Dark/Light Mode

Mekeng: Perkuat Bauran EBT agar Listrik Andal dan Swasembada Energi

Kamis, 24 September 2026 22:20 WIB
Foto: Fraksi Golkar DPR.
Foto: Fraksi Golkar DPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem kelistrikan agar peningkatan pemanfaatan energi bersih tetap mampu memenuhi kebutuhan listrik masyarakat dan industri secara andal.

Ketua Komisi XII DPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Melchias Markus Mekeng mendukung upaya pemerintah memperbesar pemanfaatan EBT sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi dan keandalan sistem kelistrikan nasional.

Hal itu disampaikan Mekeng dalam FGD Komisi XII DPR RI bersama PLN bertema “Sinergi Penguatan Ketahanan Energi dan Keandalan Sistem Ketenagalistrikan Nasional”.

Menurut Mekeng, pengembangan EBT menjadi bagian penting dalam mendukung agenda Presiden Prabowo Subianto mewujudkan swasembada energi yang terus didorong melalui berbagai kebijakan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Baca juga : Dewi Yustisiana: Listrik Desa Harus Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat

“Kita mendukung agenda Presiden Prabowo untuk swasembada energi dan langkah yang dijalankan Menteri ESDM. Kita punya matahari, air, panas bumi, bioenergi dan sumber energi lainnya. Jadi sekarang bagaimana semua potensi ini kita manfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan energi kita sendiri,” kata Mekeng.

Mekeng menyoroti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW.

Dari jumlah tersebut, sekitar 76 persen atau 52,9 GW berasal dari EBT dan sistem penyimpanan energi, terdiri dari 42,6 GW EBT dan 10,3 GW storage.

Menurut Mekeng, arah tersebut menunjukkan semakin besarnya peran sumber energi domestik dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional.

Baca juga : Klarifikasi Moreno Soeprapto Soal Video Call Viral Julurkan Lidah Saat Rapat DPR

Namun, peningkatan kapasitas EBT harus diikuti dengan penguatan sistem agar keandalan pasokan listrik tetap terjaga.

“EBT kita tambah, itu bagus. Tetapi jangan kemudian reliability-nya terganggu. Listrik itu harus tersedia 24 jam. Masyarakat butuh, industri juga butuh. Jadi EBT bertambah, sistemnya juga harus semakin kuat,” tegas Mekeng.

Karena itu, Mekeng menilai pengembangan pembangkit EBT perlu berjalan bersama dengan penguatan jaringan transmisi, interkoneksi, dan sistem penyimpanan energi.

Dia juga mendukung arahan Presiden Prabowo dalam pengembangan Program PLTS 100 GWp yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.

Baca juga : Yulisman Dorong Kejelasan Kewenangan BUK Migas dalam RUU Migas

Program tersebut resmi dimulai pemerintah melalui peluncuran dan groundbreaking di Gilimanuk, Bali, pada 25 Agustus 2026.

“Kalau energi matahari yang kita punya bisa semakin banyak menggantikan BBM untuk pembangkit, tentu ini bagus. Kita kurangi BBM, biaya bisa ditekan, dan ketergantungan terhadap energi dari luar juga semakin berkurang. Tetapi sistemnya harus disiapkan, termasuk storage dan transmisinya, supaya listrik tetap reliable,” ujarnya.

Mekeng menegaskan, pengembangan EBT tidak hanya perlu dilihat sebagai agenda energi hijau, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

“Jadi jangan kita melihat EBT hanya sebagai soal green energy. Ini juga soal energy security. Kita punya sumber energinya, kita manfaatkan sendiri, listriknya reliable, dan ketergantungan dari luar kita kurangi. Itu esensi swasembada energi yang menjadi agenda Presiden Prabowo dan harus kita kawal bersama,” pungkas Mekeng.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.