Dewan Pers

Dark/Light Mode

Soal Deportasi, Djokovic Nggak Dendaman

Rabu, 4 Januari 2023 05:36 WIB
Petenis Novak Djokovic. (Foto : ist)
Petenis Novak Djokovic. (Foto : ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Petenis Novak Djokovic mengaku tidak menyimpan dendam, bahkan sudah melupakan insiden tahun lalu, ketika dia dilarang tampil di Melbourne hingga akhirnya dideportasi dari Australia.

Sebelumnya, The Djoker --julukan Novak Djokovic-- dilarang masuk Australia selama tiga tahun karena melanggar aturan status visa dan protokol kesehatan terkait vaksinasi Covi-19.

Berita Terkait : Kepala BNPT Dorong Mahasantri Lirboyo Jaga Nilai Keindonesiaan

Tapi, larangan itu sudah dicabut dan petenis Serbia itu pun telah beraksi dalam turnamen Adelaide International, yang merupakan turnamen pemanasan sebelum turun di Grand Slam pembuka musim di Australian Open pada 16 Januari 3023.

Petenis berusia 35 tahun itu bahkan mendapatkan sambutan hangat ketika menelan kekalahan di pertandingan nomor ganda Adelaide International.

Berita Terkait : Cari Korban Gempa, ESDM Terjunkan Tim Siaga Bencana

“Sangat senang akhirnya bisa kembali, dan bisa melihat penonton memenuhi stadion pada pertandingan pertama saya adalah kejutan yang sangat menyenangkan. Banyak dukungan dan banyak cinta,” kata Djokovic dikutip AFP.

Australian Open tahun lalu dibayangi kontroversi kasus Djokovic yang diusir dari Australia sehari sebelum pertandingan. Kejadian itu menjadi pengalaman terburuk bagi Djokovic.

Berita Terkait : Telepon Anwar Ibrahim , Jokowi Ucapkan Selamat

Tapi, dia mengaku sama sekali tidak menyimpan dendam dan telah melupakannya. “Itu terjadi 12 bulan lalu, sudah lama. Saya telah melupakannya dan menatap ke depan.”

“Tak ada alasan bagi saya untuk fokus ke sana. Jika Anda berfokus terhadap hal-hal negatif, maka itulah yang akan terjadi. Jadi saya tidak ingin seperti itu,” tutup Djokovic.