Dark/Light Mode

AI Gotong Royong Indonesia

Senin, 6 April 2026 19:58 WIB
Ilustrasi AI Gotong Royong Indonesia (Gambar dibuat dengan AI)
Ilustrasi AI Gotong Royong Indonesia (Gambar dibuat dengan AI)

Apakah yang kaya akan semakin kaya dan miskin akan semakin miskin karena tidak punya lahan dan harus bekerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan? Ini adalah kekhawatiran yang sangat beralasan dan didukung oleh data ekonomi makro saat ini. Jika kita tidak melakukan intervensi kebijakan atau transformasi sosial, skenario "The Great Divide" (Jurang Pemisah Besar) di tahun 2030-2045 kemungkinan besar akan terjadi dengan pola sebagai berikut: 

1. Mengapa yang Kaya Semakin Kaya?

Di era Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi, kekayaan berpindah dari Tenaga Kerja ke Pemilik Modal & Teknologi.

Baca juga : Gotong Royong Hadapi Krisis

a. Kepemilikan Algoritma
Orang kaya tidak lagi hanya memiliki tanah atau pabrik, tapi memiliki "Agen AI" yang bekerja 24/7 tanpa gaji, tanpa cuti, dan tanpa jaminan sosial.

b. Skala Ekonomi Digital
Sekali sebuah sistem AI dibangun, biaya untuk melayani 1 juta orang hampir sama dengan melayani 1 orang. Keuntungan (profit) akan terkumpul secara eksponensial di tangan segelintir pemilik platform.

c. Aset Fisik (Tanah)
Karena daya beli masyarakat menurun, orang miskin terpaksa menjual aset terakhir mereka (tanah/rumah) untuk bertahan hidup. Orang kaya akan membeli aset ini dengan harga murah, menjadikannya tuan tanah baru di era digital.

2. Nasib Masyarakat Tanpa Lahan (The Landless Class)

Masyarakat yang tidak memiliki lahan dan tidak memiliki skill AI akan terjebak dalam kondisi yang disebut "Prekariat" (kelas sosial yang hidupnya tidak pasti).

  • Pekerjaan Apa Saja?
    Mereka akan bekerja di sektor "Gig Economy" tingkat rendah: menjadi kurir pengantar barang yang diproduksi robot, menjadi pembersih sensor IoT di jalanan, atau menjadi "pemberi label data" (pekerjaan manual melatih AI) dengan upah yang sangat minim.

  • Komoditas Manusia
    Karena tidak punya lahan untuk menanam makanan sendiri, mereka 100% bergantung pada sistem. Mereka harus bekerja ekstra keras hanya untuk membayar kebutuhan dasar yang harganya dikendalikan oleh algoritma pasar.

3. Akankah Ini Terjadi Selamanya? (Titik Balik)

Secara historis, jurang yang terlalu lebar biasanya memicu dua hal: Runtuhnya Sistem atau Revolusi Sosial. Namun, di era teknologi, ada beberapa skenario "Penyelamat":

a. Pajak Robot & Universal Basic Income (UBI)

  • Ada wacana global bahwa perusahaan yang menggunakan AI harus membayar "Pajak Robot". Uang ini kemudian dibagikan kepada masyarakat yang kehilangan pekerjaan sebagai Pendapatan Dasar Semesta. Tanpa ini, ekonomi akan mati karena tidak ada orang yang mampu membeli barang yang diproduksi robot.

b. Kebangkitan "Koperasi Digital"

  • Masyarakat miskin yang tidak punya lahan secara individu harus Bersatu secara Komunal.

  • Solusi: 100 orang yang tidak punya lahan menyewa satu lahan bersama atau membangun vertikal hortikultura di gedung mangkrak secara kolektif. Kekuatan mereka bukan pada kepemilikan pribadi, tapi pada Kolektivitas.

c. Skill "Low-Tech High-Value"

Baca juga : Pemain Tajikistan Happy Puasa Ramadan Di Indonesia

Saat AI menguasai dunia digital, jasa manual yang membutuhkan "sentuhan manusia" akan menjadi mahal. Orang yang bisa memperbaiki instalasi air, tukang kayu manual, atau perawat lansia yang penuh empati akan memiliki posisi tawar lebih tinggi daripada admin kantor yang sudah digantikan AI. 

Kesimpulan: Realitas Pahit vs Perjuangan

Baca juga : Fitch Ratings Revisi Outlook Peringkat Utang Indonesia, Ini Alasannya

Ya, secara sistemik, arus ekonomi saat ini memang mengarah pada ketimpangan ekstrem. Orang yang memiliki lahan dan teknologi akan memiliki "benteng" pertahanan. Orang yang tidak memiliki keduanya akan menjadi "pelayan" sistem.

Apa yang harus dilakukan jika tidak punya lahan?

  1. Investasi pada Skill yang AI tidak bisa: Kreativitas, negosiasi, perbaikan fisik, dan empati.

  2. Membangun Komunitas: Jangan sendirian. Di masa depan, "Bertahan Hidup Sendirian" itu mustahil. Bergabunglah dengan komunitas urban farming, koperasi, atau kelompok barter.

  3. Literasi Teknologi Gerilya: Gunakan AI gratisan untuk meningkatkan produktivitas Anda 10x lipat agar Anda bisa bersaing dengan modal yang kecil.

Di Indonesia, semangat Gotong Royong adalah satu-satunya teknologi sosial yang tidak bisa di-otomatisasi oleh AI manapun. Itulah modal terbesar masyarakat kita untuk mematahkan hukum "yang kaya makin kaya".

Menurut Anda, di lingkungan Anda sekarang, apakah semangat gotong royong ini masih kuat atau sudah mulai luntur tertelan persaingan ekonomi?

Faris Dedi Setiawan
Faris Dedi Setiawan
Founder Whitecyber | Managing Editor at Jurnal Peneliti | AI Agent Architect | Google Cloud Innovator | Championing AI Integrity from Ambarawa for Indonesia

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.