Dark/Light Mode

Antrean Haji RI Tembus Puluhan Tahun, Masyarakat Diminta Daftar Lebih Awal

Kamis, 7 Mei 2026 18:06 WIB
Jemaah haji Indonesia. Foto: Dok Kemenag
Jemaah haji Indonesia. Foto: Dok Kemenag

RM.id  Rakyat Merdeka - Musim haji 2026 kembali berlangsung dengan pemberangkatan 221.000 jemaah Indonesia ke Tanah Suci. Di balik keberangkatan tersebut, panjangnya antrean haji membuat banyak masyarakat mulai mempertanyakan kapan waktu ideal untuk mendaftar agar tidak menunggu hingga puluhan tahun.

Data Kementerian Agama (Kemenag) per Desember 2024 menunjukkan masa tunggu haji di Indonesia berkisar antara 17 hingga 48 tahun, tergantung daerah masing-masing.

Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan antrean terpanjang mencapai 48 tahun dengan lebih dari 257.000 pendaftar. Sementara itu, Jawa Timur mencatat jumlah antrean terbesar dengan lebih dari 1,1 juta calon jemaah dan masa tunggu sekitar 34 tahun. Masa tunggu di Jawa Barat mencapai 30 tahun, sedangkan DKI Jakarta sekitar 28 tahun.

Kondisi tersebut membuat calon jemaah harus mulai merencanakan perjalanan haji sejak usia muda. Seseorang yang mendaftar pada usia 30 tahun di Jakarta diperkirakan baru berangkat mendekati usia 60 tahun.

Group Managing Director dan Chief Executive Officer Muslim Pro Nafees Khundker mengatakan, masih banyak masyarakat yang menganggap perencanaan haji baru dilakukan setelah kondisi keuangan dan kehidupan mapan. Menurut dia, pola pikir tersebut sudah tidak relevan dengan kondisi antrean saat ini.

Baca juga : ArtSwara Kembali Gelar “Mar”, Musikal Cinta Kenang Karya Ismail Marzuki

“Langkah awal yang lebih cepat menjadi kunci dalam antrean haji saat ini,” ujarnya di Jakarta, Rabu (7/5/2026).

Nafees menjelaskan, setiap penundaan akan membuat waktu tunggu keberangkatan semakin panjang. Oleh sebab itu, masyarakat dinilai perlu mulai mempersiapkan pendaftaran sejak usia produktif.

“Setiap tahun penundaan berarti tambahan waktu tunggu yang sudah panjang,” katanya.

Dia menilai haji selama ini sering dipandang sebagai ibadah yang dilakukan setelah seluruh tanggung jawab hidup selesai. Namun, jumlah pendaftar yang terus meningkat membuat pola tersebut perlu diubah. Menurut dia, kuota haji Indonesia yang tetap di angka 221.000 jemaah per tahun membuat antrean terus bertambah.

Di sisi lain, jutaan Muslim Indonesia juga masih belum mendaftarkan diri untuk mendapatkan nomor porsi keberangkatan. Pemerintah saat ini tengah berupaya meratakan masa tunggu haji antarprovinsi melalui Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025. Rata-rata masa tunggu ditargetkan berada di kisaran 26 hingga 27 tahun.

Baca juga : Marak Tawaran Haji Tanpa Antre, DPR Minta Publik Lebih Waspada

Meski demikian, waktu tersebut dinilai tetap panjang sehingga calon jemaah perlu mengambil langkah lebih awal. Selain persoalan antrean, perhatian juga tertuju pada faktor usia jemaah. Pemerintah Arab Saudi disebut sedang mengkaji kebijakan pembatasan usia jemaah hingga 90 tahun.

Kondisi ini membuat sebagian calon jemaah Indonesia yang telah berusia lanjut menghadapi tantangan tambahan karena estimasi keberangkatan yang semakin lama.

Nafees menyebut, fenomena penundaan pendaftaran haji juga banyak terjadi pada kelompok usia produktif 25 hingga 40 tahun. Padahal, kelompok usia tersebut umumnya sudah terbiasa merencanakan berbagai kebutuhan hidup, termasuk keuangan dan investasi masa depan.

Namun, perencanaan haji disebut masih sering belum menjadi prioritas utama. Muslim Pro yang memiliki lebih dari 10 juta pengguna di Indonesia mencatat sebagian besar pengguna memiliki keinginan untuk menunaikan ibadah haji atau umrah.

Meski demikian, banyak di antaranya belum memiliki rencana konkret untuk memulai proses pendaftaran. Di sisi lain, tren umrah di kalangan generasi muda mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga : Kampung Nelayan BSI Warloka: Harapan Baru Masyarakat Pesisir dari Laut yang Sama

Semakin banyak masyarakat usia 20-an dan 30-an yang menjadikan umrah sebagai langkah awal perjalanan spiritual mereka. Menurut Nafees, tantangan terbesar masyarakat saat ini bukan soal niat, melainkan keberanian memulai langkah awal pendaftaran. Sebab, tanpa setoran awal untuk mendapatkan nomor porsi, seseorang tidak akan masuk dalam antrean keberangkatan haji.

Sebagian besar jemaah Indonesia yang berangkat tahun ini diketahui telah mendaftar sebelum 2015. Keputusan mendaftar lebih awal menjadi faktor utama yang membuat mereka dapat berangkat pada musim haji 2026.

“Antrean haji sudah berjalan sejak lama. Pertanyaannya sekarang, kapan kita mulai masuk ke dalamnya,” tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.