Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Serius menggalang dukungan Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024, Direktur Eksekutif Indo Barometer, M. Qodari memutuskan mundur dari Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi).
Qodari mengatakan, dirinya ingin menjadikan Jokowi dan Prabowo berduet sebagai pasangan capres-cawapres tanpa membawa latar belakang lembaganya.
Baca juga : SIM Keliling Poda Metro, Hari Ini Hadir Di 5 Tempat
“Saya sepenuhnya menyadari bahwa posisi saya hari ini adalah aktivis, bukan sebagai surveyour. Sehingga saya itu mundur dari Persepi,” kata Qodari di kantor Sekretariat Nasional Jokowi-Prabowo (Jokpro), Jalan Tegal Parang Selatan 1, Mampang Prapatan, Jakarta, Sabtu (19/6).
Qodari menjelaskan alasan mundur dari Persepi, lantaran teman-temannya di perhimpunan tersebut tidak setuju dengan gagasannya ini. “Jadi saya memutuskan mundur karena ada temen-teman yang nggak setuju Jokowi 3 periode. Saya nggak mau kelahi ya dengan teman-teman sendiri,” ujarnya.
Baca juga : Geregetan Dengan Isu 3 Periode, AHY: Tidak Sehat Dan Tak Produktif
Qodari menceritakan dukungannya kepada Jokowi untuk menjadi presiden sekali lagi. Hal itu disampaikannya Maret 2021 di salah satu stasiun televisi. Kemudian gayung bersambut banyak masyarakat yang mendukung gagasan itu. “Kalau ada istitusi (Seknas Jokpro) ini bergerak saya yakin Insya Allah pada saatnya mayoritas setuju,” ungkapnya.
Sebelumnya, Penasihat Jokowi-Prabowo Subianto (Jokpro), M Qodari ini mengatakan, muncul ide menjadikan Jokowi menjadi presiden Indonesia di periode ketiga karena ia dan relawan yang satu visi dengannya tidak ingin adanya polarisasi di masyarakat.
Baca juga : Proyek LRT Jabodebek Rampung 84,6 Persen
Dia mencontohkan, pada Pilpres 2014-2019 terjadi polarisasi di masyarakat. Bahkan di Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu juga mengalami hal yang sama. Masyarakat dengan yang lainnya saling menghujat demi membela yang didukungnya. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya