Dark/Light Mode

RAPBN 2027 4.097 Triliun, Azis Subekti Ingatkan Jangan Hanya Kejar Serapan

Jumat, 21 Agustus 2026 13:08 WIB
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti. Foto: DPR RI
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti. Foto: DPR RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti mengingatkan, RAPBN 2027 jangan sampai terjebak pada pola lama: anggaran besar, serapan tinggi, proyek selesai, tetapi persoalan struktural tetap sama.

Menurut Azis, RAPBN 2027 harus dikawal dengan ukuran yang lebih konkret. Bukan hanya berapa uang negara dibelanjakan, tetapi apa yang benar-benar berubah setelah uang itu dibelanjakan.

“APBN administratif mengukur pekerjaan. APBN transformatif mengukur perubahan,” tegas Azis kepada RM.id, Jumat (21/8/2026).

RAPBN 2027 memang jumbo. Belanja negara dirancang mencapai Rp 4.097,2 triliun dengan pendapatan Rp 3.426 triliun. Defisitnya dipatok 2,40 persen terhadap PDB. Di dalamnya ada berbagai program besar.

Baca juga : Gerindra Minta Ke BMKG Maksimalkan Upaya OMC

Mulai renovasi 10.000 puskesmas, pembangunan dan revitalisasi RSUD, percepatan perbaikan sekolah, pembangunan PLTS 100 GW, pengembangan bursa komoditas strategis hingga optimalisasi aset negara.

Azis mendukung arah transformasi tersebut. Tapi, menurutnya, pekerjaan besar justru dimulai pada tahap eksekusi dan pengawasan.

“Jangan hanya ditanya berapa puskesmas selesai dibangun. Tanya juga apakah akses kesehatan rakyat membaik. Jangan hanya hitung panel surya yang terpasang. Lihat apakah biaya energi benar-benar turun,” ujarnya.

Hal yang sama berlaku pada rencana Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. “Kalau bursanya berdiri tetapi transaksi dan pembentukan harga komoditas kita tetap dominan terjadi di luar negeri, berarti tujuan besarnya belum tercapai,” katanya.

Baca juga : Golkar Totalitas Dukung Kebijakan Pro Rakyat

Azis juga mengingatkan bahaya program pemerintah berjalan sendiri-sendiri. Puskesmas bisa selesai direnovasi, tapi tenaga kesehatan belum tersedia. PLTS bisa terpasang, tapi jaringan transmisinya tertinggal. Dana investasi tersedia, tapi proyek yang layak dibiayai belum siap.

“Keberhasilan setiap bagian tidak otomatis menghasilkan keberhasilan keseluruhan,” jelasnya.

Karena itu, dia mendorong pemerintah dan DPR menerapkan apa yang disebutnya transformation governance. Skemanya, pengawasan tidak berhenti pada input dan output, tetapi diteruskan sampai outcome dan perubahan struktur. Input, output, outcome, perubahan struktur, kapasitas nasional.

Azis menilai, pendekatan tersebut penting karena banyak program pemerintah baru menghasilkan manfaat besar dalam jangka menengah dan panjang.

Baca juga : Tjandra Yoga Aditama: Perlu Persiapan Dan Perencanaan Matang

“Kalau ukurannya hanya serapan, kita bisa merasa berhasil terlalu cepat. Padahal yang harus kita lihat adalah apakah kelemahan struktural bangsa benar-benar berubah menjadi kapasitas baru,” katanya.

Dia menegaskan pendekatan tersebut bukan untuk memperlambat program pemerintah. Sebaliknya, pengawasan berbasis outcome diperlukan agar agenda besar Presiden Prabowo tidak terpecah menjadi proyek-proyek sektoral yang kehilangan hubungan satu sama lain.

“Yang sedang kita kawal bukan cuma anggaran negara. Yang sedang kita kawal adalah kemampuan negara mengubah dirinya sendiri,” pungkas Azis.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.