Dark/Light Mode

Di Hadapan KB PII, Bamsoet Bicara Urgensi Program Makan Bergizi Gratis

Kamis, 1 Agustus 2024 16:11 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) menerima jajaran pengurus KB PII, di Jakarta, Kamis (1/8/2024). (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (tengah) menerima jajaran pengurus KB PII, di Jakarta, Kamis (1/8/2024). (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) menekankan pentingnya program makan bergizi gratis yang digagas Presiden terpilih Prabowo Subianto, dalam mengatasi malnutrisi di Indonesia. Sebab, menurut laporan Global Hunger Index 2023 hasil kerja sama organisasi Welt Hunger Hilfe (WHH) dan Concern Worldwide, Indonesia berada di peringkat ke-77 dengan skor 17,6.

Bamsoet menyatakan, data tersebut menunjukkan bahwa tingkat kelaparan di Indonesia berada pada level moderat atau sedang. Data tersebut juga menempatkan Indonesia masih termasuk negara dengan indeks kelaparan tertinggi di ASEAN.

Selain mengatasi kelaparan, kata Bamsoet, program makan bergizi gratis juga bisa mengatasi berbagai permasalahan gizi buruk. Pada 2024, diperkirakan sekitar 6,5 persen dari populasi mengalami kekurangan gizi atau undernourished, yang melibatkan kurang lebih 17,7 juta orang.

Baca juga : Masuk Kajian PBB, Program Makan Bergizi Prabowo Banyak Manfaatnya

“Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk kurang gizi tertinggi di Asia Tenggara," ujar Bamsoet, usai menerima jajaran pengurus Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB PII), di Jakarta, Kamis (1/8/2024). Hadir jajaran KB PII antara lain Waketum Ahmad SKJ dan Marfuah, Sekjen Asep Efendi, Wasekjen A Toha Almansur, dan Sekbid Kerja Sama Ahmad Syarifudin.

Ketua DPR ke-20 ini menjelaskan, persoalan pangan tidak bisa disepelekan. Pada 2008 misalnya, dunia sempat mengalami krisis pangan global. Saat itu Food and Agriculture Organization (FAO) mengestimasikan naiknya angka kelaparan global mencapai 40 juta jiwa. Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan pada tahun 2016 sebanyak 815 juta orang di dunia menderita kelaparan. Jumlah tersebut sama dengan 11 persen populasi penduduk dunia. 

"Catatan akhir tahun 2022 menyajikan data krisis pangan yang memilukan. Diperkirakan, sekitar 345 juta orang penduduk dunia mengalami kelaparan akut, dimana 19.700 orang diantaranya meninggal dunia setiap harinya. Artinya, setiap empat detik, tercatat satu orang meregang nyawa karena kelaparan," jelas Bamsoet.

Baca juga : Relawan Mas Gibran Bagi Sembako Dan Makanan Bergizi Setiap Akhir Pekan

Ketua Dewan Pembina Depinas SOKSI ini juga menekankan, masa depan Indonesia bukanlah berada di pusat bisnis perkotaan, melainkan di desa sebagai penyedia utama pertanian. Pandemi Covid-19 harusnya telah membuka mata semua pemangku kebijakan, mulai pemimpin daerah hingga pusat, untuk menyadari bahwa kedaulatan terhadap pangan harus diutamakan.

Bamsoet menekankan, Indonesia tidak boleh lagi bergantung kepada impor. Apalagi Indonesia dianugerahi tanah yang subur untuk pertanian, laut yang luas untuk perikanan, maupun udara segar untuk perkebunan. Tidak ada yang tidak bisa ditanam di Indonesia.

“Tinggal bagaimana kita mengelolanya secara bijak. Agar kedaulatan pangan bisa terwujud, pemerintah perlu mengajak serta berbagai kelompok masyarakat. Semakin banyak kelompok masyarakat yang terjun dalam usaha pangan, semakin baik bagi masa depan pangan nasional," pungkas Bamsoet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.