Dark/Light Mode

Sukses Gaungkan Persatuan

Budi Luhur University Gelar Dialog 6 Pemuka Agama

Rabu, 28 Oktober 2026 20:08 WIB
Dialog lintas agama INTERUNITY: Different  Faiths. One Conversation digelar Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Budi Luhur University, Rabu (28/10/2026). [Foto: Dok]
Dialog lintas agama INTERUNITY: Different Faiths. One Conversation digelar Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Budi Luhur University, Rabu (28/10/2026). [Foto: Dok]

RM.id  Rakyat Merdeka - Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk membangun kesepahaman tentang keadilan gender dan nilai-nilai kemanusiaan. Pesan itu mengemuka dalam dialog lintas agama INTERUNITY: Different Faiths. One Conversation yang digelar Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Budi Luhur University, Rabu (28/10/2026).

Mengangkat tema Uniting for Equity: Uncovering Gender Justice in Religious Teachings, forum yang berlangsung di Auditorium Grha Mahardhika Bujana, Jakarta Selatan, tersebut menghadirkan enam pemuka agama untuk membahas kesetaraan dan keadilan gender berdasarkan ajaran masing-masing.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) dan Budi Luhur University. Ketua YPBLC, Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., mengapresiasi inisiatif mahasiswa dalam menghadirkan ruang dialog yang edukatif dan inklusif.

Baca juga : Dukungan YPBLC Bawa MUBLOC VI Mendunia

"YPBLC selalu mendukung penuh inisiatif HIMAHI dalam membuka ruang dialog edukatif. Ini wujud nyata dari upaya kampus merangkul keberagaman dan membahas isu kesetaraan gender dengan semangat toleransi," ujar Julian.

Ketua Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc. [Foto: Dok]

Enam narasumber yang hadir adalah Ustadz Jojo Ali Yusuf mewakili Islam, Pdt. Steve Marcel Saerang, S.E., M.Th. dari Protestan, Romo Dr. H.C. Drs. Handaka, Apt. dari Buddha, Romo Antonius Suhardi Antara, Pr. dari Katolik, Prof. Dr. Yan Mitha Djaksana, S.Kom., M.Kom. dari Hindu, serta Js. Kristan, S.E., M.Ag. dari Konghucu.

Dalam perspektif Protestan, Pdt. Steve Marcel Saerang menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan setara sebagai ciptaan Tuhan. Dia mengacu pada konsep Imago Dei, yakni manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Baca juga : Julian Dukung Program Barista CSR Budi Luhur University

Menurutnya, kesetaraan tidak serta-merta menghapus perbedaan tanggung jawab dalam keluarga. Peran suami dan istri perlu dijalankan dengan saling menghormati, tanpa merendahkan satu sama lain.

Sementara Romo Antonius Suhardi Antara menekankan pentingnya relasi yang dilandasi penghargaan terhadap martabat setiap orang. Laki-laki dan perempuan, menurutnya, tidak seharusnya saling menguasai, tetapi saling menghargai dan menyempurnakan.

Dia juga mengangkat perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan. Semangat tersebut dinilai relevan dengan upaya memperluas keterlibatan perempuan dalam kehidupan sosial dan pelayanan gereja.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.