BREAKING NEWS
 

Kebijakan Gubernur Jawa Barat Tuai Kritikan, Larangan Studi Tur Dinilai Rugikan Industri Pariwisata

Hariyadi Sukamdani: Studi Tur Itu Pilihan, Tak Boleh Diintervensi

Reporter : NANA MAULANA
Editor : DEDE HERMAWAN
Jumat, 25 Juli 2025 07:50 WIB
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Industri Pariwisata (GPIP) Hariyadi Sukamdani. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/RM.id)

 Sebelumnya 
Ada larangan studi tur bagi seko­lah yang diterapkan oleh Gubernur Jawa Barat, apakah memang ada pengaruh bagi dunia usaha pari­wisata?

Iya, berpengaruh terhadap tujuan wisata di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur sampai Bali itu ada efeknya di sana. Jadi, larangan itu sebetulnya menurut saya kurang pas.

Adsense

Apa alasannya?

Studi tur itu kan opsional, boleh berangkat, boleh tidak. Padahal, kegiatan ini sangat bagus untuk anak-anak sekolah karena menambah wa­wasan. Kami sangat menyayangkan kenapa harus ada larangan seperti itu.

Baca juga : Saleh Partaonan Daulay: Pengusaha Dan Pemerintah Harus Duduk Bareng

Alasan utama larangan ini sering­kali disebut untuk menghindari beban orang tua. Bagaimana tang­gapan Anda mengenai hal tersebut?

Kalau memang dasar larangan itu dianggap memberatkan orang tua, kembali lagi saya tegaskan, itu kan opsional. Setiap sekolah punya per­satuan orang tua, murid, dan guru. Ini tidak pas, kenapa harus ada intervensi seperti itu. Kalau anak tidak ikut pun tidak apa-apa. Ini kan namanya op­sional, artinya boleh ikut, boleh tidak, dan itu menambah wawasan. Kalau seperti ini, itu sama saja mengotak-kotakkan masyarakat atau anak didik, khususnya di Jawa Barat sendiri.

Apakah fenomena ini hanya ter­jadi di Jawa Barat, atau meluas ke daerah lain?

Nah, yang kami sesalkan, ini me­nyebar ke mana-mana. Kepala daerah lain ikut-ikutan. Banyak yang ikut-ikutan, seperti yang saya dengar di Sumatera Selatan juga seperti itu. Ini tentu kurang pas.

Baca juga : Puan: Jangan Sampai Ada Pihak Dirugikan

Seberapa besar kontribusi sek­tor studi tur terhadap industri pariwisata?

Kalau secara nilainya, saya tidak punya datanya. Namun, dari beberapa sampel yang kami dapat laporannya, misalnya di Yogyakarta, studi tur ini termasuk favorit untuk tujuan wisata. Beberapa hotel di sana sudah me­nyampaikan bahwa mereka terpengaruh, ada penurunan.

Berapa besar penurunannya?

Penurunannya tidak signifikan, arti­nya tidak sampai membuat penurunan besar, tapi penurunan okupansi itu ada, destinasi juga begitu. Jadi, dam­pak itu ada, tapi yang lebih disesalkan itu kan dalam rangka menambah wawasan si murid.

Baca juga : Pemerintah Fokus Jaga Daya Beli Dan Ketahanan Industri

Lantas, apa harapan GIPI ke depannya terkait kebijakan ini?

Saya harap jangan sampai mengotak-kotakkan seperti itu, karena ini kan memang keperluan untuk pendidikan juga. Ini namanya studi tur, artinya tur untuk belajar, bukan sekadar tur untuk main-main saja. Dan ini sebenarnya seakan mengotak-kotakkan Indonesia. Dulu sempat Jakarta juga Pak Pramono Anung sempat mengeluarkan kebi­jakan seperti itu, tapi sekarang sudah hilang sendiri. [NNM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense