Dark/Light Mode

Wasteco Pertamina Ubah Hidup dari Sampah, Bukan Cuma Jadi Sampah

Senin, 18 Agustus 2025 15:27 WIB
RANDY TRI KURNIAWAN / RM
Foto udara petugas mengoperasikan eskavator di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (13/8/2025). 
Foto udara petugas mengoperasikan eskavator di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (13/8/2025). 

Di tengah stigma sampah kerap dipandang sebelah mata, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) lewat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) unggulannya, Waste to Energy for Community atau Wasteco, berhasil menyulap tumpukan sampah jadi sumber kehidupan.

Program yang dijalankan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, Balikpapan, Kalimantan Timur itu mengolah sampah organik menjadi energi terbarukan berupa gas metana. Gas tersebut disalurkan ke rumah tangga dan usaha kecil sekitar, sehingga tak lagi bergantung sepenuhnya pada LPG 3 kg bersubsidi.

Kolaborasi PHM-bagian dari Subholding Upstream Pertamina Hulu Indonesia (PHI)-bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan dan komunitas masyarakat setempat, menjadikan TPA Manggar sebagai contoh pengelolaan sampah terbaik di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bahkan mengapresiasi sistem ini, menyebut Balikpapan sebagai satu-satunya kota yang terhindar dari sanksi pidana open dumping.

Kepala UPTD TPA Manggar, Mochamad Haryanto, menyebut efek berganda program ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ekonomi. “Poin tambahan TPA Manggar sudah bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metana dari timbunan sampah. Itu mendukung kami meraih Adipura Kencana dua tahun berturut-turut,” ujarnya.

Dampaknya terasa nyata. Pemanfaatan gas metana berhasil memangkas biaya memasak warga hingga Rp456 juta per tahun, dengan iuran gas hanya Rp45,6 juta per tahun. Subsidi LPG juga dihemat, setara 18.240 tabung per tahun. Tak hanya itu, geliat UMKM ikut terangkat dengan omzet kafe dan outlet di sekitar TPA mencapai Rp52 juta per tahun.

Bagi Pengawas TPA Manggar, Suyono, perubahan itu memberi semangat baru. “Alhamdulillah di sini nggak ada baunya ya karena [gas metana] sudah bisa buat masak gorengan. Baunya kita ikat jadi gas metana,” katanya sembari tersenyum. Dengan bangga ia menegaskan, “Saya bangga hidup dari sampah, bukan cuma jadi sampah.”

Selain menghidupkan dapur warga, program Wasteco juga menyumbang besar bagi lingkungan. Setiap tahun, emisi gas rumah kaca berkurang hingga 100.651,70 ton CO2eq, dengan volume pemanfaatan gas metana mencapai 820.800 meter kubik. Berdasarkan kajian Social Return on Investment (SROI) Pertamina bersama Unpad pada 2024, rasio manfaatnya tembus 1 : 15,63—artinya, setiap satu rupiah investasi menghasilkan nilai sosial lebih dari lima belas kali lipat.

Sampah yang selama ini dianggap masalah, di tangan Wasteco justru berubah jadi energi, ekonomi, sekaligus kebanggaan masyarakat Balikpapan.