Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Marak Modus Penipuan Baru, World Bank Sarankan RI Punya Anti-Scam Center
Kamis, 20 November 2025 20:05 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Senior Financial Sector Specialist World Bank, Sergio Mesquita, mendorong penerapan standar baru dalam melawan kejahatan keuangan yang kian canggih. Ia menyebut pembentukan National Anti-Scam Center kini mendesak dilakukan, mengingat pendekatan reaktif tak lagi mempan membendung gelombang penipuan digital.
Hal tersebut diungkapkan Sergio dalam seminar internasional "Navigating the Digital Frontier" yang digelar Bank Indonesia (BI) di Nusa Dua, Bali, Kamis (20/11/2025). Forum ini mempertemukan regulator global untuk mencari solusi atas risiko siber lintas negara.
Baca juga : Para Sultan dan Tokoh Bangsa Deklarasikan Forum Keberagaman Nusantara
Menurut Sergio, banyak negara maju mulai membentuk pusat anti-penipuan nasional guna memperkuat deteksi dini lintas sektor. Strategi pencegahan sejak awal (preemtif) harus menjadi prioritas menggantikan pola lama yang baru bergerak setelah ada korban.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, merespons positif perlunya langkah kolektif tersebut. Ia menekankan bahwa di tengah ekosistem yang saling terhubung, kepercayaan publik adalah aset yang sangat rapuh.
Baca juga : Usung Konsep Beyond Banking, HSBC Indonesia Luncurkan Wealth Center
"Kepercayaan publik adalah hal utama. Seperti kata pepatah, 'Trust takes years to build, seconds to break, and forever to repair'," tegas Filianingsih di hadapan delegasi internasional.
BI sendiri memperkuat pertahanan domestik lewat tiga pilar, yakni kepastian hak konsumen, penegakan aturan perilaku pasar, dan pemberdayaan literasi masyarakat.
Baca juga : OJK Selamatkan Dana Masyarakat Rp 376,8 M
Sementara itu, Kepala OECD Jakarta, Massimo Geloso Grosso, mengingatkan bahwa teknologi saja tidak cukup. Ia menyoroti sebagian besar modus penipuan saat ini secara spesifik menyasar pengguna dengan keterampilan digital yang rendah.
Seminar ini turut melibatkan lembaga penegak hukum global seperti Interpol dan UNODC, serta pelaku industri seperti Microsoft dan Australian Payments Network. Sinergi ini diharapkan melahirkan protokol keamanan baru yang bisa diterapkan secara global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya