang wajar diberi tiga kali kesempatan sebelum dicopot,” kata Irma.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menilai, pernyataan Prabowo lebih bersifat peringatan dini ketimbang sinyal reshuffle dalam waktu dekat.

“Pernyataan itu lebih sebagai apresiasi terhadap menteri-menteri yang kinerjanya baik, seperti Kepala BGN Prof Dadan, tapi sekaligus alarm bagi yang tak maksimal. Bentuknya dua kali peringatan, baru kalau tak berubah, reshuffle,” pungkas Agung. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.