Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Keren, Adam Alis Bisa Bersaing Bareng Cristiano Ronaldo
- Eriksen Kembali Kolaps, Laga Denmark Vs Ukraina Dihentikan
- Gempa M7,7 Guncang Mindanao Filipina, Tsunami Kecil Terdeteksi di Sulut & Malut
- Dramatis! Garuda Muda Lolos ke Semifinal ASEAN U-19 2026
- Peduli Sejak Dini, Siswa JIS Buat Proyek Air Bersih Water Guardian untuk Warga
Rupiah Melemah, Gerindra Bantu Pemerintah Jaga Daya Beli Masyarakat
Senin, 8 Juni 2026 06:45 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) belakangan menjadi sorotan publik. Namun, Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gerindra Azis Subekti mengingatkan, ukuran kekuatan ekonomi nasional tidak semata-mata ditentukan oleh pergerakan kurs, melainkan sejauh mana masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Menurut Azis, Indonesia perlu memiliki strategi komprehensif dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Sebagai negara yang memiliki sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, bonus demografi, dan posisi strategis dalam peta ekonomi dunia, Indonesia sejatinya memiliki modal kuat untuk menghadapi berbagai gejolak internasional.
Namun demikian, keterhubungan Indonesia dengan sistem ekonomi global membuat berbagai dinamika dunia turut memengaruhi kondisi ekonomi nasional.
“Ketika dolar Amerika Serikat menguat, konflik geopolitik memanas, harga energi bergejolak, dan modal global mencari tempat yang dianggap lebih aman, rupiah pun ikut mengalami tekanan,” ujar Azis dalam keterangannya, di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Anggota Komisi II DPR itu menegaskan, bagi masyarakat luas, nilai tukar rupiah tidak dirasakan melalui angka-angka di layar perdagangan valuta asing, melainkan dari harga kebutuhan pokok yang mereka hadapi setiap hari.
Baca juga : Turunkan 10 Persen Harga Avtur, Pertamina Jaga Daya Saing Industri Aviasi
“Mereka melihat harga cabai, harga beras, ongkos transportasi, hingga harga minyak goreng. Di situlah sesungguhnya arti sebuah mata uang diuji. Pelemahan rupiah menjadi masalah ketika dampaknya masuk ke dapur rakyat,” katanya.
Azis mengingatkan, pelemahan nilai tukar tidak selalu identik dengan melemahnya fondasi ekonomi suatu negara. Dia mencontohkan Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang tetap mampu menjaga daya saing ekonomi meski menghadapi tekanan terhadap mata uang mereka.
“Yang menentukan kekuatan sebuah bangsa bukan sekadar kurs, melainkan kemampuan memproduksi pangan, menguasai teknologi, menjaga lapangan kerja, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan daya beli rakyat,” tegasnya.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026, inflasi tahunan Indonesia tercatat sebesar 3,08 persen. Angka tersebut dinilai masih berada dalam rentang yang terkendali dan jauh dari kondisi krisis ekonomi.
Meski demikian, Azis menyoroti bahwa penyumbang terbesar inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Inflasi bulanan Mei 2026 sebesar 0,28 persen juga didorong kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai merah yang naik 25,64 persen, tomat 9,82 persen, bawang merah 6,65 persen, serta minyak goreng 2,87 persen.
Baca juga : Gubernur Pantau Langsung Ke Lapangan, 95 Persen Pengunjung Puas CFD Rasuna Said
“Dari data itu terlihat jelas bahwa musuh utama rakyat saat ini bukan kurs dolar, melainkan kenaikan harga kebutuhan pokok. Medan pertempuran ekonomi Indonesia sesungguhnya berada di pasar rakyat,” ujarnya.
Menurut Azis, lonjakan harga pangan tidak semata-mata dipicu pelemahan rupiah. Berbagai persoalan struktural seperti distribusi yang belum efisien, biaya logistik yang tinggi, gangguan cuaca, rantai pasok yang panjang, hingga keterlambatan intervensi pasar turut berkontribusi terhadap kenaikan harga.
Karena itu, dia mendukung Pemerintah membangun “pertahanan kedua” ekonomi nasional melalui pengendalian harga kebutuhan pokok.
“Jika pertahanan pertama dijalankan oleh Bank Indonesia dan otoritas keuangan, maka pertahanan kedua harus dilakukan secara terpadu oleh Bulog, Bapanas, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, pemerintah daerah, koperasi, BUMDes, hingga jaringan pasar rakyat,” katanya.
Azis juga menilai Indonesia dapat belajar dari Malaysia yang melakukan reformasi subsidi secara lebih tepat sasaran tanpa mengurangi perlindungan bagi kelompok rentan.
Baca juga : Hajar Mesir Di Uji Coba Terakhir, Brazil Siap Lumat Maroko
“Negara tetap hadir melindungi nelayan, petani, dan masyarakat kecil. Namun subsidi yang selama ini tidak tepat sasaran diperbaiki secara bertahap,” ujarnya.
Lebih lanjut, Azis menilai Indonesia memiliki banyak instrumen untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, mulai dari cadangan beras pemerintah, jaringan Bulog, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas ekonomi rakyat. [BSH]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya