Dark/Light Mode

Bahlil Resmikan Kilang LPG Cilamaya untuk Tekan Impor

Jumat, 16 Oktober 2026 11:30 WIB
Foto: Kementerian ESDM.
Foto: Kementerian ESDM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah memperkuat upaya mengurangi ketergantungan impor LPG melalui pengoperasian Kilang LPG Cilamaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meresmikan fasilitas tersebut pada Kamis (15/10/2026).

Kilang tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan potensi gas domestik dan memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Kilang LPG Cilamaya merupakan hasil kolaborasi PT Pertamina (Persero) dan PT Energi Nusantara Perkasa (ENP), dengan memanfaatkan pasokan gas dari wilayah hulu Offshore Northwest Java (ONWJ).

“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, hari ini tanggal 15 Oktober, akhirnya saya mengajak kita semua untuk mendoakan agar peresmian hari ini bisa berjalan dengan baik,” ujar Bahlil saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya, Kamis (15/10/2026).

Baca juga : Bahlil Gaspol Perluas Listrik Desa, Sasar Wilayah Terpencil

Bahlil menegaskan, penguatan ketahanan energi nasional menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah hingga Eropa Timur, turut memicu ketidakstabilan pasokan energi.

Menurut dia, kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,5 juta ton per tahun. Jika ditambah kebutuhan sektor industri, termasuk di kawasan Cilegon, total kebutuhan LPG Indonesia diperkirakan mencapai 11 juta hingga 12 juta ton per tahun.

Sementara itu, produksi LPG dalam negeri baru berada di kisaran 1,8 juta ton per tahun. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta hingga 8 juta ton LPG setiap tahun.

Ketergantungan terhadap impor tersebut turut memengaruhi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama ketika harga minyak dunia meningkat.

Baca juga : Bahlil: Dunia Kini Lirik Produk Hijau, Transisi Energi Jadi Kunci Daya Saing

“Begitu ICP (Indonesian Crude Price) rata-rata berada di angka 90 sampai 100 dolar per barel, subsidi kita berada di atas hampir 100 triliun rupiah,” ujar Bahlil.

Karena itu, pengoperasian Kilang LPG Cilamaya dinilai menjadi salah satu langkah untuk mengoptimalkan sumber daya energi domestik, menekan ketergantungan pada pasokan impor, serta membantu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa negara.

Direktur Utama PT Energi Nusantara Perkasa Sarjono menyampaikan apresiasi kepada Kementerian ESDM, SKK Migas, Pertamina Group, dan seluruh pemangku kepentingan yang mendukung realisasi proyek tersebut.

Sarjono menyebutkan, total nilai investasi dan aset Kilang LPG Cilamaya mencapai sekitar 36,93 juta dolar AS.

Kehadiran fasilitas ini juga menambah portofolio ENP yang sebelumnya telah mengoperasikan Kilang LPG Gresik di Jawa Timur selama hampir 19 tahun, dengan total produksi mencapai 1 juta ton LPG.

Baca juga : Ekspor Nikel Ditargetkan Tembus USD 45 M pada 2026, Bahlil Andalkan Hilirisasi

Dengan beroperasinya Kilang LPG Cilamaya, ENP kini mengelola dua fasilitas pengolahan LPG dengan kapasitas total 140 MMSCFD.

Sarjono berharap, keberadaan kilang tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi upaya Indonesia memenuhi kebutuhan energi secara lebih mandiri.

“Semoga Kilang LPG Cilamaya menjadi bagian dari langkah nyata menuju Indonesia yang semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan energi, dari Cilamaya untuk ketahanan energi nasional,” harapnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.