Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Timnas Putri U-17: Dari Clairefontaine Prancis hingga Panggung Internasional
- KPK Ungkap Rektor Unsoed di-OTT di Jakarta
- Kasus Bappenda Kabupaten Bogor, KPK Sita Duit Rp 1,5 M
- KPK Usut Dugaan Pemotongan Upah Pungut di Bappenda Kabupaten Bogor
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
BRIN: Danau Bandung Purba Bisa Picu Amplifikasi dan Likuifaksi Saat Gempa
Jumat, 21 Agustus 2026 08:08 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kota Bandung yang kini dipenuhi permukiman dan berbagai infrastruktur modern ternyata berdiri di atas jejak Danau Bandung Purba. Endapan yang ditinggalkan Danau Bandung Purba penting diperhatikan, karena karakter materialnya dapat memperkuat efek guncangan gempa.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat menjelaskan, keberadaan Danau Bandung Purba telah dibuktikan melalui penelitian geologi, termasuk pengeboran yang menemukan lapisan endapan danau dan rawa. Endapan itu terbentuk dalam perjalanan geologi puluhan ribu tahun.
Menurut Edi, pembentukan Danau Bandung Purba berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut menghasilkan material vulkanik yang membendung aliran Sungai Citarum purba, sehingga air menggenangi Cekungan Bandung dan membentuk danau.
Danau itu diperkirakan mulai terbentuk sekitar 90 ribu tahun lalu, dan bertahan hingga sekitar 16 ribu tahun lalu.
“Letusan gunung itu membendung sungai di tengah Danau Bandung. Aliran air terus menerus ada, menggenangi seluruh dataran Bandung, menjadi sebuah danau,” jelas Edi, Kamis (20/8/2026).
Baca juga : BTN dan BRIN Jalin Kerja Sama Layanan Perbankan
Dalam perkembangannya, air danau menemukan jalan keluar dengan mengikis batuan melalui jalur struktur rekahan, melalui kawasan yang sekarang dikenal sebagai Curug Jompong.
Bersamaan dengan proses tersebut dan faktor alam lainnya, genangan secara bertahap menyusut hingga terbentuk bentang Cekungan Bandung seperti yang dikenal saat ini. Namun, mengeringnya danau tak serta-merta menghilangkan material yang ribuan tahun mengendap di dasarnya.
"Jejak inilah yang penting dipahami dalam konteks kebencanaan," cetus Edi.
Hasil pengeboran menunjukkan adanya endapan rawa yang kaya material organik, lapisan lempung, endapan vulkanik, serta sisipan lapisan pasir.
Sebagian endapan tersebut hingga kini belum mengalami proses litifikasi, konsolidasi, dan pemadatan secara sempurna. Sehingga, relatif lebih lunak dibandingkan batuan keras di sekeliling cekungan.
Baca juga : Kejar Kemandirian Teknologi, BRIN Kembangakan AI, Semikonduktor, dan Nuklir
“Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak. Bagian permukaan saja yang keras yang kita tinggali, tetapi sebenarnya di bawah itu masih ada bagian-bagian endapan yang belum terkonsolidasi dan terkompaksi dengan baik,” beber Edi.
Karakter endapan tersebut menjadi penting diperhatikan, jika suatu saat Cekungan Bandung menerima gelombang gempa.
Amplifikasi Gempa
Edi menjelaskan, perbedaan karakter antara batuan keras yang mengelilingi Bandung dan material lebih lunak yang mengisi cekungan dapat menimbulkan amplifikasi, yakni penguatan guncangan gempa pada lapisan tanah tertentu.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti material lunak di dalam wadah yang akan ikut bergerak, ketika wadah tersebut diguncang.
Edi menerangkan, hampir seluruh bagian dasar dan sekeliling Cekungan Bandung disusun oleh batuan-batuan keras dari produk gunung api dan batuan sedimen yang jauh lebih tua. Bagian tengahnya, dihuni batuan yang masih relatif lunak dengan umur yang jauh lebih muda.
Baca juga : Presiden Perkuat Kolaborasi Riset Demi Kemajuan Industri
"Kalau dikasih getaran, ada efek namanya amplifikasi. Amplifikasi ini yang akan berbahaya bagi Kota Bandung, kalau ada gempa,” ujar Edi.
Potensi tersebut menjadi relevan, mengingat lokasi Bandung tidak jauh dari sejumlah sumber gempa bumi di darat. Salah satu yang menjadi perhatian adalah Sesar Lembang, yang membentang sekitar 29 kilometer berarah barat – timur dan berjarak sekitar 10 kilometer di utara kota Bandung.
Selain Sesar Lembang, penelitian geofisika juga menunjukkan indikasi keberadaan patahan-patahan lain di bawah permukaan Cekungan Bandung, yang tidak semuanya terlihat di permukaan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya