Dark/Light Mode

Guncangan Ekonomi & Target Tumbuh 8 Persen

Senin, 20 Januari 2025 04:38 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Guncangan ekonomi belum reda. Ekonomi dunia hingga kini belum pulih, pasca-pandemi Covid-19. Ekonomi semakin gonjang-ganjing dengan perang yang berkemacuk tak berkesudahan.

Kondisi ekonomi dalam negeri juga belum benar-benar kinclong. Kenaikan harga komoditas masih terjadi, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) belum hilang, banyak industri yang gulung tikar, dan rupiah sering tertatih-tatih. Angka pengangguran dan kemiskinan juga masih lumayan besar.

Baca juga : Pejabat Harus Bermental Baja

Dengan kondisi ini, banyak pakar memprediksi, ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan tumbuh sekitar 5 persen. Pemerintah juga tidak muluk-muluk mematok pertumbuhan ekonomi tahun ini. Hanya sebesar 5,2 persen.

Namun, untuk jangka panjang, Pemerintah masih sangat optimis bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen. Dalam banyak kesempatan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, sangat yakin dengan targetnya tersebut. Kepada pihak yang ragu, Presiden Prabowo menyebut, itu sebagai kelemahan elite Indonesia, yang memang kurang percaya diri.

Baca juga : Menghentikan Ulah KKB Papua

Namun, keyakinan saja tentu tidak cukup. Harus ada action, kerja keras, kebijakan tepat, dan langkah konkret. Berbagai potensi harus dioptimalkan. Peluang-peluang yang ada harus dimanfaatkan dengan baik. Hanya dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tinggi bisa dicapai.

Kita tidak bisa lagi mengandalkan sisi konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan. Itu cara tradisional. Harus ada cara baru. Seperti industrialisasi, hilirisasi, investasi, dan perdagangan global.

Baca juga : Upah Naik, Harga Juga Naik

Selama ini, masih banyak barang kebutuhan masyarakat dan juga pemerintah yang didapat dari impor. Hal tersebut karena industri kita masih belum kompetitif. Kita kalah dengan Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Apalagi jika dibandingkan dengan India dan China, kita sangat jauh tertinggal. Di negara-negara itu, banyak kantor dan perusahaan internasional. Sedangkan di kita, sebagian perusahaan internasional masih ragu-ragu untuk masuk.

Untuk mencapai hal itu, keinginan dan kebijakan harus segaris. Jika ingin industrialisasi, hilirisasi, dan investasi maju, maka kebijakan-kebijakan yang dibuat harus memudahkan hal tersebut. Sikap pejabat pelaksana juga harus tegak lulus dengan visi pimpinan. Jangan sampai ketika pimpinan berkata A, anak buat masih menerjemahkan menjadi B, C, D, dan seterusnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.