Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- J&T Express Buka Mini Drop Point di Terminal 2E Bandara Soekarno-Hatta
- Pramono Ogah Mau Buru-buru Putuskan CFD Jakarta Digelar 2 Kali Sepekan
- Herindra Resmi Pimpin PB ESI, Targetkan Indonesia Jadi Kekuatan Esports Asia
- Liverpool Vs Spurs, Robertson Reuni ke Anfield
- Akademisi Dukung Menteri Bahlil Tahan Harga Pertalite
M QORI HALIANA / RM
Senin petang, 14 September 2026, sekitar pukul 18.30 WIB. Di atas riuh dan gemerlap Jakarta, seiris bulan sabit dan sebuah bintang menggantung di langit, seperti dua titik cahaya yang diam-diam mengajak mata berhenti sejenak dari kesibukan dunia.
Jauh sebelum dikenal sebagai lambang yang lekat dengan dunia Islam, bulan sabit dan bintang telah menempuh perjalanan panjang sejarah. Keduanya telah dikenal sejak masa sebelum Islam, antara lain dalam sejarah Byzantium dan tradisi Yunani Kuno yang mengaitkannya dengan Dewi Artemis/Diana.
Berabad-abad kemudian, melalui Kekaisaran Ottoman (Kekhalifahan Utsmani), bulan sabit dan bintang perlahan memperoleh makna baru dan semakin lekat dengan identitas budaya dunia Islam. Setelah penaklukan Konstantinopel pada 1453, pengaruh Ottoman yang membentang luas turut menjadikan simbol tersebut dikenal sebagai representasi Islam di mata banyak orang.
Tapi langit malam selalu mengajarkan satu hal: cahaya tidak pernah bertanya dari mana ia berasal. Bulan tetaplah bulan, bintang tetaplah bintang. Makna yang kita sematkan, adalah perjalanan panjang sejarah, budaya, dan cara manusia memandang dunia.
Malam ini, di langit Jakarta, keduanya kembali hadir, bukan sekadar sebagai simbol, melainkan sebagai keindahan kecil yang mengingatkan kita bahwa sejarah pun, seperti langit, selalu menyimpan lapisan-lapisan cerita.
Naskah : Muhammad Rusmadi
Tags :
Foto Lainnya