Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Petenis Kazakhstan Elena Rybakina menjuarai US Open 2026 setelah mengalahkan juara bertahan Aryna Sabalenka 6-4, 5-7, 6-2 pada final di Arthur Ashe Stadium, New York, kemarin.
Kemenangan dalam laga selama dua jam 21 menit itu sekaligus mengakhiri upaya Sabalenka meraih gelar untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Rybakina sebelumnya telah mengambil alih posisi nomor satu dunia dari Sabalenka setelah petenis Belarus itu menguasainya selama 99 pekan. Gelar US Open menjadi trofi Grand Slam ketiga Rybakina dan membuatnya hanya membutuhkan gelar Roland Garros untuk melengkapi Career Slam.
“Sulit menemukan kata-kata sekarang. Sejujurnya, saya tidak menyangka akan seperti ini,” kata Rybakina dalam seremoni penyerahan trofi, dilansir WTA Tour.
Baca juga : Rakyat Kecil Dapat Bansos & Subsidi, Kelas Menengah Juga Baiknya Diperhatikan
Gelar tersebut juga menempatkan Rybakina sebagai petenis putri ketiga sejak 2000 yang mampu memenangi Australian Open dan US Open dalam satu musim, setelah Angelique Kerber pada 2016 dan Sabalenka pada 2024. Ini merupakan gelar ketiga Rybakina sepanjang 2026 dan yang ke-14 dalam kariernya.
Rybakina memulai final dengan agresif dan mematahkan servis Sabalenka untuk memimpin 3-2 sebelum mengamankan set pertama 6-4. Meski hanya memasukkan 27 persen servis pertama, ia mampu mengimbanginya dengan pukulan yang konsisten dan merebut 85 persen poin dari servis pertamanya.
Sabalenka memperbaiki permainannya pada set kedua dan memanfaatkan kegagalan Rybakina mengonversi dua break point. Setelah menyelamatkan dua set point saat kedudukan 5-5, Sabalenka akhirnya mematahkan servis Rybakina pada gim ke-12 untuk merebut set 7-5 dan memaksakan set penentuan.
Rybakina kembali mengambil kendali pada set ketiga dengan mematahkan servis Sabalenka untuk unggul 2-1. Ia kemudian kembali melakukan break pada kedudukan 5-2 sebelum menutup pertandingan dengan ace ke-12 untuk memastikan gelar US Open pertamanya.
Baca juga : Bromo Kebakaran Lagi, Padang Savana dan Bukit Teletubbies Hangus
“Besok pagi akan terasa sangat berbeda ketika bangun dan tahu bahwa saya baru saja memenangi US Open dan mencapai peringkat nomor satu dunia,” lanjutnya.
Perjalanan Rybakina menuju final juga tidak mudah karena ia sempat diragukan setelah mundur dari perempat final Cincinnati saat menghadapi Iga Swiatek akibat cedera. Di New York, ia menyingkirkan unggulan ke-13 Naomi Osaka tanpa kehilangan set, lalu bangkit dari ketertinggalan satu set dalam dua laga berikutnya untuk mengalahkan Zheng Qinwen dan unggulan keempat Coco Gauff.
Kemenangan atas Sabalenka memperpanjang catatan penting Rybakina dalam persaingan mereka karena tiga kemenangan terakhirnya atas petenis Belarus itu terjadi di panggung besar, yakni final WTA Finals tahun lalu, final Australian Open pada Januari, dan final US Open. Rybakina kini memiliki rekor 8-10 melawan Sabalenka di tur Women’s Tennis Association (WTA).
Rybakina juga menjadi petenis putri pertama sejak Serena Williams pada 2002 yang mengalahkan juara bertahan tunggal putri dalam final US Open. Ia sekaligus menjadi petenis pertama sejak Williams mengalahkan Victoria Azarenka pada 2012 yang menundukkan petenis nomor satu dunia dalam final US Open.
Baca juga : Jangan Hilangkan Esensi Demokrasi, Jabatan Kades Harus Dibatasi
Bagi Sabalenka, kekalahan itu mengakhiri 19 kemenangan beruntunnya di US Open dan menggagalkan ambisi meraih gelar ketiga berturut-turut. Ia juga untuk pertama kalinya sejak 2022 gagal memenangkan gelar Grand Slam dalam satu musim serta kehilangan kesempatan menjadi petenis putri keenam yang mempertahankan posisi nomor satu dunia selama 100 pekan beruntun. [SAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya