Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bicara Asas Manfaat
Firman Soebagyo Kritisi Program Pengembangan Wirausaha Tani
Rabu, 21 Mei 2025 07:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo menyoroti temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas sejumlah program Kementerian Pertanian. Di antaranya, program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) pada 2023.
Firman bilang, Komisi IV DPR sebagai mitra Kementan, tidak pernah mendapat penjelasan terkait pogram YESS yang menggunakan dana pinjaman atau hibah dari lembaga internasional ini. “Nggak pernah dengar program ini dan pelaksanaannya seperti apa,” kata dia saat dihubungi, Minggu (18/5/2025).
Baca juga : Erick Yakin Kopdes Mampu Dongkrak Ekonomi Daerah
Firman justru memberikan kritik keras kepada program YESS ini. Sebab program peningkatan wirausaha muda pertanian ini ternyata tidak memberi dampak apa-apa ke sektor pertanian. Istilah pengembangan wirausaha muda pertanian tersebut dinilai tidak tepat. Sebab pengalaman menunjukkan kegiatan yang sering dicanangkan hanya terjebak pada terminology, tidak menyelesaikan akar masalah kesejahteraan petani.
“Dulu ada petani milenial tetapi hanya cerita saja. Sampai sekarang mereka sulit berkembang. Yang namanya bikin industri pupuk kelas usaha rakyat saja mau izin biayanya puluhan juta. Jadi bullshit saja, tidak ada manfaatnya,” sindir Firman.
Baca juga : Ekonomi RI Diprediksi Melebihi AS Dan China
Sebelumnya, BPK mengungkap sejumlah pemborosan dan belanja yang tidak diyakini kebenarannya oleh Unit Pengelola Proyek Nasional (NPMU) dan Pelaksana Program (PPIU) YESS pada tahun 2023. Ini terungkap dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Program YESS pada Badan Penyuluhan dan Pengembangaan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) Tahun 2023.
Temuan tersebut antara lain, pemborosan keuangan negara sebesar Rp 189 juta untuk honoraroium tim seleksi hibah kompetitif program pengembangan kewirausahaan pemuda sektor pertanian pada NPMU yang tarifnya melebihi SBM yang ditetapkan. Selain itu, terdapat belanja jasa pada kategori training yang belum dapat diyakini kewajarannya sebesar Rp 93 juta.
Baca juga : Pramono Pertimbangkan Bikin BUMD Kelola Parkir
BPK juga menemukan realisasi uang transpor dan biaya taksi untuk perjalanan dinas dalam negeri dan dokumen pertanggungjawaban lainnya yang tidak dapat diyakini nilai besaran sesungguhnya minimal sebesar Rp 281,3 juta. Dan juga kelebihan pembayaran biaya perjalanan dinas luar negeri sebesar Rp 73,2 juta. Berikutnya penyaluran kegiatan Program YESS terindikasi tidak tepat sasaran sebanyak 282 penerima manfaat dengan nilai Rp 4,2 miliar.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya