Dark/Light Mode

Dua Tahun Prabowo, Sumut Surplus Beras 27.633 Ton, Cabe Melimpah

Minggu, 1 November 2026 17:28 WIB
Foto:  DPW Komunal Sumatera Utara.
Foto: DPW Komunal Sumatera Utara.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sektor pangan Sumatera Utara (Sumut) mencatatkan sejumlah capaian positif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Produksi beras hingga Oktober 2026 mencapai 144.066 ton, melampaui kebutuhan masyarakat sebesar 116.433 ton.

Dengan demikian, Sumut mencatatkan surplus beras sebanyak 27.633 ton. Sejumlah komoditas hortikultura, termasuk cabe merah dan cabe rawit, juga mengalami surplus produksi.

Capaian tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk "Dua Tahun Pemerintahan Prabowo: Swasembada Pangan dan Nasib Petani Sumatera Utara" yang diselenggarakan DPW Koalisi Muslim Milenial (KOMUNAL) Sumatera Utara di Hotel Cordela Medan, Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan tersebut diawali dengan penampilan musikalisasi puisi dan stand up comedy oleh Adellya Rosari Siregar dan M. Yasir Harahap.

Baca juga : Investasi Tembus Rp 3.900 T, Serap 5,4 Juta Tenaga Kerja

Forum kemudian dibuka oleh Ketua Umum KOMUNAL, Rusdi Anshori Harahap, serta dihadiri aktivis muda Sumatera Utara dari berbagai kalangan.

Koordinator Sumut Bergetar, Maulana Ginting memaparkan data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara yang menunjukkan produksi beras hingga Oktober 2026 mencapai 144.066 ton. Sementara itu, kebutuhan masyarakat tercatat sebanyak 116.433 ton.

"Per Oktober 2026, kebutuhan beras Sumut 116.433 ton, sementara produksinya 144.066 ton. Kita surplus 27.633 ton. Cabe merah, kebutuhannya 9.855 ton, produksinya 14.213 ton. Kemudian cabe rawit, kebutuhan 3.712 ton, produksinya 7.514 ton," kata Maulana.

Selain surplus beras dan komoditas hortikultura, Maulana juga menyoroti peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara yang mencapai 157,97. Angka tersebut berada di atas NTP nasional sebesar 131,11.

Menurutnya, capaian NTP tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan sektor pertanian sekaligus gambaran kondisi ekonomi petani di Sumatera Utara.

Baca juga : Terhubung Melayani, Bergerak untuk Negeri

Rektor Universitas Labuhanbatu, Ade Parlaungan Nasution turut mengapresiasi sejumlah capaian pemerintah di sektor pangan.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya evaluasi, terutama terkait ketersediaan data kesejahteraan petani perkebunan.

"Angka NTP meningkat, namun belum dikeluarkan data petani perkebunan. Tapi memang kita apresiasi Pak Prabowo menggeser paradigma pembangunan dari yang tadinya kapitalistik kepada sosialistik," ujar Ade.

Sementara itu, pengurus Tani Merdeka Sumatera Utara, Desi Novita, menyebut Sumatera Utara memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, kekayaan sektor pertanian, hortikultura, perikanan, dan perkebunan menjadi modal penting untuk memperkuat produksi pangan.

Baca juga : BMR Apresiasi 2 Tahun Prabowo, Kebijakan Sawit dan Energi Buka Peluang bagi Riau

Hasil pertanian Sumatera Utara tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga dipasarkan ke provinsi lain hingga menembus pasar ekspor.

Tokoh pemuda Sumatera Utara, Surya Kurniawan, turut menyoroti kebijakan pemerintah yang menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk sebesar 20 persen.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meringankan beban biaya produksi petani.

"Kebijakan pemerintah menurunkan HET pupuk sebesar 20 persen itu perlu kita apresiasi. Dan tadi disampaikan NTP petani kita naik. Anak-anak muda perlu mengetahui ini dan terus mengawal perbaikan demi perbaikan di negara kita," tutur Surya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.