Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Indonesia-Australia Perkuat Kerja Sama Pembinaan Atlet Muda
- Persija Alihkan Fokus ke Persiapan Musim 2026/2027
- Pramono Siapkan 1.000 Mushaf Al-Quran Untuk Peringatan ke 500 Tahun Kota Jakarta
- KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim SAR Evakuasi Penumpang
- Shin Tae-yong Fokus Benahi Fisik dan Taktik Persija
Bandung Makin Panas, Guru Besar ITB Minta Pohon Jangan Ditebang Sembarangan
Selasa, 11 Agustus 2026 20:48 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Ir. Ridwan Sutriadi, S.T., M.T., Ph.D., menilai keberadaan pohon dan ruang hijau harus ditempatkan sebagai bagian dari infrastruktur alami perkotaan.
Keberadaan vegetasi dinilai penting untuk membantu Bandung menghadapi peningkatan suhu, limpasan air hujan, hingga penurunan kualitas lingkungan.
Menurut Ridwan, persoalan tersebut semakin penting di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus mengurangi tutupan vegetasi. Lahan yang sebelumnya mampu menyerap air dan membantu meredam panas perlahan berubah menjadi bangunan, jalan, serta permukaan beton.
“Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan,” kata Ridwan dikutip dari laman ITB.
Ia menegaskan, keberadaan pohon di Kota Bandung tidak semestinya dipandang hanya dari sisi estetika. Pohon di tepi jalan, taman, halaman rumah, hingga bantaran sungai memiliki fungsi ekologis yang berkaitan dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan.
Bandung juga tidak dapat dipandang sebagai kawasan yang berdiri sendiri. Kota tersebut merupakan bagian dari bentang alam Cekungan Bandung yang menghubungkan kawasan hulu, perkotaan, hingga wilayah hilir. Kondisi geografis tersebut membuat persoalan air dan lingkungan di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lainnya.
Topografi Cekungan Bandung yang menyerupai cekungan membuat aliran air dari kawasan yang lebih tinggi, termasuk Bandung bagian utara dan wilayah sekitarnya, bergerak menuju kawasan yang lebih rendah. Ketika semakin banyak permukaan tanah tertutup beton dan semakin sedikit lahan yang mampu menyerap air, limpasan permukaan meningkat dan berpotensi memperbesar risiko genangan.
Karena itu, pohon, taman, tanah terbuka, dan kawasan bervegetasi memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Tanah yang tidak sepenuhnya tertutup permukaan keras memberikan kesempatan bagi air hujan untuk meresap kembali ke dalam tanah.
Baca juga : Bandara Husein Sastranegara Layani Penerbangan Jet Mulai 14 Agustus 2026
“Artinya, ketika satu pohon dipertahankan atau sebuah kawasan hijau dijaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya,” ujar Ridwan.
Menurut dia, ruang hijau dalam skala yang lebih luas ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung. Oleh sebab itu, penanganan persoalan lingkungan di Bandung tidak cukup hanya mengandalkan batas administratif Kota Bandung, tetapi perlu menggunakan pendekatan regional yang memperhitungkan keterkaitan kawasan hulu dan hilir.
Selain membantu pengelolaan air, pohon juga berperan menjaga kenyamanan warga di tengah kepadatan bangunan. Kanopi pohon dapat memberikan keteduhan bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik.
“Kanopi pohon dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik,” katanya.
Vegetasi yang tersambung antara taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai juga dapat membentuk koridor hijau di tengah kawasan perkotaan. Konsep tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat didorong untuk berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik.
Menurut Ridwan, kota yang ramah pejalan kaki tidak cukup hanya menyediakan trotoar. Jalur pejalan kaki juga harus nyaman, teduh, aman, dan terhubung dengan ruang publik lainnya. Dalam konteks itu, pohon dapat dipandang sebagai bagian dari fasilitas perkotaan, bukan sekadar elemen pelengkap.
Ruang hijau juga memiliki fungsi sosial. Taman dan ruang publik hijau dapat menjadi tempat warga berinteraksi, berolahraga, bermain, atau sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari. Dengan demikian, ruang hijau memiliki fungsi ekologis sekaligus sosial.
Namun, menurut Ridwan, penghijauan kota tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak jumlah pohon tanpa memperhatikan keterhubungan ruang hijau. Dalam pendekatan ekologi lanskap, manfaat ruang hijau akan lebih besar apabila taman, jalur hijau jalan, bantaran sungai, halaman permukiman, dan ruang terbuka lainnya membentuk jaringan yang saling terhubung.
Baca juga : YBJB Gelar Batik Walk, Awali Rangkaian Jambore Batik Jabar 2026 Di Kota Bandung
Jaringan tersebut juga dapat menjadi ruang hidup bagi keanekaragaman hayati di tengah dominasi kawasan terbangun. Vegetasi perkotaan turut membantu menyaring polutan dan mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Vegetasi di perkotaan pun berperan dalam membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar,” jelas Ridwan.
Karena itu, perencanaan penghijauan Bandung ke depan tidak hanya perlu melihat jumlah ruang hijau yang tersedia. Lokasi, kualitas, fungsi, dan keterhubungan antarruang hijau juga perlu menjadi pertimbangan dalam pembangunan kota.
Upaya menjaga lingkungan Cekungan Bandung pun tidak selalu membutuhkan proyek besar. Masyarakat dapat memulainya dari lingkungan tempat tinggal melalui langkah yang relatif sederhana dan murah.
Ridwan menyebut pendekatan tersebut sebagai lowest hanging fruit, yakni tindakan yang mudah dilakukan dengan biaya relatif rendah tetapi memberikan manfaat langsung. Warga dapat mempertahankan pohon di halaman rumah, menambah tanaman, mengembangkan kebun komunitas di fasilitas umum RT atau RW, membuat lubang biopori, hingga mengubah lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku.
“Di tingkat lingkungan, misalnya, warga dapat mengembangkan kebun komunitas pada fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan rumah, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku,” tuturnya.
Lorong permukiman juga dapat dibuat lebih teduh dengan tanaman merambat pada pagar atau pergola. Bangunan publik dan lingkungan permukiman dapat memanfaatkan sistem penampungan air hujan untuk membantu mengelola limpasan air.
Gerakan tersebut sekaligus dapat menjadi ruang kolaborasi antar-generasi. Pengetahuan warga senior mengenai tanaman lokal dapat dipadukan dengan kemampuan generasi muda dalam memanfaatkan teknologi dan mengelola informasi lingkungan.
Baca juga : Wali Kota Farhan Jajaki Skema Buy The Service Untuk Pengelolaan PJU Bandung
Ridwan melihat generasi muda memiliki peluang besar untuk terlibat lebih jauh melalui pemanfaatan teknologi. Salah satunya dengan melakukan pemetaan partisipatif untuk mengidentifikasi titik yang terasa lebih panas, kawasan dengan dominasi tutupan beton, serta kondisi pohon dan vegetasi di lingkungan sekitar.
“Sensor suhu dan kelembapan sederhana juga dapat digunakan untuk membangun data mengenai kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, kegiatan penghijauan tidak berhenti pada aktivitas menanam pohon. Data yang dikumpulkan masyarakat dapat digunakan untuk mengetahui lokasi yang paling membutuhkan penghijauan, memantau pertumbuhan vegetasi, serta mengevaluasi perubahan kondisi lingkungan dari waktu ke waktu.
Masyarakat pun dapat mengambil peran lebih besar, bukan hanya sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai bagian dari pengumpulan data dan perawatan lingkungan kota.
Ridwan menilai persoalan panas perkotaan, genangan, berkurangnya daerah resapan, dan kualitas ruang publik tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena itu, ruang hijau tidak semestinya dianggap sebagai ruang sisa setelah pembangunan selesai.
Vegetasi, menurut dia, justru perlu ditempatkan sejak awal sebagai salah satu komponen utama dalam perencanaan kota. Pohon di halaman rumah, pohon peneduh di trotoar, taman lingkungan, hingga kawasan hijau dalam skala regional merupakan bagian dari sistem yang membantu Cekungan Bandung tetap layak huni.
“Menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota,” ujar Ridwan.
Sebaliknya, keberadaan pohon dapat membantu memastikan pembangunan tetap memberi ruang bagi air untuk meresap, menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi warga, menyediakan ruang untuk beraktivitas, serta menjaga kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya