Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kampanye Negatif Bisa Rontokkan Elektabilitas Kandidat Kepala Daerah di Pilkada
Jumat, 27 September 2024 12:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kampanye negatif bisa berpotensi merontokkan elektabilitas kandidat kepala daerah yang berlaga dalam Pilkada 2024.
Hal ini disampaikan Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS), Arman Salam, merespons ramainya isu negatif yang dialamatkan kepada para calon Bupati Subang.
Ada dua isu negatif yang potensial merontokkan elektabilitas kandidat, yaitu isu poligami dan narkoba.
“Jangan anggap sepele dua isu tersebut, karena sangat potensial menggerus, bahkan merontokkan elektabilitas,” ujar Arman, Kamis (26/9/2024).
Baca juga : Rakornas DPP LDII Rumuskan Penguatan Kapasitas Organisasi dan Sukseskan Pilkada
Menurut Arman, dari data survei yang pernah dilakukannya selama ini, hampir di seluruh wilayah, mayoritas publik mengaku tak ingin dipimpin oleh bupati, wali kota atau gubernur yang poligami dan terlibat narkoba.
Namun, Arman mengakui, di sejumlah daerah, ada juga calon bupati poligami yang tetap terpilih sebagai pemenang.
Malah, yang terlibat kasus korupsi, juga ada yang tetap menang. Bahkan, ada yang sudah dua bulan ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih terpilih.
Hal itu wajar terjadi, lanjut Arman, karena dalam teori isu negatif atau negative campaign, adalah seberapa orang tahu dan seberapa orang percaya.
Baca juga : Survei CNN: Elektabilitas Rudy-Ali Tinggalkan Isran-Hadi Di Pilkada Kaltim
Arman mencontohkan, bisa saja seorang calon bupati itu beristri dua atau bahkan lebih, tapi masih dipilih, hal itu karena mayoritas publik tidak tahu. Atau tahu, tapi tidak percaya.
Dari beberapa survei yang pernah dilakukan IPS, memang rata-rata publik yang tahu isu negatif para calon itu tak pernah lebih dari 10 persen. Kebanyakan hanya 5 persen saja.
“Sehingga, wajar jika isu tersebut tidak berpengaruh kepada elektoral kandidat,” jelasnya.
Arman menyarankan, untuk kepentingan transparansi berdemokrasi, para kandidat yang berkontestasi pada Pilbup Subang untuk bersikap jujur.
Baca juga : TBRC: Elektabilitas Faiz-Suyono Ungguli Fallas-Ahmad Di Pilkada Batang
“Mungkin dengan begitu rakyat malah simpatik, ketimbang ditutup-tutupi yang akhirnya rakyat tahu bahwa kandidat itu tidak jujur,” tandasnya.
Seperti diketahui, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Subang telah mengumumkan dan menetapkan nomor urut tiga pasangan calon bupati/wakil bupati Subang.
Ketiganya yakni, pasangan nomor 1 Ruhimat dan Aceng Kudus (JIMAT AKU), pasangan nomor 2 Reynaldi Putra dan Agus Masykur Rosyadi (RELIGIUS), serta pasangan nomor 3 Asep Rochman Dimyati dan Lina Marliana (ASLINA).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya