Dark/Light Mode

LPOI Luncurkan Buku Historiografi Islam Nusantara

Sabtu, 17 Oktober 2026 15:21 WIB
Foto: LPOI.
Foto: LPOI.

RM.id  Rakyat Merdeka - Islam Nusantara bukan sekadar bagian dari sejarah penyebaran agama, melainkan juga kekuatan yang membentuk peradaban Indonesia melalui pendidikan, perdagangan, kebudayaan, hingga perjuangan kebangsaan.

Perspektif sejarah tersebut diangkat Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) melalui peluncuran dan bedah buku Historiografi Islam Nusantara di Hotel Deka, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/10/2026).

Ketua Umum LPOI Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj mengatakan, memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri kapan Islam datang, siapa yang menyebarkannya, atau bagaimana ajarannya berkembang di berbagai wilayah.

Diperlukan kesadaran sejarah untuk memahami interaksi Islam dengan kebudayaan lokal, pembentukan institusi sosial, perkembangan jaringan pengetahuan, serta kontribusinya terhadap perjalanan panjang peradaban Indonesia.

“Memahami Islam Nusantara tidak cukup hanya dengan menelusuri kapan Islam datang, siapa yang menyebarkannya, atau bagaimana ajaran Islam berkembang di berbagai wilayah. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran sejarah untuk memahami bagaimana Islam hadir, berinteraksi dengan kebudayaan lokal, membentuk institusi sosial, mengembangkan jaringan pengetahuan, serta berkontribusi terhadap perjalanan panjang pembentukan peradaban Indonesia,” ujar Said Aqil saat membuka pernyataannya dalam peluncuran dan bedah buku tersebut.

Said Aqil, yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan penulis buku Historiografi Islam Nusantara sebanyak 11 jilid, menjelaskan bahwa buku tersebut didedikasikan untuk mengajak pembaca memahami historiografi Islam Nusantara sebagai ruang kajian ilmiah yang dinamis, terbuka terhadap perbedaan perspektif, dan terus berkembang seiring ditemukannya sumber sejarah baru serta munculnya beragam pendekatan penelitian.

Menurut dia, fakta-fakta sejarah Islam Nusantara dapat ditafsirkan secara berbeda, bergantung pada perspektif, sumber, metode, dan kerangka analisis yang digunakan.

Baca juga : Ayah Mansuri Luncurkan Buku, Rangkul Anak-Anak yang Tumbuh Tanpa Ayah

Perbedaan penafsiran itu telah melahirkan diskusi ilmiah yang panjang dan dinamis mengenai asal-usul, jalur penyebaran, karakter perkembangan, serta kontribusi Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara.

“Dilihat dari perspektif sejarah, Islam di Nusantara tidak hanya hadir sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Islam juga berperan dalam membentuk jaringan pendidikan, perdagangan, hukum, diplomasi, bahasa, sastra, kebudayaan, serta berbagai institusi sosial dan politik,” kata Said Aqil, yang juga merupakan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah.

Kontribusi tersebut, lanjutnya, dapat ditelusuri melalui perkembangan lembaga pendidikan Islam, tradisi keilmuan, jaringan ulama, manuskrip keagamaan, kesusastraan, gerakan sosial, serta keterlibatan masyarakat Muslim dalam dinamika kebangsaan.

Perkembangan organisasi Islam modern, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan berbagai organisasi Islam yang lahir sebelum kemerdekaan, juga memperlihatkan bahwa kehidupan Islam di Indonesia berkembang melampaui praktik ritual keagamaan.

Organisasi-organisasi tersebut menjadi bagian dari dinamika sosial yang berkaitan dengan pendidikan, pelayanan masyarakat, pemikiran keagamaan, dan perubahan kehidupan publik.

Dalam kerangka historiografi, Said Aqil menegaskan bahwa organisasi Islam tidak semestinya hanya ditempatkan sebagai objek penelitian.

Organisasi Islam juga perlu dipahami sebagai subjek aktif yang menghasilkan pengetahuan, menyimpan memori kolektif, serta mewariskan pengalaman sejarah melalui dokumen, arsip, manuskrip, catatan organisasi, kesaksian lisan, dan berbagai sumber internal lainnya.

Baca juga : Luncurkan Buku, Rifyan Ridwan Saleh Deklarasi Maju Ketum PB HMI

Said Aqil, yang juga Ketua Umum Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), menambahkan bahwa pengembangan historiografi Islam Nusantara merupakan upaya memperluas sumber, perspektif, dan pelaku dalam penulisan sejarah Indonesia.

“Tujuannya bukan membangun sejarah yang bersifat apologetik atau mengunggulkan kelompok tertentu, melainkan menghadirkan kajian ilmiah yang menempatkan masyarakat Muslim Nusantara sebagai pelaku sejarah yang aktif, kreatif, dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan peradaban,” ujarnya.

Merekonstruksi Sejarah untuk Generasi Mendatang

Sementara itu, Sekretaris Jenderal LPOI sekaligus penulis buku, Imam Pituduh, mengatakan penerbitan Historiografi Islam Nusantara merupakan bagian dari upaya menyambut Hari Santri 2026, merekonstruksi narasi sejarah Islam di Nusantara, serta mewariskan pengetahuan sejarah kepada generasi mendatang.

Menurut Imam, LPOI memandang penting penerbitan buku karya Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj dan dirinya tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap perjalanan sejarah Islam Nusantara.

Surabaya dipilih sebagai lokasi peluncuran awal dan bedah buku karena memiliki keterkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai upaya menapaktilasi sejarah Nusantara sekaligus menggali semangat perjuangan para wali dan kejayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Imam menilai, di tengah ruang publik modern yang dipenuhi arus informasi cepat, sejarah kerap hadir dalam bentuk narasi ringkas dan terfragmentasi yang tidak selalu didukung bukti memadai.

Baca juga : Bappenas Luncurkan Buku MotoGP Mandalika

Penyederhanaan maupun manipulasi masa lalu, menurut dia, dapat memengaruhi cara masyarakat memahami identitas, hubungan antarkelompok, serta perjalanan bangsanya.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan fakta sejarah, interpretasi, dan opini; memeriksa sumber; memahami konteks; serta menilai suatu narasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Imam, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal MIAI, menegaskan pentingnya penguatan literasi sejarah agar masyarakat tidak mudah menerima narasi masa lalu tanpa memeriksa sumber dan bukti yang mendasarinya.

Acara peluncuran dan bedah buku Historiografi Islam Nusantara tersebut dihadiri anggota Wantimpres H. Soekarwo atau Pakde Karwo, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, pengurus LPOI, para rektor perguruan tinggi negeri dan swasta, perwakilan pondok pesantren di Jawa Timur, serta sejumlah tokoh terkemuka di wilayah tersebut.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.