Dark/Light Mode

Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (8): KH Said Aqil Siroj, Sang Intelektual NU

Minggu, 30 Agustus 2026 22:31 WIB
KH Said Aqil Siroj. Foto: RM.id
KH Said Aqil Siroj. Foto: RM.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, kembali memunculkan nama besar yang tak asing di telinga kaum nahdliyin. Berdasarkan hasil akhir tabulasi suara pada Sidang Pleno IV, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj terpilih menduduki urutan kedelapan dengan perolehan 273 suara atau sekitar 5,8 persen. 

Keterpilihannya ini memastikan langkah sang mantan Ketua Umum PBNU tersebut untuk kembali berkontribusi menata jamiyah melalui posisinya sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa).

Sebagai pengingat, Ahwa adalah sistem perwakilan berupa majelis kiai sepuh yang bertugas khusus untuk mufakat memilih Rais Aam PBNU demi menjaga tradisi musyawarah yang damai. 

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (7): KH M Anwar Manshur, Sesepuh Lirboyo

Kehadiran Kiai Said di majelis istimewa ini mempertegas panjangnya catatan pengabdian beliau di tubuh jamiyah. Lahir di Cirebon pada 3 Juli 1953, Kiai Said merupakan putra kedua dari pasangan pendiri Pondok Pesantren KHAS Kempek, KH Aqil Siroj dan Nyai Hj Afifah Harun. 

Tumbuh besar di pusaran keluarga pengasuh pesantren membuat akar tradisi keilmuan dan akhlak santri menancap amat kuat di dalam dirinya sejak belia.

Kapasitas keilmuan Kiai Said ditempa lewat jalan berliku yang memadukan pendidikan pesantren salaf dan jenjang akademik internasional. Penempaan tradisionalnya dilalui dari bilik Pesantren KHAS Kempek, Pesantren Lirboyo Kediri, hingga Pesantren Al-Munawwir Krapyak di Yogyakarta. 

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (6): KH Anwar Iskandar, Ulama Pengayom Umat

Pengembaraan intelektualnya kemudian membawanya ke Arab Saudi. Ia berhasil meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas King Abdul Aziz, Jeddah (1982), berlanjut menyelesaikan magister Perbandingan Agama (1987) dan doktor bidang Aqidah serta Filsafat Islam (1994) dari Universitas Ummul Qura, Makkah, dengan predikat gemilang.

Kiprah organisasinya di tingkat pusat mulai moncer saat ia dipercaya menjadi Wakil Katib ‘Aam PBNU pada tahun 1994, bersinergi langsung di bawah kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Ilyas Ruhiyat. Puncak pengabdian strukturalnya tertoreh sejarah saat ia didaulat memegang pucuk pimpinan sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode, yakni dari 2010 hingga 2021. 

Di luar hiruk-pikuk organisasi, nyala api kecintaannya pada keilmuan diwujudkannya dengan mendirikan Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Cipedak, Jakarta Selatan, pada tahun 2013. 

Baca juga : Profil 9 AHWA Muktamar NU Ke-35 (5): KH Afifuddin Muhajir, Sang Pakar Fiqih

Pesantren ini menjadi manifestasi nyata dari dedikasinya untuk melahirkan generasi muda Islam yang kritis, modern, namun tetap berpijak teguh pada tradisi sarungan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.