Dark/Light Mode

Seminar Intelijen UI, Pakar Bongkar Siber Hingga Perang Senyap Ancam Indonesia

Sabtu, 18 April 2026 14:01 WIB
Seminar Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris yang digelar di Gedung IASTH UI Salemba, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Foto: IASTH UI
Seminar Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris yang digelar di Gedung IASTH UI Salemba, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Foto: IASTH UI

RM.id  Rakyat Merdeka - Seminar Intelijen 2026 bertajuk Tata Kelola Intelijen dalam Menghadapi Ketidakpastian Geopolitik dan Ancaman Asimetris yang digelar di Universitas Indonesia (UI) Rabu (15/4/2026) menjadi panggung penting untuk mengupas ancaman global yang kian tak terprediksi.

Para pakar sepakat: dunia saat ini tidak lagi sekadar “tidak stabil”, tetapi sudah memasuki fase penuh ketidakpastian yang berbahaya.

Menghadirkan sejumlah narasumber seperti Ridlwan Habib, Stanislaus Riyanta, Broto Wardoyo, serta Soleman B. Ponto, seminar ini menyoroti perubahan drastis lanskap ancaman global.

Dari konflik geopolitik antarnegara besar, krisis energi dan pangan, hingga perang hibrida yang menggabungkan serangan militer dan non-militer, semuanya disebut telah menciptakan “medan tempur baru” yang tidak kasat mata.

Baca juga : Geopolitik Memanas, Lembaga Intelijen Diminta Sinergi Hadapi Ancaman Asimetris

Ancaman pun kini tidak lagi berbentuk konvensional, melainkan menjelma dalam serangan siber, disinformasi digital, hingga infiltrasi kepentingan asing.

Dalam forum tersebut, para pembicara menegaskan bahwa sistem intelijen Indonesia tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Pendekatan yang reaktif dan sektoral dinilai sudah usang.

Sebaliknya, intelijen harus bertransformasi menjadi sistem yang adaptif, berbasis teknologi, serta mampu bergerak cepat dalam membaca situasi global yang terus berubah.

Sorotan tajam juga diarahkan pada lemahnya integrasi data intelijen nasional yang masih terfragmentasi antar lembaga. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat deteksi dini terhadap ancaman strategis.

Baca juga : Lebaran di Tengah Laut, Perwira Pertamina Tetap Jaga Produksi Migas

Selain itu, kemampuan kontra-intelijen disebut perlu diperkuat untuk menghadapi penetrasi asing yang semakin canggih dan tersembunyi.

Tak kalah mengkhawatirkan, ancaman siber disebut berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan deteksi yang dimiliki saat ini. Para pakar mengingatkan bahwa jika tidak segera dibenahi, celah ini bisa dimanfaatkan pihak luar untuk mengganggu stabilitas nasional.

Namun, di tengah tuntutan penguatan tersebut, satu hal yang ditekankan secara tegas adalah: intelijen harus tetap menjadi alat negara, bukan alat kepentingan individu maupun kelompok tertentu.

Prinsip ini dianggap krusial untuk menjaga profesionalisme, netralitas, serta kepercayaan publik. Seminar ini pun menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada keberanian melakukan reformasi sistem intelijen secara menyeluruh bukan hanya dari sisi operasional, tetapi juga tata kelola, teknologi, hingga kualitas sumber daya manusia.

Baca juga : 256 Ribu Kendaraan Balik ke Jakarta, Kakorlantas: Tertinggi Sepanjang Sejarah

Di tengah dunia yang semakin “abu-abu”, satu pesan kuat mengemuka: Indonesia tidak cukup hanya bertahan, tetapi harus mampu membaca ancaman lebih cepat, bergerak lebih cerdas, dan mengambil kendali di tengah ketidakpastian global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.