Dark/Light Mode

Pengamat: Kritik terhadap MBG Bermuatan Politis, Upaya Mengaburkan Fakta

Minggu, 1 Maret 2026 21:53 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat sosial dan kebijakan publik dari Kader Literasi Indonesia Maju (Kalima), Aiman Adnan menilai, kritik yang dilontarkan sejumlah politisi PDIP, dinilai tak lagi sebatas perbedaan pandangan kebijakan. Melainkan, telah berkembang menjadi narasi politik yang berpotensi mengaburkan fakta.

Aiman menilai, perdebatan tersebut justru membuka kembali pola lama dalam praktik politik nasional, yakni keras dalam pernyataan publik, tetapi abai terhadap keputusan yang telah diambil dalam forum resmi negara.

“Ini bukan kritik kebijakan. Ini sandiwara politik. Ribut di depan kamera, tapi lupa apa yang sudah mereka setujui bersama di Rapat Paripurna DPR,” tegas Aiman, Minggu (29/2/2026).

Menurutnya, realitas di lapangan menunjukkan persoalan yang jauh lebih sederhana dibandingkan perdebatan elite di pusat kekuasaan, yang melulu meributkan tabel dan angka-angka di anggaran negara.

Baca juga : Pengamat: Anggaran MBG Sah, DPR Setujui Secara Prosedural

Polemik MBG memperlihatkan jarak yang kian lebar antara perdebatan elite dan realitas kehidupan masyarakat.

“Rakyat miskin butuh makan. Anak sekolah butuh gizi. Negara akhirnya hadir lewat MBG. Lalu siapa sebenarnya yang merasa terganggu?” katanya.

“Di satu sisi, anak-anak di daerah datang ke sekolah tanpa sarapan. Di sisi lain, politisi ribut soal tabel dan persentase sampai lupa esensi," tambahnya.

Ia menilai resistensi terhadap MBG mencerminkan ketidaknyamanan terhadap perubahan orientasi kebijakan negara yang mulai menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sebagai prioritas utama.

Baca juga : Singgih Januratmoko: Sertifikasi Halal Jaga Kedaulatan Pangan Nasional

“Ini pertama kalinya negara hadir langsung di meja makan anak-anak miskin secara sistematis. Lalu ada sekelompok politikus yang merasa tidak nyaman,” tuturnya.

Dia mengingatkan, MBG tidak sekadar soal angka dalam dokumen anggaran, melainkan menyangkut keberlangsungan hidup dan masa depan anak-anak Indonesia.

“MBG itu soal perut anak-anak Indonesia. Menyerangnya dengan narasi palsu sama saja dengan mengolok-olok rakyat yang hidup pas-pasan atau bahkan serba kekurangan,” sesalnya.

Ia menegaskan, jika polemik ini terus dipertahankan dengan narasi yang sama, maka publik boleh jadi akan memberikan penilaian yang lebih tegas.

Baca juga : Persik Kediri Waspadai Kecepatan Bhayangkara FC

“Kalau masih ngotot menyerang MBG, ini bukan lagi soal pendidikan. Ini soal intrik politik yang tidak rela perut wong cilik kenyang,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat ini tengah menjalankan mandat konstitusional untuk memperkuat generasi masa depan melalui pemenuhan kebutuhan gizi rakyat yang paling dasar.

“Siapa pun yang menghalangi dengan narasi palsu, berarti berdiri berseberangan dengan kepentingan rakyat. Dan sejarah selalu punya caranya sendiri untuk mencatat,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.