Dark/Light Mode

Diusulkan Jadi Pahlawan, Soeharto Masih Pro-Kontra

Minggu, 26 Oktober 2025 07:20 WIB
Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masuk dalam daftar calon Pahlawan Nasional. (Foto: Dok. Wikipedia)
Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masuk dalam daftar calon Pahlawan Nasional. (Foto: Dok. Wikipedia)

 Sebelumnya 
Ketua DPP Partai Golkar Nurul Arifin menyatakan dukungan penuh agar Soeharto mendapat gelar Pahlawan Nasional. Menurutnya, pendiri Orde Baru itu memiliki jasa besar dalam menjaga stabilitas nasional dan membangun fondasi ekonomi Indonesia. 

“Selama 31 tahun memimpin, beliau berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi, membangun infrastruktur, dan mencapai swasembada beras. Karena keberhasilannya itu, MPR memberi gelar ‘Bapak Pembangunan Indonesia’ melalui TAP MPR Nomor V/MPR/1983,” ujar Nurul. 

Namun, penolakan datang dari Kepala Badan Sejarah Indonesia DPP PDIP, Bonnie Triyana. 

Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Bahasa Asing Jadi Sebuah Kebutuhan

“Hemat saya, kita harus tolak. Saya pribadi menolak,” tegasnya. 

Menurut Bonnie, seorang tokoh yang dijadikan panutan seharusnya memiliki rekam jejak bersih dari pelanggaran HAM dan korupsi. Ia menilai pemberian gelar kepada Soeharto akan bertentangan dengan semangat reformasi yang membatasi kekuasaan. 

Ketua MPR Ahmad Muzani turut menanggapi perdebatan tersebut. Ia meminta publik bersabar menunggu keputusan Presiden mengenai nama-nama yang akan mendapat gelar Pahlawan Nasional. 

Baca juga : Satriwan Salim: Kalau Lihat Tren Global, Harusnya Bahasa Mandarin

Muzani berharap polemik terkait Soeharto tidak menimbulkan perpecahan. Ia juga mengingatkan bahwa MPR pernah mencabut TAP MPR Nomor XI/ MPR/1998 yang menekankan pencegahan praktik KKN, termasuk terhadap Soeharto. 

Keluarga Gus Dur 

Sementara itu, keluarga almarhum Gus Dur menyambut baik masuknya nama Presiden ke-4 RI itu dalam daftar calon Pahlawan Nasional. “Yang jelas, keluarga Gus Dur tidak pernah mengajukan beliau untuk menjadi Pahlawan Nasional,” ujar putri pertama Gus Dur, Alissa Wahid, di Jakarta, Sabtu (25/10/2025). 

Alissa menegaskan, bagi keluarga besar Gus Dur, penghargaan dari negara bukanlah tujuan utama. “Yang paling penting, Gus Dur hidup di hati rakyat dan tetap dikenang karena perjuangannya terhadap keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan pada rakyat, bukan semata karena posisinya sebagai presiden,” ujarnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.