Dark/Light Mode

Akibat Karhutla, Negara Tetangga Mohon Sabar Ya

Senin, 19 Oktober 2026 07:40 WIB
Petugas berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (Foto: Dok. Kemenhut)
Petugas berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (Foto: Dok. Kemenhut)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bikin susah bukan hanya di dalam negeri, tapi juga merembet ke negara tetangga. Pemerintah terus mengerahkan segala daya untuk memadamkan api dan mengurai kabut asap. Negara tetangga, mohon sabar ya!

Buruknya kualitas udara akibat karhutla, membuat pemerintah Malaysia memperpanjang penutupan seluruh sekolah dan lembaga pendidikan di Johor mulai Senin (19/10/2026), selama lima hari ke depan.

Anak-anak diminta belajar dari rumah akibat kabut asap yang membahayakan kesehatan.

Delapan stasiun pemantauan di Johor melaporkan kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Pasir Gudang mencatat Indeks Pencemar Udara (IPU) tertinggi di Malaysia, mencapai 190.

Baca juga : Kasus Bupati Klaten, KPK Telusuri Tong Biru Berisi Duit Rp 934 Juta

Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negeri Johor Muhammad Naqib Md Ghazali menegaskan, perpanjangan penutupan sekolah dilakukan untuk melindungi kesehatan siswa.

“Laporan pemantauan menunjukkan Indeks Pencemar Udara (IPU) masih berada pada tingkat yang mengkhawatirkan dan belum menunjukkan perbaikan signifikan,” ujar Naqib.

Sepanjang Oktober 2026, tercatat 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) di Johor. Angka tersebut naik 20,7 persen secara mingguan.

Naqib menambahkan, seluruh siswa diwajibkan mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PdPR) selama sekolah ditutup.

Baca juga : Songsong Pemilu 2029, Golkar Wajibkan Para Menterinya Maju Caleg

Anggota parlemen Malaysia Syed Saddiq Syed Abdul Rahman pada Selasa (13/10/2026) mendorong pemerintahnya mengajukan protes diplomatik secara tegas kepada Indonesia. Menurut dia, komunikasi melalui telepon dengan Presiden Prabowo Subianto saja belum cukup.

“Isu ini bukan lagi isu yang kecil. Anak-anak kita tidak bisa pergi sekolah karena asap yang diperbuat negara tetangga (Indonesia). Anak kita tidak bisa mendapatkan yang seharusnya mereka dapatkan,” kata Syed Saddiq, seperti dikutip The Star.

Kondisi tak kalah kritis terjadi di Singapura. Pada Minggu (18/10/2026), kualitas udara di wilayah barat negara kota itu masuk kategori sangat tidak sehat.

Indeks Standar Pencemar Udara Singapura (PSI) untuk periode 24 jam melonjak hingga 230. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. Buruknya kualitas udara dikaitkan dengan paparan asap tebal dari Kalimantan dan Sumatera.

Baca juga : Golkar Sulsel Ditarget Raih Tambahan 2 Kursi Per Dapil

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong melalui unggahan di Facebook menyatakan, pemerintahnya tengah menyelidiki perusahaan yang diduga bertanggung jawab atas kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia.

“Jika diperlukan, Singapura akan mengambil tindakan berdasarkan Undang-Undang Polusi Kabut Lintas Batas atau Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas, serta menjajaki kemungkinan tindakan bersama negara lain,” tulisnya.

Pada Minggu (18/10/2026), Singapura mengumumkan penindakan terhadap tujuh perusahaan yang memiliki lahan di Sumatera. Ketujuh perusahaan tersebut menerima surat peringatan dari otoritas Singapura karena kebakaran di lahan mereka diduga ikut menyebabkan kabut asap.

Ketujuh perusahaan itu adalah Bumi Andalas Permai, Bumi Mekar Hijau, SBA Andalas Wood Industries, Paramitra Mulia Langgeng, Sumatera Alam Anugerah, Hutan Lestari Raya, dan Bangkanesia. [MEN/FAQ/LDU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.