Dark/Light Mode

Presiden Hadiri Peluncuran Buku Bahlil Lahadalia

“Punya DNA Petarung, Bisa Jadi Pemimpin Yang Berhasil”

Sabtu, 8 Agustus 2026 07:50 WIB
Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran 10 buku karya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Foto: Dwi Pambudo/RM.id)
Presiden Prabowo Subianto menghadiri peluncuran 10 buku karya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Foto: Dwi Pambudo/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bahlil Lahadalia termasuk politisi istimewa. Di hari ulang tahunnya yang ke-50, dia meluncurkan 10 buku, buah karya sekaligus bukti kerjanya selama mengabdi di Pemerintahan. Acara ulang tahun dan peluncurkan bukunya berlangsung di Djakarta Theater, Jumat (7/10/2026), dibanjiri banyak sekali tokoh dan pejabat negara. Bahkan, Presiden Prabowo, yang mengaku agak flu pun, hadir di tengah-tengah ribuan orang yang datang ke acara itu. Kata Presiden, “Bahlil, ilmunya apa beliau ini, sehingga akhirnya saya menguat-nguatkan diri, hadir ke sini,” ujarnya sambil tertawa. Padahal, sebelumnya, Presiden sempat bilang kemungkinan tidak dapat hadir. 

Sepuluh buku yang diluncurkan, judul-judulnya terkait dengan pengalaman hidupnya saat berjuang dari Papua hingga berkiprah ke Jakarta. Beberapa buku berisi hasilhasil kerjanya selama menjabat sebagai Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) di era Presiden Jokowi, hasil dari penelitiannya selama menempuh doktoral di UI dan juga sebagian capaian kerjanya di posisi sekarang, sebagai Menteri ESDM.

Judul buku pertama, Hilirisasi SDA Indonesia: Transformasi dan Mandat Konstitusi. Kedua, Batang Magnet Investasi: Kisah di Balik Lahirnya Kawasan Industri Terpadu Batang. Ketiga, Investasi Inklusif dan Berkelanjutan: Konsep dan Capaian. Keempat, Koboi dari Timur Jaring Investasi Global. Kelima, Bertahan, Berjejaring, Bertindak (Melangkah dari Timur ala Bahlil Lahadalia). Keenam, Tuan di Negeri Sendiri: Navigasi Hilirasi Berkeadilan. Ketujuh, Seni Menuntaskan Misi: Negosiasi, Formulasi, Eksekusi. Kedelapan, Transformasi Energi Negeri: Resiliensi, Transisi Energi, dan Hilirisasi. Kesembilan, Seorang yang Terlanjur Disimpulkan. Dan buku kesepuluh, Menanam Fondasi Kendaraan Listrik Nasional.

Kata Luhut Pandjaitan, buku-buku ini menarik karena isinya bukan sekedar paparan dari seminar ke seminar tapi cerita dari kisah hidup Bahlil Lahadalia sendiri. Mulai dari perjuangannya saat sekolah, sampai kerja keras untuk hilirisasi dan memasukkan investasi ke Indonesia. “Dulu banyak yang menertawakan soal hilirisasi. Tapi sekarang banyak yang antri, ingin investasi. Hasil kerjanya jelas. Lihat saja yang terjadi, hilirisasi nickel, hilirisasi di Morowali,” kata Luhut. Buku ini juga berisi data, sehingga sangat berisi. 

Baca juga : Cadev Turun Sedikit, Tapi Aman

Selain Pak Luhut, juga ada Rosan Roeslani yang diberi kesempatan bicara. Rosan mengenal Bahlil lebih dari 20 tahun, sejak belum jadi siapasiapa. “Saya sudah kenal Bahlil, sejak sebelum jadi Ketua HIPMI Papua. Dan tiap ke datang Jakarta, saya ketemu dengannya,” kata Rosan. Begitu Bahlil terpilih menjadi Ketua HIPMI Papua, Rosan mengaku pernah bilang begini,” Adinda, percaya sama saya, kelak akan jadi orang besar,” katanya mengenang. Waktu itu Bahlil cuma berucap, “Ah, Kanda bisa saja,” katanya. Rosan dan Bahlil memang biasa saling menyapa dengan sebutan Kanda dan Dinda. 

Menurut Rosan, kelebihan Bahlil itu banyak. Selalu menjaga silaturahmi dan pertemanan dengan siapapun. Selain itu, pintar dan sering memiliki ide di luar apa yang ada di pikiran banyak orang. “Kalau cerdiknya sih, pasti,” kata Rosan sambil tertawa. 

Kepintaran dan kecerdikan Bahlil diakui oleh Presiden. Mungkin sekolahnya tidak terkenal, dan kampusnya tidak ada di Google Maps. Tapi asal sekolah, kata Presiden, tidak menjamin kepintaran seseorang. “Saya mengenal Bahlil mungkin belum lama. Tapi, saya mengakui, kecerdasannya, keberaniannya,” kata Presiden. 

Bahlil kecil mengaku pernah menjadi sopir angkot dan menjalani kehidupan yang keras di terminal. Saat itu dia masih bersekolah SMP di Fakfak, Papua. “Saya pernah dipukul almarhum ayah, dicambuk rotan sambil diperingatkan: kamu itu mau jadi apa, hidup begitu terus,” katanya mengenang. Sejak itu, dia tanamkan tekad di hatinya bahwa kelak harus bekerja dan memberikan hasil terbaik untuk orang tuanya. “Saat ini, saya tidak pernah menyesal lahir dari ayah yang kuli bangunan, dan ibu yang buruh cuci. Beliau mengajari saya kejujuran, loyalitas. Mungkin kalau bukan dari rahim buruh cuci, yang lahir bukan Bahlil seperti yang sekarang,” katanya, haru. 

Baca juga : Politisi Muslim Guncang Panggung Politik Amerika

Kepala negara mengatakan, perjuangan Bahlil bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda. Bahwa berbagai kondisi yang berat, banyak rintangan, ternyata bukan hambatan untuk sukses, bahkan menjadi pemimpin. 

“Pemimpin itu ada yang dilahirkan, ada yang dibesarkan. Bisa datang dari keadaan yang sudah mapan, kaya dan kuat. Tapi bisa juga dari kehidupan yang sederhana. Namun, mereka para pemimpin ini memiliki DNA petarung, sehingga bisa berhasil,” kata Presiden. 

Kepemimpinan itu bukan hadiah. Tapi didapatkan dari kerja keras, keberanian, dan ditopang nilai-nilai kebaikan. “Hanya orang yang terbiasa menghadapi hambatan, kesulitan dan penderitaan, yang bisa jadi pemimpin,” ujar Presiden. Terpenting, jangan melupakan kebajikan dan empati. “Sebab menjadi pemimpin tanpa kebajikan, itu bisa berbahaya karena sikapnya nanti tidak arif,” tambahnya. 

Presiden Prabowo menyampaikan sambutan pada peluncuran 10 buku karya Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. (Foto: Dwi Pambudo/RM.id)

Mendapatkan banyak ucapan dan pujian, Bahlil merasa terharu. Bahkan, Ketua Umum Golkar itu sempat menangis saat mendengar sambutan, cerita dan kisah masa perjuangannya. Diantara ribuan yang hadir itu, tampak para sesepuh Golkar, seniornya di partai, juga kawan-kawan seperjuangannya. Hampir seluruh kabinet merah putih datang. Juga sejumlah Gubernur dan para ketua DPD Golkar di daerah. Bahlil menceritakan kisah-kisah lucu, mengharukan di masa-masa dia sulit. Beberapa seniornya di Jakarta, dia sebut dan diucapkan terimakasih karena dulu sering membantu memberi ongkos untuk pulang atau saat dia kekurangan. 

Baca juga : Geledah Kota Bengkulu, KPK Selidiki Suap Pengelolaan Limbah

“Perjalanan hidup adalah misteri. Manusia bisa merencanakan, tapi takdir adalah kuasa Illahi. Tak pernah terbersit sedikitpun, saya anak Papua, akhirnya bisa seperti sekarang. Demi Allah, tak pernah terlintas sebelumnya. Kami di Papua kerja keras, pernah busung lapar,” katanya. 

Nasibnya bisa berubah karena punya tekad. Kerja keras, konsisten dan tidak malas. “Kalau bicara gagah, ganteng, cerdas, orang-orang di Pulau Jawa banyak yang seperti itu. Kita kalah. Jadi, yang harus kita punya adalah kesetiaan, loyalitas dan komitmen,” tegasnya. [Ratna]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.