Dark/Light Mode

Bahan Baku Habis, SPPG Aceh Beralih Ke Menu Lokal Dan Briket Batu Bara

Rabu, 3 Desember 2025 09:56 WIB
Foto: Ist
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Bencana banjir yang melanda Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memaksa sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Aceh menyesuaikan operasional, termasuk mengganti bahan baku makanan dan sumber energi produksi.

Kepala Regional SPPG Badan Gizi Nasional (BGN) Aceh, Mustafa Kamal mengatakan, pihaknya mulai berupaya mengganti menu dengan bahan pangan lokal karena pasokan bahan baku standar SPPG mengalami kelangkaan.

“Kami sedang berupaya mengganti menu dengan bahan pangan lokal, seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan ikan budidaya. Bahan makanan lokal ini masih tersedia di Aceh Barat, Bireuen, dan Pidie,” ujarnya di Bireuen, Rabu (3/12/2025).

Baca juga : Permudah Penyaluran Bantuan ke Palestina, Pegiat Kemanusiaan Perkuat Kolaborasi

Selain bahan baku makanan, SPPG juga menghadapi keterbatasan pasokan gas. Untuk itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh untuk mencari alternatif. Menurut Mustafa, suplai gas diperkirakan baru normal dalam satu hingga dua bulan ke depan.

“ESDM Aceh menawarkan penggunaan briket batu bara sebagai pengganti gas. Alternatif ini sedang kami kaji untuk menjaga operasional tetap berjalan,” katanya.

Ia menambahkan, pasokan air bersih dan listrik masih menjadi kendala di sejumlah lokasi karena jaringan dan instalasi rusak akibat terendam banjir. PDAM belum dapat memastikan waktu perbaikan fasilitas air bersih, sementara aliran listrik juga belum sepenuhnya stabil.

Baca juga : Bosch Bangun Pabrik Baru Berkonsep Modular Di Cikarang

Akibat kondisi tersebut, 19 SPPG di Kabupaten Bireuen terpaksa berhenti beroperasi. Temuan ini disampaikan Tim Deputi Pemantauan dan Pengawasan (Tauwas) BGN yang dipimpin Deputi Tauwas Letjen TNI (Purn) Dadang Hendrayuda saat meninjau lokasi pada Selasa (2/12).

Secara keseluruhan terdapat 26 SPPG yang beroperasi di Bireuen. Namun, dua di antaranya terdampak langsung banjir dan tidak dapat beroperasi sejak awal bencana, terutama di Kecamatan Jangka dan Peusangan.

Selama masa pemulihan, sebanyak 21 SPPG mengalihkan sasaran penerima manfaat Program Makan Bergizi (MBG). Jika sebelumnya MBG ditujukan bagi siswa sekolah, maka selama sekolah diliburkan program dialihkan kepada masyarakat terdampak.

Baca juga : Pembagian Kuota Haji 2026 Berubah, Menhaj Tegaskan Prinsip Keadilan

Pada 26 November 2025, tercatat 62.826 paket bantuan didistribusikan. Pada 27 November disalurkan 30.261 paket, 28 November sebanyak 37.180 paket, dan 29 November sebanyak 38.668 paket.

SPPG juga berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Bireuen dengan meminjamkan lima kendaraan operasional sejak 26–30 November 2025. Tiga mobil distribusi kembali dikerahkan pada 2 Desember untuk mendistribusikan bantuan ke wilayah terdampak.

Namun demikian, kelangkaan bahan baku, pasokan gas, keterbatasan air bersih, dan ketidakstabilan listrik membuat operasional SPPG tidak dapat dipertahankan. “Untuk sementara kami baru dapat melanjutkan kegiatan sampai hari ini, 3 Desember 2025,” kata Mustafa Kamal.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.