Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Memasuki Usia 47 Tahun, Universitas Budi Luhur Perkuat Internasionalisasi Kampus
Minggu, 1 Februari 2026 08:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Memasuki usia ke-47 pada 2026, Universitas Budi Luhur (UBL) menegaskan komitmennya melahirkan generasi penerus bangsa yang andal dengan menjunjung nilai-nilai kebudiluhuran. Komitmen tersebut diwujudkan melalui langkah-langkah strategis seluruh program kampus yang diarahkan pada internasionalisasi.
Upaya internasionalisasi ditandai dengan peningkatan penjajakan kemitraan global, khususnya di kawasan Asia. Dalam konteks internasional, Universitas Budi Luhur mengusung nama Budi Luhur University yang disingkat BLU sebagai label internasional dalam berbagai aktivitas dan kerja sama luar negeri.
Meski demikian, dalam penulisan resmi dan dokumen formal, institusi tetap menggunakan nama Universitas Budi Luhur. Penggunaan nama BLU difokuskan pada kepentingan komunikasi dan branding internasional.
Di sela peresmian logo 47 tahun Universitas Budi Luhur, Rektor Universitas Budi Luhur, Prof. Agus Setyo Budi, menegaskan bahwa seluruh program kampus ke depan akan bermuara pada internasionalisasi sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan.
Baca juga : Menperin: WEF Davos 2026 Jadi Momentum Penguatan Industri Nasional RI
“Ke depan, semua program muaranya adalah internasionalisasi. Kegiatan seperti seminar dan konferensi akan mengarah ke sana,” ujar Prof. Agus.
Ia menjelaskan, sejumlah mitra luar negeri telah dijajaki dan akan dilibatkan secara aktif dalam kolaborasi pendidikan, di antaranya dari Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia.
“Mitra luar negeri akan memanfaatkan kerja sama ini untuk berkolaborasi, baik dalam bidang pendidikan, penelitian, maupun kegiatan akademik lainnya,” jelasnya.
Terkait strategi branding, Prof. Agus menyebut penggunaan nama BLU bertujuan memudahkan mitra internasional mengenali identitas Universitas Budi Luhur.
Baca juga : Universitas Jayabaya Gelar International Law Seminar 2026
“Saat kampanye di luar negeri, kami menggunakan nama BLU karena penamaan UBL sering membingungkan secara tata bahasa internasional. Namun, untuk nota kesepahaman (MoU) dan dokumen resmi tetap menggunakan Universitas Budi Luhur,” terangnya.
Dalam kolaborasi riset internasional, Universitas Budi Luhur mendorong kerja sama sejak tahap awal, mulai dari penyusunan proposal hingga presentasi bersama. Skema ini juga mencakup pertukaran mahasiswa dan dosen.
“Mahasiswa dan dosen kami akan masuk dalam tim mitra luar negeri, begitu pula sebaliknya. Nantinya diramu menjadi konferensi internasional dengan pendanaan bersama,” ungkap Prof. Agus.
Ia menegaskan, kualitas Universitas Budi Luhur tidak diukur dari besarnya gedung atau luas kampus, melainkan dari kualitas program yang dijalankan dan dampaknya bagi mahasiswa.
Baca juga : PPLI Resmikan Fasilitas Penyimpanan Limbah B3 Berstandar Internasional Di Kaltim
“Orientasi kami adalah kegiatan. Saat mahasiswa lulus, yang ditanya bukan kampusnya sebesar apa, tapi kamu bisa apa. Dari situlah magang dan dunia kerja didekatkan,” paparnya.
Prof. Agus menutup dengan menekankan bahwa setiap program harus memberikan dampak nyata, baik melalui publikasi, penelitian, keterlibatan mahasiswa, maupun kontribusi langsung kepada masyarakat.
“Setiap kegiatan harus multi-event dan memberi dampak. Inilah fokus kami membangun pendidikan berbasis pengetahuan dan kualitas,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Ketua BPH Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti Julian Bongsoikrama, Kasih Hanggoro, Deputi Akademik Deni Mahdiana, Deputi Sumber Daya Bullion Dragon Andah, dan Deputi Kemahasiswaan, Kerja Sama dan Promosi Prof. Arief Wibowo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya