Dark/Light Mode

Sultan Dorong Indonesia Jadi Prototipe Implementasi Bhinneka Tunggal Ika

Minggu, 8 Februari 2026 20:25 WIB
Ketua DPD Sultan Baktiar Najamudin didampingi Prof Din Syamsuddin dan Wakil Menteri Agama Romo Syafii saat memberikan keterangan pers terkait The Celebration of World Interfaith Harmony Week and International Day of Human Fraternity di Kompleks Parlemen, Jakarta, Minggu (8/2/2026). Foto: DPD RI
Ketua DPD Sultan Baktiar Najamudin didampingi Prof Din Syamsuddin dan Wakil Menteri Agama Romo Syafii saat memberikan keterangan pers terkait The Celebration of World Interfaith Harmony Week and International Day of Human Fraternity di Kompleks Parlemen, Jakarta, Minggu (8/2/2026). Foto: DPD RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin mendorong Indonesia untuk tampil sebagai prototipe global dalam implementasi nilai Bhinneka Tunggal Ika, melalui praktik nyata harmoni lintas iman dan persaudaraan kemanusiaan.

Hal itu disampaikannya dalam acara The Celebration of World Interfaith Harmony Week and International Day of Human Fraternity di Kompleks Parlemen, Jakarta, Minggu (8/2/2026).

Dalam sambutannya, Sultan menekankan bahwa peringatan tersebut bukan sekadar agenda internasional, melainkan peneguhan kembali fondasi peradaban berupa persaudaraan kemanusiaan.

Menurutnya, dunia tidak dibangun oleh keseragaman keyakinan, melainkan oleh kemampuan manusia hidup berdampingan dalam perbedaan.

Dia menyoroti kondisi global yang masih diliputi konflik bersenjata, polarisasi identitas, meningkatnya ujaran kebencian, hingga krisis kemanusiaan akibat perang dan pengungsian.

Baca juga : Sultan: Tumbuh Kembang Anak Indonesia Tanggung Jawab Kolektif

Dalam situasi itu, Sultan menegaskan agama tidak boleh ikut terbelah dan justru harus menghadirkan suara moral yang menyejukkan. "Dialog harus selalu lebih nyaring daripada perpecahan," ujarnya.

Sultan menyatakan, Indonesia memiliki legitimasi moral untuk berbicara tentang harmoni lintas iman di panggung dunia. Dengan ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama, Indonesia disatukan oleh kesadaran kebangsaan dan Pancasila sebagai kesepakatan luhur.

"Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam merawat harmoni di tengah keberagaman. Kita adalah bangsa dengan ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama—namun disatukan oleh satu kesadaran kebangsaan," tegasnya.

Dia menegaskan, kerukunan bukan warisan yang jatuh dari langit, melainkan hasil kerja bersama yang dirawat setiap hari. Lebih lanjut, Sultan menilai kerukunan tidak hidup dalam slogan, tetapi dalam tindakan nyata, mulai dari menyapa tetangga berbeda iman, menolak provokasi, hingga berdiri bersama ketika kemanusiaan terancam. Dari praktik sosial sehari-hari di daerah-daerah, Indonesia menunjukkan bahwa harmoni adalah kenyataan, bukan sekadar teori.

Sebagai Ketua DPD RI, Sultan menegaskan komitmen lembaganya untuk mendorong nilai toleransi, dialog, dan keadilan sosial menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan, pendidikan, serta penguatan masyarakat daerah. Menurutnya, harmoni sosial adalah fondasi stabilitas dan prasyarat kemajuan bangsa.

Baca juga : Misbakhun Dorong Intervensi Agresif BI, Jaga Ketangguhan Ekonomi

"Tidak ada pembangunan yang kokoh di atas masyarakat yang terbelah, Tidak ada kemajuan ekonomi di tengah kebencian yang dibiarkan tumbuh," tegasnya.

Sementara terkait acara ini, Sultan mengungkapkan DPD RI telah dua tahun berturut-turut dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan lintas agama bertaraf nasional dan global.

Dia menyebut pesan yang disampaikan kepada dunia adalah bahwa Indonesia, dengan kemajemukannya, mampu menjaga soliditas dan harmoni di tengah keberagaman, serta ingin mempersembahkan pesan perdamaian “dari Indonesia untuk dunia”.

Sementara itu, Ketua Kehormatan Inter-Religious Council (IRC) Indonesia Prof. Din Syamsuddin menjelaskan perayaan tersebut menggabungkan dua agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni World Interfaith Harmony Week yang digagas sejak 2010 dan International Day of Human Fraternity yang ditetapkan pada 4 Februari sejak 2020.

Keduanya menegaskan pesan persaudaraan lintas iman dan kemanusiaan. Din menyebut perayaan di Indonesia telah berlangsung sejak 2010 dan dalam empat tahun terakhir difasilitasi lembaga perwakilan, termasuk DPD RI pada 2024–2026.

Baca juga : Jelang Ramadan, MR.D.I.Y Indonesia Siap Penuhi Kebutuhan Rumah Tangga

Ia menegaskan, meski Indonesia diakui dunia sebagai negara majemuk dengan tingkat kerukunan tinggi, upaya merawat harmoni tidak boleh dipandang taken for granted dan harus terus dijaga.

Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi’i menambahkan, kegiatan tersebut menjadi konstruksi nyata untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kerukunan antarumat beragama telah menjadi bagian dari kehidupan Indonesia sejak kemerdekaan.

Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, melainkan praktik hidup berbangsa. Romo Syafi’i menyatakan Kementerian Agama mendukung penuh upaya penguatan moderasi beragama melalui berbagai instrumen, seperti Badan Moderasi Beragama dan Forum Kerukunan Umat Beragama.

Ia berharap pesan kerukunan dari Indonesia dapat menjadi inspirasi bagi dunia yang semakin beragam dan dinamis. "Karena terbukti kita di Indonesia sudah menikmatinya, bahkan sejak Indonesia merdeka," tambahnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.