Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Profil Jay Herdman, Putra Pelatih Timnas yang Jadi Andalan Baru Bali United
- Barcelona Tutup Pramusim dengan Gelar Joan Gamper Trophy 2026
- Fitrah Maulana Bangga Bawa Persib Juara Dewata Challenge Series
- STY Puji Perkembangan Persija Usai Laga Uji Coba Di Thailand
- Gabung Klub Arab Saudi, Kakak Pemain Persib Dibanderol Rp1,4 T
Minimalisir Kebakaran Hutan Dan Lahan
Gerindra Minta Ke BMKG Maksimalkan Upaya OMC
Jumat, 21 Agustus 2026 06:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) didorong memaksimalkan operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah mitigasi menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Politisi Partai Gerindra Danang Wicaksana Sulistya menilai kondisi kering yang berlangsung berkepanjangan berpotensi meningkatkan titik panas dan memperluas karhutla. Terutama, di kawasan hutan dan lahan gambut yang rentan terbakar.
“BMKG perlu memaksimalkan modifikasi cuaca sebagai langkah mitigasi menghadapi kemarau ekstrem. Jangan sampai kita menunggu karhutla meluas baru kemudian melakukan penanganan,” kata Danang dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, OMC dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah prioritas yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi. Namun, pelaksanaannya harus berdasarkan kajian meteorologis dan pemetaan wilayah yang membutuhkan intervensi.
Kapoksi Komisi V DPR Fraksi Gerindra ini juga meminta BMKG memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta aparat di lapangan.
Baca juga : 2029, NasDem Banten Pasang Target Tinggi
Dia mengatakan, informasi mengenai potensi cuaca ekstrem, kekeringan, hingga wilayah rawan karhutla harus disampaikan secara cepat agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dan langkah mitigasi.
“Yang paling penting adalah sinergi. Data dan informasi BMKG harus terhubung dengan langkah konkret Pemerintah Daerah dan instansi terkait. Kalau sudah terdeteksi wilayah yang rawan, mitigasinya harus segera dilakukan,” ujarnya.
Selain OMC, Ketua DPD Gerindra Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mendorong penguatan sistem pemantauan titik panas atau hotspot dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran. Menurut Danang, pencegahan harus menjadi prioritas.
"Karena penanganan karhutla setelah api membesar membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar," ujarnya.
Danang mengingatkan, karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas udara, bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Baca juga : DPR Minta Pemda Setop Pengangkatan Staf Baru
"Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan sedini mungkin,” katanya.
Dia berharap BMKG bersama seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat langkah antisipasi selama periode kemarau ekstrem. Menurutnya, kesiapsiagaan dan respons cepat menjadi kunci untuk menekan ancaman karhutla.
“Jangan bekerja setelah terjadi bencana. Kita harus mengedepankan mitigasi, deteksi dini, dan respons cepat. Dengan begitu, risiko karhutla selama kemarau ekstrem dapat diminimalisir,” pungkasnya.
BMKG sebelumnya memetakan ribuan titik panas di Indonesia di tengah karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah. Titik panas terbanyak terdeteksi di Kalimantan.
Berdasarkan data monitoring dan potensi kebakaran hutan dan lahan per 20 Agustus 2026, BMKG mendeteksi asap di sejumlah wilayah, antara lain Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Baca juga : Elnusa Jaga Pasokan Migas Terus Mengalir
Sebaran asap bergerak ke arah barat hingga timur laut. Sementara arah angin di Indonesia pada umumnya bertiup dari tenggara menuju barat laut hingga utara.
BMKG juga mendeteksi titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi per 19 Agustus 2026. Di Sumatera terdapat 34 titik, terdiri dari tujuh titik di Riau, dua titik di Jambi, lima titik di Sumatera Selatan, satu titik di Kepulauan Riau, 15 titik di Kepulauan Bangka Belitung, dan empat titik di Lampung.
Di Kalimantan, terdeteksi 1.106 titik panas. Rinciannya, 521 titik di Kalimantan Barat, 424 titik di Kalimantan Tengah, 40 titik di Kalimantan Selatan, 103 titik di Kalimantan Timur, dan 18 titik di Kalimantan Utara. BSH
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya