Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Harlah Ke-69, Jatman Ajak Warga NU Perkuat Pendidikan Ruhani Dan Jernihkan Hati
Kamis, 15 Oktober 2026 20:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman) mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat pendidikan ruhani melalui amalan tarekat untuk menjernihkan hati dan membangun persatuan organisasi.
Ajakan tersebut disampaikan Mudir Ali Idarah Aliyyah Jatman KH Ali Masykur Musa dalam puncak tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-69 Jatman di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026) malam.
“Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat,” kata Ali Masykur di hadapan jamaah.
Ia mengatakan pendidikan ruhani menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan zaman, ketika sistem pendidikan modern cenderung menitikberatkan kecerdasan kognitif dan keterampilan teknis, tetapi kurang memberi perhatian pada dimensi spiritual.
Menurut dia, kondisi hati berperan penting dalam menentukan perilaku, tindakan, dan keputusan seseorang. Hati yang jernih akan membantu manusia menjalankan amal dengan lebih baik, sedangkan hati yang tidak terjaga dapat mendorong seseorang melakukan kesalahan dan melanggar syariat.
Baca juga : Ali Masykur Musa: Meneguhkan Komitmen Wathaniyah NU
“Banyak orang yang salah, melanggar syariat, itu bukan karena matanya yang buta, tapi sungguh yang buta adalah hatinya,” ujarnya, mengutip Surah Al-Hajj ayat 46.
Ali Masykur menegaskan tarekat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi NU. Amalan tersebut juga menjadi salah satu sumber inspirasi para pendiri NU dalam merumuskan gerakan organisasi di bawah bimbingan Syekhona Kholil Bangkalan.
Karena itu, ia mendorong warga NU kembali menekuni tarekat sebagai bagian dari upaya memperkuat kehidupan spiritual dan menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan organisasi.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan kemampuan mengelola hati merupakan modal penting dalam mengembangkan organisasi.
Menurut dia, persatuan sebagai salah satu syarat kemajuan organisasi dapat terwujud apabila setiap anggota mampu menjaga hubungan batin dan membangun keterhubungan satu sama lain.
Baca juga : JATMAN NU-Universitas Teknik Bukhara Kembangkan Pendidikan Spiritual
Gus Kikin menjelaskan semangat persatuan tersebut tercermin dalam kiprah Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari saat mendirikan NU hingga membentuk Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) untuk melawan kolonialisme.
Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai persatuan yang terkandung dalam Qanun Asasi NU, yang menekankan pentingnya keterhubungan hati tidak hanya di kalangan umat Islam yang berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga di tengah perbedaan pandangan.
“Tampaknya itu apa yang ada di Qanun Asasi, yang disebut hati itu tersambung bukan hanya di kalangan umat Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama’ah, bahkan paham yang berbeda-beda pun ikut,” kata pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya melatih spiritualitas dalam menjalankan ibadah agar seseorang dapat menjaga kekhusyukan dan tidak mudah teralihkan oleh urusan duniawi.
Menurut Gus Kikin, shalat yang dijalankan tanpa pembinaan spiritual berisiko kehilangan kekhusyukan karena pikiran masih dipenuhi berbagai kepentingan duniawi.
Baca juga : JATMAN Pusat Sahkan Kelengkapan Organisasi
“Nah ini kalau tidak diasah, shalatnya itu susah, baru takbiratul ihram itu sudah ingat macam-macam. Enggak tersambung dengan Allah,” ujarnya.
Padahal, lanjut dia, shalat memiliki peran penting dalam mencegah seseorang melakukan perbuatan tercela. Oleh karena itu, PBNU bersama Jatman perlu meningkatkan upaya pendidikan berbasis ruhani agar pembinaan spiritual menjadi bagian penting dalam kehidupan warga NU.
“Ini kita harus lebih serius lagi di dalam melakukan pendidikan hati ini, dan yang bisa melakukan dengan serius itu adalah Jatman ini,” kata Gus Kikin.
Dalam acara tersebut, Gus Kikin juga melakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas kiprah Jatman selama 69 tahun dalam mengawal tradisi tasawuf di lingkungan NU. Prosesi itu didampingi sejumlah pengurus Jatman, antara lain Ali Masykur Musa, Sekretaris Umum Jatman KH Ali M Abdillah, Koordinator Lajnah Mubahatsah Masail Ash-Shufiyah Jatman Syekh Rohimuddin Nawawi al-Bantani, dan Rais Syu’biyyah Jatman Jombang KH Abdul Kholiq Hasan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya