Dark/Light Mode

BRIN: Danau Bandung Purba Bisa Picu Amplifikasi dan Likuifaksi Saat Gempa

Jumat, 21 Agustus 2026 08:08 WIB
Kota Bandung berdiri di atas Danau Bandung Purba, yang terbentuk dalam perjalanan geologi puluhan ribu tahun. (Foto: BRIN)
Kota Bandung berdiri di atas Danau Bandung Purba, yang terbentuk dalam perjalanan geologi puluhan ribu tahun. (Foto: BRIN)

 Sebelumnya 
Dalam konteks ini, Edi menekankan pentingnya memahami karakteristik Danau Bandung Purba secara lebih jauh. Menurutnya, karakter endapan bekas danau dapat mempengaruhi respons tanah, ketika gelombang gempa dari suatu sumber mencapai Cekungan Bandung.

Karena itu, Edi berpendapat risiko gempa tidak cukup dilihat hanya dari sumber gempanya, tetapi juga dari kondisi geologi wilayah yang menerima guncangan.

“Ini yang menjadi perhatian khusus karena Sesar Lembang paling dekat dengan Bandung. Sementara Bandung adalah danau purba, yang kalau bergetar ada efek amplifikasinya,” ungkapnya.

Potensi Likuifaksi 

Keberadaan lapisan pasir yang mempunyai sifat porositas tinggi pada endapan danau Bandung juga perlu diperhatikan, karena terkait potensi likuifaksi.

Edi menjelaskan, ketika lapisan pasir jenuh air menerima tekanan akibat guncangan gempa, tekanan air di dalam material dapat meningkat dan mendorong air serta pasir menuju permukaan. Kondisi tersebut berpotensi memicu penurunan tanah.

Baca juga : BTN dan BRIN Jalin Kerja Sama Layanan Perbankan

Meski begitu, Edi tidak menyamakan potensi likuifaksi di Bandung dengan peristiwa likuifaksi berskala besar yang pernah terjadi di daerah lain, seperti di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Penjelasannya menekankan bahwa keberadaan lapisan pasir dan air tanah jenuh pada endapan Danau Bandung Purba merupakan salah satu kondisi geologi yang perlu menjadi kajian risiko kegempaan daerah Bandung, karena berpotensi memiliki dampak negatif. 

Edi menilai pentingnya memberikan perhatian lebih pada kondisi bawah permukaan, karena kawasan Cekungan Bandung telah berkembang menjadi wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur yang tinggi.

Berbagai bangunan dan infrastruktur berdiri di atas endapan yang memiliki karakter geologi berbeda-beda.

"Karena itu, pemahaman mengenai struktur bawah permukaan diperlukan sebagai bagian dari upaya mitigasi risiko gempa," ucap Edi. 

Baca juga : Kejar Kemandirian Teknologi, BRIN Kembangakan AI, Semikonduktor, dan Nuklir

Pembangunan di Bandung harus memperhatikan kondisi geologi, sekaligus standar teknis bangunan tahan gempa.

“Pembangunan di Bandung ini harus melihat kode bangunan. Harus diperhatikan kekuatan secara tekniknya seperti apa. Kalau ada gempa besar, bagaimana bangunannya,” tegasnya.

Edi mengingatkan, gempa tak selalu terjadi dalam interval waktu yang pendek, tetapi konsekuensinya dapat menjadi besar. Karena itu, pengetahuan mengenai sejarah Danau Bandung Purba seharusnya tidak berhenti sebagai cerita mengenai masa lalu Bandung.

Jejak geologinya justru menjadi informasi penting untuk memahami karakter wilayah yang kini dihuni jutaan orang.

“Cekungan Bandung ini rentan terhadap bencana geologi, terutama gempa bumi, likuifaksi, penurunan tanah dan longsor dibagian batas cekungan,” urai Edi.

Baca juga : Presiden Perkuat Kolaborasi Riset Demi Kemajuan Industri

"Kondisi itu perlu direspons melalui mitigasi struktural maupun nonstruktural, termasuk memperkuat bangunan, serta terus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap risiko bencana di lingkungan tempat tinggalnya," pungkasnya. 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.